Selasa, Oktober 17, 2006

Belajar tentang Islam


Assalamualaikum, pak ustadz.

Berkaitan dengan jawaban pak ustadz mengenai pertanyaan ahli sunnah wal jamaah yang mana, ada jawaban pak ustadz yang menarik hati saya. Saya kutip; "Bahwa para ulama itu ternyata berlatar belakang suatu kelompok, asalkan dia ahli di bidangnya dan tetap berlaku profesional dengan ilmunya, tentu tidak mengapa. Tetapi yang kami tekankan di sini, belajar mendalami ilmu-ilmu keIslaman secara intensif, mendalam dan kontinyu, justru lebih cepat mengantarkan anda kepada ilmu-ilmu keIslaman. Dan kalau arahnya memang kepada belajar syariah, menjadi penting dari sekedar ikut-ikutan berbagai kelompok yang ada."

Kebetulan saat ini saya sedang tertarik mendalami agama Islam setelah hampir 30 tahun saya menjalani agama Islam hanya karena keturunan. Terus-terang saya bingung dengan banyaknya aliran dan kelompok-kelompok tersebut. Saya ingin belajar mendalami ilmu-ilmu ke-Islaman secara intensif, bagaimanakah caranya? Sedangkan kalau saya harus sekolah rasanya sudah tidak mungkin karena basic ilmu saya teknik dan saya sudah bekeluarga. Ke mana saya bisa belajar ilmu-ilmu Islam seperti itu terlepas dari kelompok-kelompok itu? Jika ada ustadz yang bisa mengajarkan privat, saya mohon infonya. Ilmu apa dulu yang harus saya pelajari? Seandainya ada kursus singkat, ke mana saya bisa mendaftar? Saya tinggal di Bandung.

Elis
loeni at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kami seringkali menemukan kasus yang seperti anda utarakan. Dan tentunya selama ini sudah jadi bahan pemikiran kami.

Di satu sisi kami sangat berbahagia bila mendapati begitu besarnya antusiasme umat ini dalam mempelajari agama, khususnya masalah syariah. Ini menunjukkan kesadaran umat ini sudah sedemikian besar. Dan ini sungguh membahagiakan.

Namun kebahagiaan ini seringkali juga harus bermuara kepada kekecewaan. Sebab ternyata umat ini belum mampu menyediakan sarana pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu syariah secara massal namun tetap berkualitas.

Kami paham sekali keterbatasan para ustdz dan ulama dalam memberikan sarana pengajar ilmu syariah. Di samping jumlah mereka yang tidak terlalu banyak, sementara yang harus dilayani terlalu besar, juga kita masih berkutan dengan sekian banyak kendala teknis lainnya.

Misalnya, umat Islam yang tertarik belajar itu umumnya adalah orang yang bukan pengangguran, tetapi mereka adalah orang yang setiap hari waktunya sudah habis di tempat kerja dan lainnya. Boleh dibilang, 7 hari dalam seminggu itu sudah dipenuhi dengan berbagai adenda rutin yang sulit begitu saja ditinggalkan.

Karena itu kami dan teman-teman di Eramusim sudah lama memikirkan solusi yang bisa menyelesaikan semua masalah itu. Dan akhirnya kami menjatuhkan pilihan untuk memanfaatkan media teknologi informasi sebagai solusi.

Bentuknya adalah sebuah kampus digital yang bersifat online, bisa diakses lewat internet 24 sehari, 7 hari dalam seminggu dan 365 hari dalam setahun.

Seluruh muslimin dari seluruh penjuru dunia, bisa kuliah di kampus online ini. Bahkan kami menerapkan kebijakan bahwa sebisa mungkin semua kegiatan belajar mengajar dilakukan cukup lewat internet saja. Sehingga tidak ada lagi buang-buang waktu, energi, uang, atau source lainnya dengan percuma.

Bahkan program kuliah ini dikemas agar bisa mulai diikuti kapan saja, tanpa menunggu masa pendaftaran. Bahkan tengah malam jam 00.00 pun bisa langsung mendaftar sekaligus langsung kuliah. Tidak ada antrian berjam-jam untuk sekedar dapat formulir pendaftaran, juga tidak ada test ini itu yang pada dasarnya tidak ada gunanya juga, cuma sekedar gagah-gagahan. Atau sekedar mengeleminasi mahasiswa yang dianggap bodoh. Yang penting, siapa yang punya kemauan untuk kuliah, dia punya kesempatan selebar-lebarnya.

Kuliah ini pun kami kemas agar tetap bisa dijalankan meski seseorang berada di mana saja di muka bumi ini. Kami bahan membayangkan seorang sopir bus antar kota yang boleh dibilang hidupnya 'nomaden' berpindah dari satu kota ke kota lain, tetap bisa mengikuti kuliah syariah ini. Bahkan seorang astronot yang sedang mengorbit di ruang angkasa pun tetap bisa terus kuliah dengan program ini.

Meski yang muncul hanya apa yang ada di layar komputer, namun bukan berarti kuliah ini seperti hanya membaca buku. Sebab setiap mata kuliah yang diajarkan juga tetap ditangani oleh dosen-dosen yang juga online. Mereka tetap bisa diajak diskusi, dialog dan tanya jawab atas hal-hal yang belum dikuasai. Layaknya sebuah perkuliahan di dunia nyata.

Bahkan tanya jawab dengan dosen bisa lebih besar kesempatannya, karena tiap mahasiswa punya account sendiri secara pribadi, di mana dia bebas menanyakan masalah apa saja yang terkait dengan perkuliahan.

Bahkan kami tetap ingin memberikan kemudahan dalam memberikan penilaian. Karena untuk mengevaluasi hasil perkuliahan, modul-modul itu dilengkapi dengan soal-soal latihan. Yang menarik, soal-soal itu bersifat online, sehingga bisa langsung dijawab dan nilainya bisa langsung keluar. Maka tidak adal lagi cerita para mahasiswa capek menunggu hasil ujian, karena dosennya belum sempat mengoreksi jawaban. Nilai ujian saat itu juga keluar seiring dengan di-kliknya tombol jawaban.

Bila kurang puas dengan nilai ujian yang didapat, ada menu untuk ujian susulan, sebagaimana yang biasa dilakukan para mahasiswa untuk memperbaiki nilai.

Salah satu visi metode perkuliahan ini adalah fleksibilitasnya yang tinggi. Bila seorang mahasiswa dengan alasan tertentu sibuk tidak bisa aktif mengikuti perkuliahan, maka dia bisa cuti secara otomatis, tanpa harus sibuk mengurus kesana kemari. Begitu sudah ada waktu lagi, tinggal meneruskan saja cukup dengan menekan satu tombol. Beres!

Bagaimana dengan biaya?

Niat awal kami adalah para mahasiswa bukan hanya gratis, tetapi mendapat beasiswa. Sebagaimana yang sekarang ini bisa berjalan di Al-Azhar University Mesir. Lembaga itu bukan milik pemerintah, tidak ada kucuran dana apa pun, tetapi sudah 1000 tahun ini eksis menghidupi dirinya bahkan 'menggaji' semua mahasiswa yang kuliah di sana.

Rahasianya karena Al-Azhar punya aset-aset produktif yang telah diwakafkan oleh para aghniya' (orang kaya) di Mesir sepanjang zaman. Pabrik, industri, properti, pasar, bebagai perusahaan sudah berstatus waqaf untuk lembaga kebanggaan muslim sedunia ini. Bahkan mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana tidak kurang dari 3.000 orang. Tidak ada satu pun yang bayaran, sebaliknya malah dapat bea siswa.

Alangkah nikmatnya bila kita bisa mengikuti jejak Al-Azhar As-Syarif itu, sayangnya kesadaran orang kaya muslim di negeri ini masih menuntut kesabaran kita. Di tengah banyaknya orang yang berlomba bikin masjid, atau meramaikan berbagai macam seremoni rutin tahunan, mulai dari Maulid nabi, Isro' Mi'roj, Nuzulul-Quran, Halal- bi halal dan seterusnya, sayang cita-cita besar mendirikan kampus online ini belum banyak dilirik.

Sehingga kami masih harus memikirkan pengeluaran dana, untuk sekedar bisa eksis terus. Karena itu dengan sangat terpaksa, dari para mahasiswa masih dimintakan kontribusi pahala lewat sistem pembayaran. Tetapi tetap diupayakan seringan mungkin, jauh di bawah biaya kuliah konvensional tentunya. Sementara kami tetap harus mengeluarkan banyak biaya untuk menjamin berlangsungnya perkuliahan ini.

Kami telah mengupayaan agar kuliah ini bukan sekedar main-main, namun juga mendapat pengakuan dari institusi berwenang seperti departemen Agama RI. Agar luluasan dari perkuliahan ini diakui sebagai sarjana strata 1 penuh. Alhamdullillah dengan berbagai kerjasama yang digalang, semua mahasiswa di perkuliahan ini bisa mendapatkan kesempatan mengkuti ujian persamaan dengan mentranskrip nilai. Sehingga tetap bisa nantinya mendapatkan gelar SHI (sarjana Hukum Islam) dan bisa diakui di jenjang kuliah selanjutnya (S-2) di lembaga lain.

Untuk itu, bila anda tertarik, kami mengundang anda untuk bergabung bersama 2000-an mahasiswa lain yang sudah mendaftar. Silahkan klik http://kampus.eramuslim.com dan selamat kuliah, semoga Allah SAW menambahkan ilmu anda dan berguna di dunia dan di akhirat. Amien.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Tidak ada komentar: