Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, Februari 12, 2012

"Aku akan Menyusulmu di Surga Kelak Anakku"

Oleh Redi Bintarto

“I will follow and catch you up later in the heaven.” Itulah kalimat yang diucapkan Julia, seorang ibu dengan rambut pirang di depan peti mayat anaknya. Ditaruhnya sebuah alquran di atas peti mati anak tersayangnya yang meninggal tiga hari yang lalu karena tertabrak kereta api.

Hati Julia tidak tenang, jiwanya terus memberontak dan bertanya, kenapa anak sekecil itu yang mati duluan, kenapa bukan dia yang mati. Hari-harinya berlalu tanpa ada semangat dalam hidupnya, hingga dia bertemu dengan Muhammad, seorang sopir taksi yang biasa berlalu lalang disekitar kota Wollongong untuk mengantarkan penumpang demi menghidupi keluarganya.

Pertemuan Julia dan Muhammad berawal di sebuah stasiun ketika Julia melambaikan tangan kearah taksi yang dikendarai oleh Muhammad. Muhammad lalu menghampiri Julia dan membukakan pintu seperti biasa dia melayani calon penumpangnya. Julia sedikit kaget dengan penampilan Muhammad yang berjenggot lebat, seraya dia bertanya, “Are you Moslem?” Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang tidak biasa dilontarkan oleh calon penumpang taksi, karena dengan berbagai kejadian yang menimpa kebanyakan muslim di negeri yang bukan muslim, sehingga Muhammad sedikit tersinggung dan kaget, Ia pun balik bertanya, “Yes I am, and why did u ask me?”

Mengetahui sopir taksi yang ditanyai sedikit tersinggung, Juliapun tersenyum dan bilang, “Could you help me please?” Muhammad pun menjadi terheran dengan calon penumpangnya tersebut.
Tetapi sebelum dia sempat bertanya, Julia meneruskan pertanyaannya, “My daughter passed away five days ago, she had crashed by the train, and I can’t forget it, I believe it is destiny, I believe in Alloh. Please give me advise that it can kill my broken heart”.

“Are you moslem?” Muhammad balik bertanya. “No, I am not a moslem, but I believe it is destiny and I believe Alloh,” jawab Julia.

Muhammad bingung, ia hanya memandangi wanita yang tengah menangis dan mengiba tersebut. “Ok, let sit in my taxi, we chat inside,” kata Muhammad sambil mempersilahkan Julia memasuki taksinya.
Dalam perjalanan Muhammad bertanya kepada Julia, bagaimana dia bisa percaya takdir dan juga Alloh SWT. Juliapun menjelaskan, bahwa suami pertamanya adalah seorang muslim berkebangsaan Tunisia, namun suaminya pergi kembali ke Tunisia dan tidak kembali, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menikah lagi dengan Lorrice, seorang warga Australia yang beragama nasrani, dan mereka dianugerahi seorang anak perempuan yang akhirnya meninggal tertabrak kereta api di sebuah stasiun kereta api di daerah NSW.

Muhammad lalu menjelaskan kepada Julia, bahwa semua yang ada didunia ini adalah milik Alloh SWT dan kelak akan kembali kepada Alloh SWT. Dia juga menjelaskan bahwa anak yang meninggal ketika belum baligh, maka dia akan masuk surga seperti yang Alloh janjikan.
Julia menangis mendengar penjelasan itu. “Could I met her in the heaven next?” tanya Julia. “World and Heaven are Alloh’s have, you can enter the heaven and meet your daughter if you convert to Islam and practice all of what Alloh order to mankinds,” kata Muhammad.

“Could you explain to me about Islam?” Tanya Julia. “I can, but if you don’t mind, you can meet my brother, and he will explain to you more about Islam,” jawab Muhammad. “Ok, I will come, please call me as soon as possible when he could” jawab Julia. “Insyaalloh” jawab Muhammad.

Pertemuan itupun terjadi, Muhammad mengajak Syah Jamil, penceramah dari Essence of Life, kelompok pengajian di daerah Illawara yang biasa dilakukan di Omar Mosque dan Essence life center di daerah Wollongong NSW. Syekh Jamil bercerita dan menjelaskan tentang Islam dan mengapa hanya Islam agama yang benar, hingga hari itu juga Julia dan Lorrice memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat di dalam Omar Mosque.

Air mata Julia pun menetes dipipinya, “I never felt like this time, now I am a moslem and I do sure that I will follow and catch up my daughter later in the heaven,”kemudian ia memeluk Lorrice suaminya. Suasana pun semakin mengharukan dengan para jamaah yang mengucapkan selamat dan doa untuk keduanya. Allohuakbar!




Redi Bintartor_bintarto@yahoo.com
Wollongong, NSW

Kamis, Agustus 16, 2007

Inilah Cara Tepat Menghukum Anak

Rafiqa Qurrata A - detikcom

Jakarta - Si kecil ogah mandi sore. Dinasehati berkali-kali tidak mempan. Jika Anda memukulnya, satu bibit kekerasan muncul. Jika dibiarkan, bisa jadi keterlaluan. Apa yang harus Anda lakukan?

"Kita cari favorit dia. Kalau dia buat kesalahan, kita bisa melarang dia mendapatkan keinginan dia," kata psikolog Frieda Mangunsong dalam jumpa pers '10 Cara Menjadi Orangtua Efektif' di Hotel Gran Melia, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (15/8/2007).

Misalnya, jika dia suka melihat televisi, orangtua tinggal melarang dia melihat acara kegemarannya. "Oke, kalau kamu nggak mau mandi, kamu nggak akan lihat tivi sampai kamu mau mandi," kata Frieda memberi contoh.

Jika anak tetap ngotot dengan kesalahannya, orangtua tidak perlu bersikap emosional dan meledak-ledak memarahinya. Palingkan saja wajah Anda, sebab anak kecil lebih sengsara kalau tidak mendapat perhatian dari sang ibu.

"Kalau kita ngomel kadang anak malah senang. Anak justru lebih menderita kalau mamanya nggak mau ngomong. Yang nomer dua, dia takut nggak dapat jajan dan dilarang nonton tivi. Kita tinggal dia keluar ruangan juga bisa, tapi jangan sampai dibiasakan anak dikunci di gudang," kata Frieda.

Menurut Frieda, anak harus dibiasakan anak melihat reaksi orangtua. Frieda menyarankan, saat anak bertindak positif, orangtua memberi perhatian. "Tapi jika tindakan negatif, kita melengos saja," imbuhnya.

Dia juga menyarankan agar orangtua memberi alternatif saat melarang suatu hal."Jangan hanya melarang, tapi tidak ada pilihan lain," kata Frieda. (fiq/aba)

Rabu, Februari 28, 2007

Jika Anak Bertanya Tuhan Ada di Mana?

Assalamu'alaikum wr. Wb.

Begini ustadz, saya adalah seorang guru di TK. Ada anak yang bertanya tentang keberadaan Allah, misalnya dengan pertanyaan: Allah ada di mana? Di mana rumahnya? Wajahnya seperti apa?

Nah, mohon penjelasan dari ustadz bagaimana saya harus bisa memberikan jawaban yang pas dan bisa dimengerti oleh mereka?

Terima kasih ustadz atas jawabannya.

Wassalamu'alaikum wr. Wb.

Sholikah

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Allah adalah tuhan kita, namun kita tidak mungkin mengenal diri-Nya, kecuali Dia sendiri yang memperkenalkan kita. Termasuk keberadaan diri-Nya, kita tidak pernah tahu dan tidak akan pernah tahu.

Memang terkadang kita mendengar ada ungkapan orang seperti Tuhan ada pada diri kita ini, atau tuhan ada di hati. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa tuhan ada di mana-mana di segala tempat.

Tetapi kalau kita mau sedikit kritis, sebenarnya dua ungkapan di atas kurang tepat. Itu hanya gossip tentang tuhan. Gossipnya, tuhan itu konon ada di dalam hati atau ada di mana-mana, tetapi siapa yang bilang? Dan benarkan tuhan mengatakan bahwa dirinya ada di dalam hati manusia? Benarkah tuhan mengatakan bahwa dirinya ada di mana-mana?

Jangan-jangan ungkapan itu tidak benar. Kalau tidak benar, berarti salah kan? Dan tentu sangat fatal sekali akibatnya, sebab kita telah memandang tuhan bukan dengan cara yang benar. Kita menganggat tuhan dengan pandangan yang keliru.

Ungkapan bahwa tuhan itu ada di dalam diri kita, sebenarnya datang dari sebuah kepercayaan yang menyimpng. Para peneliti mengatakan bahwa pemikiran itu datang dari kaum wihdatul wujud (kesatuan wujud tuhan dengan manusia). Paham ini telah dikafirkan oleh para Ulama kita yang dahulu dan sekarang.

Dan ungkapan bahwa tuhan ada di mana-mana, juga menyimpang dan merupakan pendapat dari kaum Jahmiyyah (faham yang menghilangkan sifat-sifat Allah) dan Mu'tazilah.


Lalu Allah SWT tuhan kita itu ada di mana?

Untuk menjawab pertanyaan itu, mudah saj kok. Mari kita bukan kitab suci yang merupakan firman Allah SWT sendiri. Di dalam Al-Quran Al-Kariem, Allah SWT telah menjelaskan keberadaan dirinya. Jadi kita tidak usah pusing tujuh keliling menjawab pertanyaan adik-adik TK kecil itu. Jawab saja pakai Al-Quran, sebab Al-Quran adalah penjelasan resmi dari Allah SWT sendiri, jadi mana mungkin salah, ya kan?

Mari kita buka satu surat di urutan ke-20. Surat itu adalah surat Thaha. Di sana Allah SWT menyebut diri-Nya dengan salah satu dari sekian banyak nama-Nya, Ar-Rahman, yang artinya Yang Maha Penyayang.

"Ar-Rahman di atas 'Arsy Ia istiwaa (bersemayam)." (Thaha: 5)

"Sesungguhnya Tuhan kamu itu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ia istiwaa (bersemayam) di atas 'Arsy."(Al-A'raf:54).

Jadi ibu bisa memberi jawaban mudah dan singkat kepada si kecil, "Nak, kata Allah, Dia berada di atas Arsy."

'Arsy adalah mahluk Allah yang paling tinggi berada di atas tujuh langit dan sangat besar sekali sebagaimana diterangkan Ibnu Abbas. Tidak seorang pun dapat mengukur berapa besarnya."

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Rabu, Februari 07, 2007

Dampak Psikologis Bagi Anak

Assalamualaikum..

Mbak, saya ingin menanyakan bagaimana dampak psikologis, perkembangan, pembentukan karakter si anak, serta akibat (postitif & negatif) yang akan timbul, bagaimana si anak menjalani hidupnya serta dampak dengan lingkungan sosialnya, yaitu bila anak diasuh dengan kebiasaan sepertiucapan, "jangan", "tidak boleh"

Atau dengan celaan atau kurang penghargaan atas yang telah dilakukan si anak. Misal, "kamu mah jorok". Bagaimana dengan hari-hari yang diisi dengan kritikan.

Jarang sekali duduk dengan suasana hati tenang, riang, santai bercanda atau bersenda gurau. Kadang ada suasana tegang. Kebiasaan marah-marah.

Mungkin yang saya amati anak mempunyai karakter menyebalkan, sering mengolok, ucapannya kadang tidak enak didengar, rumit, tidak simpel, stres (tertekan), bingung harus bagaimana dan seperti apa, hatinya susah. Lalu bagaimana mbak solusinya, hal itu yang saya alami.

Saya masih mempunyai adik usia 5 tahun lebih, dengan kebiasaan pola asuh yang seperti itu. Saya mengkhawatirkanpembentukan karakter adik saya. Saat ini ayah saya tidak memberi nafkah, telah meninggalkan ke luarga dengan wanita yang tidak baik. Ibu pegawai negeri sudah sejak lama.Beliau menjadi satu-satunya pencari nafkah ke luarga saat ini. Kami 4 bersaudara dengan usia 21, 19, 13 dan5 tahun. Anak yang paling tua memiliki kekurangan fisik (ketidaksempurnaan sebagai seorang wanita, calon isteri dan calon ibu) yang berdampak pada psikologisnya.

Terimakasih sebelumnya,

Wassalam

Kd

Jawaban

Assalammu’alaikum wr. wb.

Mbak Kd yang sholeha,

Nampaknya anda merasa khawatir atas pola asuh orang tua, baik terhadap diri anda maupun terhadap adik saat ini. Karena begitu detil anda menggambarkan apa yang pernah anda alami atau sedang dialami adik saat ini. Lingkungan atau tempat kita dibesarkan memang akan berpengaruh besar terhadap kepribadian kita, terutama ke luarga merupakan lingkungan utama yang paling besar pengaruhnya terhadap pembentukan diri seseorang.

Dampak psikologis terhadap anak yang selalu menerima kritikan antara lain membuat anak merasa tidak percaya diri, tidak berharga dan sulit untuk menerima diri apa adanya. Sedangkan anak yang dibesarkan dalam tekanan memang akan mempengaruhi emosi dan kepribadiannya menjadi mudah cemas, pemarah, introvert atau cenderung sulit untuk bergaul. Meskipun demikian ada juga perbedaan individual yang menjadikan dampak dari perilaku penuh tekanan dan kritikan tersebut berbeda pada setiap pribadi.

Namun meskipun anda dibesarkan dalam lingkungan yang kurang beruntung, sebagai manusia anda memiliki kelebihan untuk bisa merubah diri anda karena manusia terus berkembang dan dapat terus mengalami perubahan. Caranya adalah pertama dengan belajar mengenali diri sendiri dulu atas kelemahan dan kelebihan yang ada, belajar menerima dan mensyukuri yang ada dalam diri kemudian memotivasi diri untuk memaksimalkan potensi dan mengurangi kekurangan yang ada. Tidak ada kata akhir bagi seseorang yang memiliki keinginan yang kuat untuk selalu memperbaiki dirinya.

Jadi untuk diri anda tak perlu merasa putus asa atas apa yang sudah dilalui. Sedangkan untuk adik kecil anda, nampaknya kakak-kakaknya dapat menyeimbangkan pola pengasuhan yang kurang baik tersebut. Melihat perbedaan usia yang jauh maka anda dapat mempengaruhi pembentukan pribadinya juga dengan lebih banyak menunjukkan perhatian, kasih sayang, penghargaan dan pujian yang diperlukannya. Dengan adanya penyeimbangakan hal-hal yang positifmaka akan dapat meminimalisir pengaruh negatif dari pola asuh tersebut.

Ibu anda nampaknya mengalami situasi sulit sebagai single parents sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap caranya mengasuh anak. Tentu sebagai manusia beliaupun punya kelemahan dan keterbatasan yang harus dipahami. Karenanya tidak bijak untuk menyalahkan perannya sebagai orang tua, justru jika anda menghendaki perubahan dalam ke luarga maka bantulah ia untuk mengurangi beban hidup yang harus dijalaninya. Berilah selalu ia ketulusan cinta, perhatian dan dukungan.


Saat ibu anda merasakan dukungan moral anak-anaknya maka saat anda memberikan masukan kepadanya maka akan dirasakannya sebagai ungkapan cinta dari anaknya dan bukanlah hujatan yang menjatuhkannya. Karena itu juga berhati-hati jika anda berniat untuk mengkoreksi caranya membesarkan anak, gunakan cara sehalus mungkin untuk dapat membuka cakrawala berpikir dan wawasannya, misalnya dengan memberinya buku artikel atau mengundangnya untuk datang ke acara seminar. Insya Allah dengan usaha yang terus menerus dan doa maka akan ada perubahan dalam ke luarga dan mulailah perubahan itu dari diri anda. Wallahu’alambishshawab.

Wassalammu’alaikum wr. wb.
Rr Anita W.