Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan

Rabu, Oktober 24, 2007

Puasa Syawwal

Oleh Fery Ramadhansyah

Rasulullah saw. Bersabda:“ Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian menyertainya berpuasa enam hari di bulan Syawal maka pahalanya sama seperti berpuasa sepanjang hari” (HR Muslim)

Berpuasa enam hari di bulan Syawwal sunnah hukumnya. Dilaksanakan boleh kapan saja selain tanggal satu Syawwal. Karena saat itu merupakan hari kemenangan bagi umat Islam. Dan demi merayakan hari tersebut, Allah mengharamkan hambaNya berpuasa.

Melaksanakan puasa ini tidak harus berurutan. Tidak mesti melakukannya enam hari sekaligus dalam seminggu. Boleh saja berkelang, asal penyelesaiannya masih dalam bulan Syawwal itu juga.

Ada satu hal yang cukup menarik untuk direnungkan dalam masalah ini. Semulanya mungkin kita berfikir kenapa setelah sebulan penuh menjalankan aktivitas puasa, kini ada puasa lagi. Tentu ini memiliki tujuan tersendiri. Karena tidak ada sesuatu yang disyariatkan oleh Allah kecuali di dalamnya ada manfaat.

Jika dilihat dari waktu pelaksanaannya, puasa Syawwal adalah salah satu bentuk follow up pembentukkan muslim menjadi seorang muttaqin yang sejati. Kalau hasil akhir dari pelaksanaan puasa Ramadhan yang lalu adalah takwa maka puasa Syawwal ini merupakan kelanjutan cara Allah membentuk hambaNya agar tetap bertakwa.
Firman Allah swt: Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (QS;2:183)

Ini adalah cara yang tepat untuk membuat seorang muslim tetap berjalan di atas rel ketakwaan dalam menjalani kehidupan. Karena pada dasarnya manusia diciptakan berkeluh kesah (QS. 70:20). Terkadang orang sering melupakan Allah kalau lagi senang. Oleh karena itu, meskipun dalam momentum lebaran yang syarat dengan kegembiraan tidaklah menjadikan kita melupakan Allah.

Tidak ada martabat yang lebih tinggi selain takwa. Seseorang baru dianggap mulia dalam pandangan Allah sesuai dengan ketakwaan yang ia miliki. “…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu…” (QS. 49:13)

Dan dengan takwalah kemakmuran satu bangsa dapat diperoleh. Mungkin inilah kunci yang belum digunakan dalam mengatasi krisis yang berkepanjangan di negara kita. Oleh karena itu keluar dari Ramadhan, dan berada di bulan Syawwal semoga meningkatkan ketakwaan kita. Firman Allah swt: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..” (QS. 7:96)

Jumat, September 21, 2007

Hadits Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah

Saya pernah mendengar orang berkata bahwa tidurnya orang berpuasa itu adalah ibadah. Tapi sampai saat ini saya tidak tahu, benarkah hal itu? Kalau memang benar, apakah itu merupakan hadits nabi atau bukan? Dan kalau memang hadits nabi, riwayatnya serta statusnya bagaimana?

Terima kasih atas jawabannya ustadz

Jhons
jhons@yahoo.com

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ungkapan seperti yang anda sampaikan, yaitu tidurnya orang berpuasa merupakan ibadah memang sudah seringkali kita dengar, baik di pengajian atau pun di berbagai kesempatan. Dan paling sering kita dengar di bulan Ramadhan.

Di antara lafadznya yang paling populer adalah demikian:

نوم الصائم عبادة وصمته تسبيح وعمله مضاعف ودعاؤه مستجاب وذنبه مغفور

Tidurnya orang puasa merupakan ibadah, diamnya merupakan tasbih, amalnya dilipat-gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.

Meski di dalam kandungan hadits ini ada beberapa hal yang sesuai dengan hadits-hadits yang shahih, seperti masalah dosa yang diampuni serta pahala yang dilipat-gandakan, namun khusus lafadz ini, para ulama sepakat mengatakan status kepalsuannya.

Adalah Al-Imam Al-Baihaqi yang menuliskan lafadz itu di dalam kitabnya, Asy-Syu'ab Al-Iman. Lalu dinukil oleh As-Suyuti di dalam kitabnya, Al-Jamiush-Shaghir, seraya menyebutkan bahwa status hadits ini dhaif (lemah).

Namun status dhaif yang diberikan oleh As-Suyuti justru dikritik oleh para muhaddits yang lain. Menurut kebanyakan mereka, status hadits ini bukan hanya dhaif teteapi sudah sampai derajat hadits maudhu' (palsu).

Hadits Palsu

Al-Imam Al-Baihaqi telah menyebutkan bahwa ungkapan ini bukan merupakan hadits nabawi.Karena di dalam jalur periwayatan hadits itu terdapat perawi yang bernama Sulaiman bin Amr An-Nakhahi, yang kedudukannya adalah pemalsu hadits.

Hal senada disampaikan oleh Al-Iraqi, yaitu bahwa Sulaiman bin Amr ini termasuk ke dalam daftar para pendusta, di mana pekerjaannya adalah pemalsu hadits.

Komentar Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga semakin menguatkan kepalsuan hadits ini. Beliau mengatakan bahwa si Sulaiman bin Amr ini memang benar-benar seorang pemalsu hadits.

Bahkan lebih keras lagi adalah ungkapan Yahya bin Ma'in, beliau bukan hanya mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr ini pemasu hadits, tetapi beliau menambahkan bahwa Sulaiman ini adalah "manusia paling pendusta di muka bumi ini!"

Selanjutnya, kita juga mendengar komentar Al-Imam Al-Bukhari tentang tokoh kita yang satu ini. Belaiu mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr adalah matruk, yaitu haditsnya semi palsu lantaran dia seorang pendusta.

Saking tercelanya perawi hadits ini, sampai-sampai Yazid bin Harun mengatakan bahwa siapapun tidak halal meriwayatkan hadtis dari Sualiman bin Amr.

Iman Ibnu Hibban juga ikut mengomentari, "Sulaiman bin AmrAn-Nakha'i adalah orang Baghdad yang secara lahiriyah merupakan orang shalih, sayangnya dia memalsu hadits. Keterangan ini bisa kita dapat di dalam kitab Al-Majruhin minal muhadditsin wadhdhu'afa wal-matrukin. Juga bisa kita dapati di dalam kitab Mizanul I'tidal.

Rasanya keterangan tegas dari para ahli hadits senior tentang kepalsuan hadits ini sudah cukup lengkap, maka kita tidak perlu lagi ragu-ragu untuk segera membuang ungkapan ini dari dalil-dalil kita. Dan tidak benar bahwa tidurnya orang puasa itu merupakan ibadah.

Oleh karena itu, tindakan sebagian saudara kita untuk banyak-banyak tidur di tengah hari bulan Ramadhan dengan alasan bahwa tidur itu ibadah, jelas-jelas tidak ada dasarnya. Apalagi mengingat Rasulullah SAW pun tidak pernah mencontohkan untuk menghabiskan waktu siang hari untuk tidur.

Kalau pun ada istilah qailulah, maka prakteknya Rasulullah SAW hanya sejenak memejamkan mata. Dan yang namanya sejenak, paling-paling hanya sekitar 5 sampai 10 menit saja. Tidak berjam-jam sampai meninggalkan tugas dan pekerjaan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kamis, September 13, 2007

Ikhlas Puasa

Oleh Hafizh Kharisma

Suara si sulung terus terdengar di telinga.berulang -ulang..
“bangunin elva jam 3 pagi besok ya Mah?”
dengan heran saya bertanya “buat apa? Mau tahajud ya?” saya setengah menggoda. Ini bukan kebiasaannya. Sambil melirik ke jam dinding yang menunjukkan pukul 20. 40 WIB saya kembali menyambung pertanyaan tanpa menunggu jawabannya.

“Kalau memang mau tahajud ya bobo aja sekarang.. dan ntar tengah malam pasti mama bangunin buat solat. Ga perlu nunggu jam 3 pagi”
Dengan malu-malu dia mendekat pada saya dan berbisik..
“Tapi teteh mau sahur besok, bayar utang puasa sehari tahun lalu. Waktu teteh sakit. Inget ga Mah?”

Dada ini langsung bergemuruh… saya yang sedang asyik larut dalam sinetron langsung berbalik dan menatapnya. Mata bulatnya yang bening dengan bulu mata lentik itu telah menghadirkan tangis haru di hati saya. Saya merentangkan kedua tangan saya dan tanpa menunggu lama dia pun luruh dalam pelukan saya. Saya mendekapnya kuat-kuat dan berharap dunia berhenti sesaat agar waktu untuk ini menjadi lebih lama.

“Mama lupa kalo teteh punya hutang puasa. Untung aja teteh inget. Tapi teteh kan sekolah siang.. nanti kelaparan dan kehausan di sekolah gimana?” Tanya saya setengah meragukan keseriusannya untuk puasa.
“Ga papa.. nanti istirahat di kelas aja. Ga usah keluar kelas. ” Jawabnya mantap dan penuh keyakinan.

Saya kembali memeluknya. Bangga memiliki dia sekaligus juga malu karena sebagai orang tua terlupa mengingatkannya.

Sesungguhnya Ramadhan memang bulan yang ditunggu tunggu seluruh umat muslim untuk mejalankan ibadah puasa. Bulan di mana kita tidak sekedar menahan lapar dan dahaga tetapi juga bulan penuh pelajaran berharga bagi kaum yang mau berpikir. Kewajiban orang tua juga lah membimbing anak-anaknya untuk belajar berpuasa dan menjalankan kewajibannya. Mengingatkan mereka makna dari puasa yang bukan sekedar tidak makan dan minum dari subuh sampai magrib tetapi puasa merupakan upaya menahan hawa nafsu, upaya berpikir jernih manakala perut kosong dan upaya menahan kesabaran untuk mengumbar segala keinginan. Tidak mudah memang menerangkan dengan bahasa sederhana yang bisa ditangkap oleh anak-anak.

Sejujurnya sebagai orang tua saya pernah merasakan berat melepaskan si kecil untuk berpuasa sehari penuh. Usianya baru akan mencapai 5 tahun kala itu. Ketika adan dhuhur berkumandang, saya memanggilnya untuk makan dan kemudian kembali meneruskan puasa sampai maghrib. Puasa ayakan kami menyebutnya.

Sebagai tahapan untuk belajar puasa sehari penuh dan agar perut kecilnya tidak sakit. Tapi dia menolak makan siang yang saya tawarkan meski saya membujuknya dan mengatakan bahwa dia bisa kembali berpuasa sampai maghrib. Sampai akhirnya saya mengalah dan berpikir bahwa nanti adan ashar dia pasti akan buka puasa juga. Tapi entah kenapa si kecil tetap berusaha bertahan untuk tidak berbuka puasa walau saya lihat wajahnya sudah pucat dan badannya terlihat lemas. Sampai menangis saya membujuknya untuk berbuka puasa. Dia tetap bertahan dan akhirnya tertidur dalam pelukan saya. Disatu sisi saya senang anak-anak dengan kemauan sendiri menjalankan ibadah puasa tapi disisi lain, hati saya sebagai ibu tak bisa berbohong bahwa ada rasa sedikit tidak rela melihatnya seperti ini. Ini ujian bagi saya selaku orang tua berkenaan dengan rasa ikhlas. Tidak ada yang mudah dalam menjalankan ibadah bila kita tidak bersungguh-sungguh berserah pada Allah SWT.

Namun ketika semua kita pasrahkan pada kehendakNya maka kita akan melihat dengan cara yang berbeda. Jalan di depan terbuka lebar, kita melangkah dengan penuh keyakinan dan segalanya menjadi lebih mudah. Kuncinya adalah ikhlas. Ketika saya tidak sepenuhnya ikhlas melepas si kecil puasa sehari penuh maka yang terasa adalah seperti ada beban ketika melihat si kecil lemas. Namun ketika melihat keikhlasannya menjalankan puasa dan hati saya mulai ikhlas mempercayai kemampuan dan kemauannya maka yang ada adalah kebanggaan. Ramadhan selalu mengajarkan hal-hal baru bagi kami sekeluarga.

Ramadhan telah di depan mata. Saya menyambut bulan ini dengan berusaha membuka mata hati dan telinga hati lebar-lebar. Membuka hati ini seluas-luasnya untuk bisa mengambil hikmah dan pelajaran berharga yang Allah SWT beri bagi kita. Meski belum menapak di bulan ramadhan namun anak-anak ternyata telah mengajarkan banyak hal pada saya, terutamakewajiban saya sebagai orang tua, bagaimana saya harus menyikapi ramadhan. Semoga ramadhan tahun ini memberi kebaikan lebih banyak lagi dibandingkan tahun sebelumnya. Aamiin.

10 September 2007

Selamat menjalankan ibadah puasa. Mohon maaf lahir & bathin.
Semoga anak-anak kita bisa menangkap makna ramadhan dan selalu merindukan kehadiran ramadhan.

Sabtu, Maret 31, 2007

Puasa Tanpa Baauuu...

Allah SWT memerintahkan puasa pada orang-orang beriman, tujuannya agar mereka lebih bertakwa. Pelaksanaannya di bulan Ramadan dan hari-hari yang telah dianjurkan untuk berpuasa.

Setiap orang yang berpuasa tentunya ingin tetap sehat. Dr. Samuel Oentoro, MS. dari Klinik Nutrifit, menganjurkan agar orang yang menjalankan puasa tetap mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, yaitu sumber karbohidrat, lemak, protein hewani dan nabati serta asupan sumber mineral dan vitamin, saat sahur maupun buka puasa. Dengan demikian, meski sepanjang pagi hingga sore hari tidak makan dan minum, tubuh tetap dalam keadaan sehat dan bugar.

Meski badan dalam keadaan sehat dan bugar, gangguan sosial kerap dialami oleh orang yang sedang berpuasa, yaitu bau mulut.

Hal ini dimungkinkan karena sejak batas imsak saat menjelang subuh hingga berbuka ketika magrib, lambung dalam keadaan kosong. Menurut Dr. Rosa dari Klinik Prorevital, Jakarta, keadaan lambung kosong serta hawanya yang keluar lewat mulut menimbulkan bau tak sedap. Terlebih bila orang itu mengalami sakit maag. Bau yang keluar akan lebih menyengat.

"Sebenarnya dalam keadaan normal saja mulut kita penuh dengan bakteri. Bakteri-bakteri itulah yang menyebabkan bau mulut. Mulut menjadi tidak bau karena terbilas oleh air dan makanan ketika kita tidak berpuasa. Mengonsumsi terlalu banyak makan yang beraroma seperti bawang putih pun mengakibatkan bau mulut," tutur Dr. Rosa.

Resep atasi bau mulut dan badan

Ada beberapa jenis tanaman yang cocok untuk mengatasi bau mulut dan bau badan. Tanaman itu mengandung bahan aktif berbau segar dan bermanfaat mematikan atau mengendalikan pertumbuhan bakteri serta memberikan bau harum bagi tubuh.

Menurut Hj. Sarah Kriswanti S., herbalis asal Bandung, Jawa Barat, tanaman-tanaman itu adalah adas, kapulaga, pegagan, melati, sirih, jeruk nipis, dan kunyit.

Berikut ini cara meramu bahan-bahan tersebut:

1. Bahan: 1 sendok teh adas, 1 cangkir daun beluntas, 2 biji kapulaga, 1 gelas air. Cara Membuat: Bahan direbus dalam wadah tertutup dengan api kecil selama setengah jam, diamkan hingga hangat, lalu diperas. Air perasan tersebut dikumur-kumur lalu ditelan. Ramuan ini untuk 3 kali pemakaian. Lakukan hingga beberapa hari.

2. Bahan: 1 genggam daun beluntas muda. Cara membuat: Daun beluntas dicuci bersih lalu dikukus. Makan sebagai lalap. Lakukan hingga beberapa hari.


3. Bahan: 3 buah jeruk nipis, kapur sirih secukupnya. Cara membuat: Jeruk nipis diiris-iris. Taburkan kapur sirih pada permukaan irisan jeruk nipis tersebut. Kemudian oleskan pada ketiak, biarkan selama 15 menit. Seteiah itu cuci bersih dengan air. Lakukan setiap selesai mandi.

4. Bahan: 8 butir kapulaga, 1 cangkir daun pegagan, 2 gelas air. Cara membuat: Kapulaga yang telah dicuci bersih dihancurkan, kemudian dicampur dengan daun pegagan. Tambahkan air, lalu direbus dalam keadaan tertutup hingga mendidih, selama setengah jam. Tetap dalam keadaan tertutup, rebusan didiamkan hingga terasa hangat, kemudian disaring atau diperas. Air perasan diminum setiap pagi pada saat perut masih kosong. Lakukan hal ini selama beberapa hari.

5. Bahan: 30 buah kuntum bunga melati, 1 gelas air matang. Cara membuat: Bunga melati direndam 1 malam dalam keadaan tertutup dalam wadah plastik atau kaca. Airnya diminum setiap pagi selama lima hari berturut-turut.

6. Bahan: 5 helai daun sirih, 3 gelas air. Cara Membuat: Daun sirih yang telah dicuci bersih direbus dengan air bersih hingga mendidih selama 15 menit. Biarkan rebusan air hingga dingin dalam keadaan tertutup. Gunakan rebusan air sirih untuk kumur-kumur sebanyak 3 kali
sehari. Setiap kali kumur, gunakan 2 sendok makan. Lakukan hal ini hingga beberapa hari.

7. Bahan: 2 jari kunyit, gula aren secukupnya, 1 gelas air. Cara membuat: Kunyit dicuci bersih lalu diparut dan diremas dengan air. Setelah itu tambahkan gula aren, kemudian aduk-aduk hingga rata. Selanjutnya campuran ini diperas atau disaring. Air perasan diminum sekaligus pada malam hari menjelang tidur. Lakukan hal ini selama beberapa hari.

8. Bahan: 15 helai daun muda jeruk nipis, tepung beras secukupnya.Cara membuat: Daun jeruk nipis dicuci bersih lalu dihaluskan. Tambahkan tepung beras secukupnya pada halusan daun jeruk nipis. Campuran itu diaduk sampai rata, kemudian bentuklah menyerupai pil, butiran pil tersebut ditelan sebanyak tiga kali sehari satu butir setelah makan. Lakukan hal ini selama beberapa hari.

Selamat Mencoba….!!!!

www[dot]kompas[ dot]com