Rabu, November 07, 2007
Sedikit Tertawa dan Banyak Menangis
” Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. ” (QS At-Taubah[9]:82). “dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis. ” (QS An-Najm[53]: 43)
Allah SWT telah memberi karunia perasaan hati atau emosi kepada kita. Emosi akan bereaksi oleh sesuatu yang dilihat atau dirasakan. Diekspresikan dalam dua bentuk perasaan, yaitu kegembiraan dan kesedihan yang biasanya diikuti dengan kemarahan. Kegembiraan yang berlebihan maupun kesedihan yang mendalam apabila tidak dikendalikan akan menyebabkan luapan emosi. Kita harus bersikap wajar dalam menanggapi sesuatu hal, tidak emosional dan menghadapinya dengan tenang dan lapang dada.
Fenomena yang ada di masyarakat saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Orang dengan mudah melampiaskan emosi. Oleh suatu hal kecil yang tidak berkenan, timbul tindakan berlebihan karena kemarahan atau kekecewaan. Sebagai contoh, saat terjadi penggusuran oleh aparat yang berwenang. Aparat melampiaskan emosinya dengan bertindak secara keras di tengah isak tangis korban penggusuran yang melakukan perlawanan secara keras pula. Hal yang sering dijumpai pula adalah pendukung tim sepakbola yang kecewa karena tim yang didukungnya kalah. Pelampiasan kekecewaan dilakukan dengan merusak sarana umum yang merugikan orang banyak.
Masing-masing pihak menuruti hawa nafsu semata, dan mengabaikan hati nurani. Hanya keteguhan iman yang akan membuat seseorang bisa menguasai emosinya dalam setiap kejadian dengan izin Allah SWT.
Dengan iman yang teguh, semua qadha dan qadar akan diterima. Harus disadari, dalam dinamika kehidupan, kita akan selalu mengalami siklus suka dan duka, puas dan kecewa, sehat dan sakit, menang dan kalah, tertawa dan menangis sesuai kehendak-Nya. “ (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kamu “ (QS Al-Hadiid[57]: 23).
Rasulullah SAW bersabda, “Dua mata yang tidak akan terkena api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga dijalan Allah.” Menangis yang dimaksud dalam hadis di atas bukan tangis cengeng tanda putus asa. Namun, menangis karena Allah SWT, yang merupakan indikator kelembutan hati dan kepekaan jiwa. Tangisan yang ditimbulkan oleh getaran-getaran keimanan dalam sanubari. Terkadang kita sulit menangisi dosa dan kesalahan atau tidak menangis karena tidak menyadari betapa tidak berdayanya kita di hadapan kebesaran dan keagungan-Nya.
Pada saat suatu keinginan dapat tercapai, acapkali kita terlena, kegembiraan dirasakan. Tertawa terbahak diekspresikan. Tidak disadari bahwa apa yang telah dicapai merupakan karunia Allah SWT. Seyogyanya rasa syukur harus diungkapkan, tidak sekedar mengucapkan: “Alhamdulillah”. Karunia yang diberikan atas keinginan yang tercapai harus dimanfaatkan di jalan-Nya. Allah menjanjikan akan menambah nikmat jika kita bersyukur. ” Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim[14]: 7)
Tertawa berlebihan akan mematikan hati nurani. Tertawa yang baik adalah yang dicontohkan oleh Rasulullah, ” Aku tidak pernah melihat Rasulullah berlebih-lebihan ketika tertawa hingga terlihat langit-langit mulut beliau, sesungguhnya (tawa beliau) hanyalah senyum semata. ” (HR Bukhari).
Mengapa Palestina Kelihatan Lemah?
Ustadz yang dirahmati Allah,
Dari awal sejak Isreal menjadi negara (bahkan mendapat dukungan AS), Palestina seakan menjadi bulan-bulanan Israel. Sering kita melihat ketidakadilan dunia dengan menutup-nutupi fakta pembunuhan (pelanggaran HAM berat) yang dilakukan Israel.
Ustadz, kadang hati saya menjadi gemas, atau bahkan meradang ketika mendengan warga Palestina tak berdaya dianiaya Israel. Tapi, yang menjadi pertanyaan besar dalam hati saya dan sampai sekarang belum terjawab adalah: Mengapa seolah Palestina begitu lemah? Dibombardir, ditangkapi pemimpinnya, direbut wilayahnya. Apakah Palestina memang tidak mempunyai kekuatan militer untuk mebalas serangan Israel? Apakah Palestina tidak memiliki kekuatan senjata?
Mengapa justru yang melakukan pembalasan adalah kekuatan perlawanan (HAMAS). Di manakah kekuatan pemerintahan Palestina sesungguhnya? Seberapa besar kekuatan pertahanan mereka? Apakah selamanya Palestian hanya akan menngharapkan bantuan dari negara-negara Islam lainnya?
Saya sangat tersayat melihat penderitaan rakyat Palestina, tapi melihat tidak adanya perlawanan balasan dari militer Palestina, saya jadi ikut pasrah. Mohon dijawab ustadz, agar saya kembali bersemangat membela saudara kita di Palestina. Mohon maaf bila kurang berkenan.
Wassalamualaikum wr wb
Elmant
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ketika Israel menjajah Palestina pertama kali, ada ketidak-seimbangan yang luar biasa.
Israel datang dengan membawa Talmud, sementara Palestina tidak pakai Al-Quran. Israel mengatas-namakan tuhan dalam berperang, sementara Palestina tidak mengatas-namakan Allah dalam melawan. Israel membawa serta 20 juta kekuatan yahudi di seluruh dunia dalam perang ini, sementara Palestina melupakan potensi1.500 juta um at Islam sedunia.
Israel bercita-cita mendirikan negara yahudi di dunia, sementara Palestina sibuk mengkotak-kotakknya umat dalam negara yang sempit. Israel berjuang atas nama agama, sementara Palestina berjuang atas nama nasionalisme sempit.
Maka ketika Palestina keok di depan yahudi Israel, banyak orang menganggukkan kepala sambil mengatakan, "Pantas saja kalah, ternyata kasusnya begitu" Dan kenyataannya memang Paletina tetap akan terus kalah kalau berjuang tidak atas nama Islam.
Barulah setelah ada gerakan Intifadhah tahun 1987 yang dipelopori oleh Harakah Muqawamah Islamiyah (HAMAS), umat Islam di Palestina seakan tersentak kaget. Ternyata perjuangan mereka lewat nasionalisme sempit yang selama ini mereka percayakan tidak menghasilkan apapun. Alih-alih mengusir penjajah, justru wilayah Palestina semakin hari semakin berkurang.
Rupanya kalau mereka mengatas-namakan Islam, bantuan akan mengalir dari seluruh umat Islam. Bukan lewat Goverment (G to G) tapi dari rakyat dunia Islam keumat Islam Palestina. Dan diplomasi curang yang selama ini secara timpang merugikan rakyat Palestina, ternyata harus diimbangi dengan jihad dan perlawanan bersenjata.
Rupanya selama ini Palestina lupa bahwa Yahudi paling takut dengan perlawanan pisik. Selama ini sebagian pemimpin negara Palestina berpikir bahwa yahudi akan jujur di meja perundingan. Ternyata ijtihad mereka salah. Justru Palestina dilumat habis di meja perundingan, kalah total dan bangkrut.
Sekarang ini Palestina baru sadar bahwa mengusir yahudi tidak bisa dilakukan di atas meja perundingan, tetapi harus di medan tempur yang sesungguhnya. Sejakanak-anak Palestina bisa melempari tentara yahudi dengan batu, sejak itu pula yahudi Israel berpikir sepuluh kali setiap kali ingin menguasai jengkal demi jengkal tanah Palestina.
Apalagi sekarang ini anak-anak itu sudah besar dan bisa meledakkan pusat-pusat kerumunan yahudi. Yahudi semakin mikir dan semakin ciut nyalinya. Dan hasilnya sungguh luar biasa. Israel sudah sangat berkurang kekuatannya. Bahkan teman-teman mereka di beberapa dunia pun ikut mulai mikir untuk tidak jadi pindah ke wilayah pendudukan.
Perkembangan yang terbaru, pejuang Palestina sudah bisa membuat roket jarak dekat yang bisa langsung meratakan pemukiman yahudi ilegal dengan tanah. Meski masih belum terlalu diekspose media, namun tamu kita kemarin, Dr. Nawwaf bercerita bahwa roket-roket itu sudah bisa direkayasa untuk ditembakkan tepat langsung ke jantung Tel Aviv, Allahu Akbar.
Lalu apa peran pemerintah Palestina?
Sebagaimana kita sudah maklum, bahwa nyaris hampir semua pemerintahan di negeri Islam adalah pemerintahan yang kurang dekat dengan umat Islam. Kebanyakan mereka merupakan 'boneka' mainan kekuatan yahudi juga juga ujung-ujungnya. Tidaklah sekelompok orang menduduki jabatan di dalam pemerintahan suatu negeri Islam, kecuali atas restu dan ridha dari musuh-musuhnya.
Bahkan secara ekonomi pun nyaris semua negeri Islam sangat tergantung kepada kekuatan ekonomi negeri yang memusuhinya. Hutang melilit, ketergantungan ekonomi sampai ketergantungan masalah hukum, pendidikan, teknologi, peralatan militerdan seterusnya.
Semua yang dialami negeri Islam kurang lebihnya juga dialami oleh pemerintahan Palestina. Mereka amat tergantung dari keramahan musuh-musuhnya.
Tapi lain pemerintah lain rakyat. Kalau pemeritahnya taukut kehilangan kursi dan jabatan serta subsidi, maka rakyat tidak berpikir resiko apa-apa. Maka di mana-mana, kekuatan rakyat muslim yang berbicara. Lihat saja, Pemerintah Libanon diam seribu bahasa ketika negerinya diterjang roket. Yang maju menyerang justru Hizbullah. Demikian juga pemerintah Mesir, yang maju di masa lalu adalah 10.000 orang pasukan Ikhawanul Muslimin yang bukan pasukan resmi.
Bantuan kepada rakyat Palestina sekarang ini yang dikirimkan Indonesia juga bukan dari APBN, tapi dari umat Islam yang notabene sebagai rakyat.
Inilah realitanya yang kita perlu pahami sejak dini. Makanya sekarang kita sebagai rakyat, rasanya bukan waktunya lagi bicara agar Pemerintah secara resmi berjuang, biarkan saja rakyat yang berjuang. Toh kemerdekaan negeri kita sendiri dulu juga bukan hasil perjuangan para elit politik, melainkan karena perjuangan Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Tengku Umar, Tjoet Nja' Dhien, Panglima Polimdan seterusnya. Mereka tidak mewakili pemerintahan, tetapi mewakili rakyat dan ulama.
Dan inilah yang sekarang terjadi di Palestina, rakyat dan ulama yang maju berjuang secara pisik mengusir Israel. Pemerintahannya? Masih sibuk urusan perundingan dan diplomasi.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Rabu, Oktober 24, 2007
Puasa Syawwal
Oleh Fery Ramadhansyah
Rasulullah saw. Bersabda:“ Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian menyertainya berpuasa enam hari di bulan Syawal maka pahalanya sama seperti berpuasa sepanjang hari” (HR Muslim)
Berpuasa enam hari di bulan Syawwal sunnah hukumnya. Dilaksanakan boleh kapan saja selain tanggal satu Syawwal. Karena saat itu merupakan hari kemenangan bagi umat Islam. Dan demi merayakan hari tersebut, Allah mengharamkan hambaNya berpuasa.
Melaksanakan puasa ini tidak harus berurutan. Tidak mesti melakukannya enam hari sekaligus dalam seminggu. Boleh saja berkelang, asal penyelesaiannya masih dalam bulan Syawwal itu juga.
Ada satu hal yang cukup menarik untuk direnungkan dalam masalah ini. Semulanya mungkin kita berfikir kenapa setelah sebulan penuh menjalankan aktivitas puasa, kini ada puasa lagi. Tentu ini memiliki tujuan tersendiri. Karena tidak ada sesuatu yang disyariatkan oleh Allah kecuali di dalamnya ada manfaat.
Jika dilihat dari waktu pelaksanaannya, puasa Syawwal adalah salah satu bentuk follow up pembentukkan muslim menjadi seorang muttaqin yang sejati. Kalau hasil akhir dari pelaksanaan puasa Ramadhan yang lalu adalah takwa maka puasa Syawwal ini merupakan kelanjutan cara Allah membentuk hambaNya agar tetap bertakwa.
Firman Allah swt: Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (QS;2:183)
Ini adalah cara yang tepat untuk membuat seorang muslim tetap berjalan di atas rel ketakwaan dalam menjalani kehidupan. Karena pada dasarnya manusia diciptakan berkeluh kesah (QS. 70:20). Terkadang orang sering melupakan Allah kalau lagi senang. Oleh karena itu, meskipun dalam momentum lebaran yang syarat dengan kegembiraan tidaklah menjadikan kita melupakan Allah.
Tidak ada martabat yang lebih tinggi selain takwa. Seseorang baru dianggap mulia dalam pandangan Allah sesuai dengan ketakwaan yang ia miliki. “…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu…” (QS. 49:13)
Dan dengan takwalah kemakmuran satu bangsa dapat diperoleh. Mungkin inilah kunci yang belum digunakan dalam mengatasi krisis yang berkepanjangan di negara kita. Oleh karena itu keluar dari Ramadhan, dan berada di bulan Syawwal semoga meningkatkan ketakwaan kita. Firman Allah swt: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..” (QS. 7:96)
Konser Black Eyed Peas, DPR, dan Moral Kita
Oleh Rizki Ridyasmara
Tadi malam, konser Black Eyed Peas, kelompok musik R&B asal Boston menggelar konser di Istora Senayan. Tak kurang dari 5000 penonton memadati gedung tersebut, dengan harga karcis di dekat panggung 850 ribu rupiah dan di tribun satu karcis dihargai setengah juta perak. Karcis seluruhnya ludes. Jika ditotal, para penonton telah rela membayar Rp 3. 500. 000. 000 (baca: tiga miliar tigaratus ribu rupiah!) hanya untuk menonton konser selama 90 menit!
Uang segitu sungguh cukup untuk membangun tiga gedung sekolah sederhana yang layak. Atau membuat puluhan ribu anak putus sekolah bisa kembali bersekolah. Tapi, ya kenyataanlah yang berbicara. Kepedulian sosial dan empati terhadap sesama, yang merupakan salah satu cerminan dari keimanan kita memang masih sebatas itu.
Di tengah lautan kemiskinan yang tiap hari kian menjepit leher jutaan rakyat negeri ini, di tengah samudera keputus-asaan yang tiap detik menghimpit harapan jutaan saudara kita, ternyata masih teramat banyak yang tega-teganya menghambur-hamburkan uang untuk hal yang sama sekali tidak bermanfaat.
Mereka, yang menonton konser itu, kebanyakan adalah anak-anak remaja kita. Ketidakpedulian mereka adalah hasil dari didikan yang kita berikan selama ini. Atau jangan-jangan mereka juga meneladani generasi tuanya yang tingkahnya juga sama-sama memuakkan? Bisa jadi.
Untuk mencari contoh kasus yang bisa mewakili hal itu di Indonesia ini teramat mudah. Lihat saja tingkah polah anggota DPR kita, tingkah polah pejabat kita, dari tingkat yang paling atas hingga strata bawah. Sikap tidak perduli pada kemiskinan rakyat, sikap memuakkan mereka, dengan jelas bisa terlihat.
Di tengah kesengsaraan rakyat, anggota DPR yang sudah dijejali aneka fasilitas kemewahan yang berasal dari utak-atik anggaran belanja negara (baca: merampok uang rakyat) masih saja ngotot meminta kenaikan gaji. Padahal gaji mereka sudah lebih dari cukup. Prestasi kerja juga sama sekali tidak ada istimewanya. Sudah demikian, mereka juga mempertahankan uang pensiun seumur hidup, dari hasil kerja cuma lima tahun. Ini sungguh-sungguh memuakkan.
Mereka ini hanya memikirkan cara untuk memperkaya diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya, ketimbang menunaikan amanah rakyat. Memang, tidak semuanya yang demikian. Tapi itulah gambaran umum, mayoritas, anggota DPR kita. Malah yang menyesakkan dada, banyak pula orang-orang yang tadinya tulus dan ikhlas, ketika menjadi anggota DPR tak kalah rakusnya dengan yang memang sudah rakus. Bukannya mewarnai, mereka malah ikut terwarnai. Mengenaskan, memang.
Para pejabat kita, termasuk anggota DPR, telah lama sudah lupa bahwa tugas utamanya adalah melayani kepentingan rakyat dan menunaikan amanah para pemilihnya. Sama sekali bukan untuk memperkaya diri sendiri. Sama sekali bukan untuk mencari uang untuk sandaran hidup dan sebagainya.
Sistem pemerintahan kita yang korup memang telah berurat berakar ke semua lini dan amat sulit, bahkan sepertinya mustahil, untuk membersihkannya. Amat mungkin, negeri ini memerlukan revolusi, bukan reformasi, untuk membabat habis semua anasir-anasir yang tidak benar, warisan Orde Baru-nya Suharto.
Para penyeru kebajikan, penjaga moral kita, sesungguhnya merupakan tugas para dai, para ustadz, dan para ulama. Namun ironisnya, banyak dari mereka yang juga terinfeksi wabah 'cinta dunia', sehingga mereka sesungguhnya 'Artis yang tengah akting menjadi ustadz', bukan 'Ustadz yang membina para atis'. Atau "politisi yang mengenakan topeng ustadz', bukan 'Ustadz yang selalu mengingatkan politisi'.
Membedakannya sungguh mudah. Jika mereka benar-benar Ustadz, Dai, atau Ulama, maka mereka akan menolak segala fasilitas mewah yang diambil dari uang rakyat. Mereka akan menolak pemberian kendaraan dinas mewah, menolak diberikan uang ini dan itu yang sesungguhnya bukan prestasi tapi memang kewajiban mereka (misal uang kehadiran rapat atau uang kehadiran acara luar kota), menolak uang pensiun seumur hidup (karena memang tidak layak), dan sebagainya. Mereka akan tetap pergi bekerja di gedung parlemen dengan kendaraan milik pribadi, atau jika tidak punya maka naik kendaraan umum. Ini baru jempolan. Berapa persenkah yang seperti ini?
Anak-anak muda kita, yang tidak perduli dan tidak memiliki empati terhadap sesamanya, merupakan wajah lain dari kelakuan generasi tuanya. Mereka merupakan cerminan dari diri kita sendiri.
Bersyukurlah jika kita sekarang ini mampu untuk hidup dan menghidupi keluarga tidak mengandalkan utak-atik uang anggaran (baca: uang rakyat). Bersyukurlah jika kita sekarang ini bisa hidup dan menghidupi keluarga dari hasil keterampilan yang kita miliki. Bersyukurlah, walau jumlahnya mungkin tidak sebanyak yang diterima anggota DPR dan pejabat negara lainnya, uang yang kita dapatkan adalah uang halal. Ini akan membuat kita dan keluarga kita menjadi manusia-manusia yang memiliki hati yang bersih, yang masih memiliki empati yang tinggi.
Bersyukurlah bila sekarang ini kita tidak termasuk bagian dari sistem yang korup dan sungguh-sungguh menghinakan. Bersyukurlah, jika kita bangun dari tidur kita pagi ini, mendapati kenyataan bahwa kita bukanlah pejabat...
Jangan Tidur Usai Sholat Subuh
Oleh Sigit Indriyono
Selesai makan malam, sambil menikmati istirahat bersama keluarga di rumah, kubuka e-mail inbox. Seorang teman, anggota mail list mengirim e-mail dengan lampiran slide Power Point. Kubuka slide halaman pertama. Judulnya ’Keutamaan Sholat Subuh Berjama’ah di Masjid’. Terdapat penjelasan di bawahnya, disarikan dari buku ‘Misteri Sholat Subuh’ karya DR. Raghib As-Sirjani. Kelihatannya sangat menarik dan bermanfaat. Segera ku-copy untuk dimasukkan dalam folder ibadah dari file-ku. Sehingga bisa dibaca dengan lebih seksama.
Sholat subuh merupakan ibadah yang bagi sebagian orang terasa berat untuk dilakukan di awal waktu. Mereka terbuai oleh nikmatnya tidur. Rutinitas kehidupan kita berupa siklus kantuk, tidur, bangun, dan beraktivitas merupakan karunia nikmat Allah SWT. Suatu sunatullah yang telah dilekatkan pada penciptaan manusia. ''Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. '' (QS An-Naba' [78]: 9). Adzan untuk panggilan sholat Subuh agak berbeda. Ada tambahan ucapan ashsholatu khoirumminan naum sebanyak dua kali yang artinya sholat lebih baik daripada tidur. Beberapa masjid mengumandangkan adzan Subuh dua kali. Adzan pertama sebagai tanda fajr-kadzib sedangkan adzan kedua adalah tanda telah sampainya saat fajr-shodiq. Fajr-shodiq merupakan waktu Subuh yang sebenarnya.
Fajr-kadzib masuk dalam periode sepertiga malam terakhir yang sangat istimewa. Dalam hadis Qudsi, Allah SWT berfirman, bahwa pada saat sepertiga malam terakhir bagi siapa yang bermunajat kepada-Nya akan dipenuhi; yang memohon ampun akan diampuni, yang berdoa akan dikabulkan. Setelah mendengar adzan fajr-kadzib, seyogyanya kita segera bangun tidur, untuk melakukan qiyamul lail, sholat tahajud. Allah SWT menjanjikan kedudukan yang terpuji bagi mereka yang mendirikan sholat tahajud (QS Al-Israa' [17]: 79). Rasulullah SAW mengajarkan doa bangun tidur:''Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya kami akan kembali. '' (HR Bukhari).
Perlu usaha agar kita bisa bangun di akhir malam. Jika sudah terbiasa, akan mudah dan ringan untuk dilaksanakan. Caranya dengan tidur malam di awal waktu dan makan malam secukupnya saja. Di samping itu, menjelang tidur malam kita niatkan akan mendirikan shalat tahajud semata-mata mencari keridhoan-Nya. Tidak lupa berdo’a sebelum tidur yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW: ''Dengan menyebut nama-Mu wahai Allah, aku hidup dan dengan menyebut nama-Mu aku mati. '' (HR Bukhari dan Muslim).
Doa di atas dengan izin Allah SWT akan menjadikan kita selalu dalam penjagaan-Nya dan ingat akan kematian. Kematian bisa datang kapan saja. Mungkin besok, mungkin lusa, atau mungkin pada saat sedang menikmati tidur. Umur kita dan bagaimana kita mati adalah rahasia-Nya. Kita harus selalu siap siaga setiap saat agar saat maut menjemput, dalam keadaan husnul khatimah.
Kubuka slide Power Point tentang keutamaan sholat Subuh berjama’ah di masjid. Beberapa sabda Rasulullah SAW didalamnya, memberikan motivasi untuk senantiasa mendirikan sholat Subuh berjama’ah di masjid. Salah satu di antaranya: “ Berikanlah kabar gembira bahwa barangsiapa yang sering berjalan dalam kegelapan menuju masjid akan mendapatkan cahaya yang sangat terang di hari kiamat “ (HR Abu Dawud, Tirmidzi & Ibnu Majah). Yang dimaksud dengan berjalan dalam kegelapan menuju masjid adalah pergi ke masjid untuk sholat Isya’ dan sholat Subuh secara berjama’ah.
Waktu Subuh hingga matahari terbit adalah waktu yang penuh barokah yang seharusnya kita manfaatkan dengan optimal. Rasulullah SAW memberikan contoh dengan tidak pernah tidur lagi usai mendirikan sholat Subuh di masjid. Berdzikir, tilawah dan tadabbur Al-Qur’an adalah amalan yang bisa dilakukan ba’da sholat Subuh hingga terbit matahari. Banyak dzikir ma’tsurat diajarkan oleh beliau yang bisa diamalkan.
Jika sholat Subuh kita lakukan di masjid secara rutin dan setelahnya tidak tidur. Namun, diikuti dengan amalan di atas hingga matahari terbit, akan banyak keberkahan yang didapatkan. Setelah matahari sepenggalah naik, bisa dilanjutkan dengan sholat dhuha. Semuanya merupakan bekal ruhiyah yang akan memberikan spirit dalam melakukan kegiatan sehari-hari untuk meraih ridho Allah SWT. Kegiatan sebagai pelajar atau mahasiswa, kegiatan berbagai profesi atau keahlian, maupun kegiatan para pensiunan atau purnawirawan dalam mengisi waktu luang yang memberikan manfaat.
Bontang, 10 Syawal 1428 H/ 22 Oktober 2007