Senin, Mei 09, 2011

Islam, Pelabuhan Terakhir Ihsan Chua Gim Sam

Chua Gim Sam lahir dari keluarga yang pemuluk taoisme. Namun ia dan orangtuanya, seperti penganut taoisme pada umumnya, tidak paham dengan sejarah dan prinsip-prinsip ajaran taoisme, karena mereka menerima keyakinan itu atas dasar keyakinan turun temurun. Begitu pula Chua Gim Sam, sampai usian 9 tahun menerima agama turun temurun itu tanpa banyak bertanya.

Mengapa sampai usia 9 tahun? Karena pada saat itu, seorang guru dan teman-temannya di sekolah mengatakan bahwa mereka semua harus menjadi Kristiani. Jika mereka tidak mau menjadi seorang Kristiani, mereka akan dihukum mati. Chua kecil sangat takut akan ancaman itu. Karenanya, sejak saat itu, ia memeluk dua agama; taoisme karena turunan dari keluarga, dan Kristen karena takut akan ancaman. Sampai beranjak remaja, Chua yang asal Singapura, tidak bisa menentukan agama mana yang ia praktekkan dalam kehidupan sehari-seharinya.

Di Sekolah Menengah Pertama, Chua memilih agama Budha sebagai pilihan mata pelajaran agamanya di sekolah, dengan alasan agama itu paling mudah dipelajari. Doktrin agama Budha begitu berpengaruh pada hidupnya ketika itu, karena menurutnya, ajaran agama ini sangat logis dan praktis. Meski menurut Chua, ajaran Budha kurang mengenalkan konsep Tuhan sebagai Penguasa Tertinggi.

Petualangan Chua belajar agama berlanjut, ketika ia masuk ke sekolah milik misionaris St Andrew Junior High School. Di sekolah ini, seluruh siswa--kecuali yang muslim--wajib mengikuti pelajaran agama Kristen yang berbasis ajaran Protestan Anglikan. Seorang pastor yang mengajar prinsip-prinsip ajaran agama Protestan Anglikan membuat Chua yang ketika itu berusia 17 tahun, begitu terkesan sehingga ia yakin akan kebenaran ajaran agama itu.

Sampai lulus sekolah menengah atas, dan ia bergabung dalam akademi kemiliteran, Chua tidak pernah bisa betah ikut dalam satu jamaah gereja sesuai ajaran Kristen yang diyakininya. Ia merasa belum menemukan ajaran Kristen yang membuat hatinya tenang dan damai.

Tapi menjelang tahun terakhirnya di sekolah kemiliteran, seorang teman mengajaknya bergabung dengan gereja St. John St. Margaret. Di gereja inilah Chua merasa betah dan aktif dalam kegiatan gereja yang mengurusi anak-anak dan olah raga.

Mengenal Islam

Saat sedang giat-giatnya di gereja, Chua bertemu dengan seorang muslimah. Chua berusaha meyakinkan muslimah itu tentang ajaran Kristen di gerejanya, tapi ia terkesima dengan keteguhan muslimah tersebut yang meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar, meski si muslimah tersebut tidak bisa menjelaskan kebenaran yang diyakininya itu.

Tapi peristiwa itu mendorong Chua untuk bertanya tentang Islam dengan seorang temannya yang juga muslimah. Lagi-lagi, Chua tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, karena temannya mengaku tidak mampu menjelaskan lebih mendalam tentang Islam. Sahabat Chua yang muslimah itu lalu menyarankan Chua untuk datang ke Darul Arqam jika ingin tahu lebih banyak tentang Islam. Darul Arqam adalah sebuah Asosiasi Mualaf Singapura.

Chua mengikuti saran temannya itu, meski ia memandang Islam sebagai agama terorisme dan agama yang tidak masuk akal. "Alasan saya cuma, jika agama Islam adalah agama yang baik, maka penganutnya seharusnya juga manusia yang baik," kata Chua.

Selama ini, ujarnya, dari sedikit teman muslim yang dikenalnya, ada yang baik dan ada yang menurutnya bukan muslim yang baik. Ketika di sekolah menengah pertama, Chua ingat ada satu teman muslimnya, tapi tidak pernah berusaha menyebarkan ajaran Islam padanya.

"Keluarga saya juga tidak senang dengan Islam, karena mereka melihat apa terjadi di Timur Tengah dan melihat orang-orang muslim asal Malaysia yang menjadi pegawai ayah saya, rata-rata malas dan berperilaku kurang baik," ungkap Chua.

Namun Chua tetap datang ke Darul Arqam, dan langsung mengikuti kelas orientasi. Ia dikenalkan dengan seorang pembimbing bernama Remy. Dari Remi, Chua mengetahui dua hal yang membuatnya sangat tercengang. Pertama, bahwa Islam bukan agama yang berdasarkan pada "perasaan" seperti agama Kristen. Kedua, Remi mengatakan padanya, "Jangan terburu-buru masuk Islam, sampai kamu mengajukan pertanyaan sebanyak yang ingin kamu tahu. Kalau kamu sudah tidak punya pertanyaan lagi, barulah kamu memutuskan masuk Islam."

"Dalam ajaran Kristen, Anda tidak bisa mengajukan pertanyaan karena semakin banyak pertanyaan yang Anda ingin tahu jawabannya, Anda akan semakin bingung," kata Chua membandingkan pengalamannya selama ini sebagai Kristiani.

Setelah merenungkan dua hal penting tadi. Remi merekomendasikan Chua sebuah buku berjudul "Islam in Focus". Isi buku itu membuat Chua syok. Ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal dalam ajaran Kristen tapi tidak pernah ada penjelasannya, justru ia temukan jawabannya dalam buku tersebut. Ia juga syok menemukan fakta ada beberapa kesamaan prinsip dalam Islam dengan prinsip dalam agama Budha yang pernah dipelajarinya.

Sepekan kemudian, Chua kembali datang ke Darul Arqam dan mengikuti kelas untuk pemula. Di kelas ini, Chua belajar tentang rukun Iman dan rukun Islam. Tapi kelas itu membuatnya bosan sehingga Chua tidak pernah hadir lagi. Ia lebih memilih membaca buku tentang Islam berjudul "The Choice, Islam and Christianity" yang ditulis Ahmad Deedat dan "The Basis of Muslim Belief" yang ditulis oleh Gary Millier. Chua sangat terkesan dengan buku itu dan memutuskan untuk bertemu lagi dengan Remi.

Remi lalu mengenalkan Chua dengan Ustaz Zulkifli, yang kemudian menjadi teman Chua berdiskusi tentang Islam selama beberapa minggu. "Selama saya belajar Islam, saya juga berusaha mencari informasi tentang Islam dari buku-buku Kristen, tapi isinya menjelek-jelekkan Islam. Dengan bekal pengetahuan saya tentang Islam, saya bisa menyangkal semua klaim palsu yang dibuat oleh orang-orang Kristen tentang Islam," tukas Chua.

Ia terus belajar tentang Islam dengan membaca Al-Quran dan membaca buku-buku tentang Islam. Chua juga berdiskusi dengan sejumlah ustaz yang berusaha membantunya menemukan jalan kebenaran Islam.

Suatu hari, kata Chua, Ustaz Zulkifli menanyakan padanya "Kapan kamu akan masuk Islam". Chua tak bisa menjawab pertanyaan itu, tapi ia memikirkannya dalam-dalam sampai ia tidak bisa menemukan satu alasan pun untuk tidak memeluk Islam. Akhirnya, Chua memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan menambahkan kata "Ihsan"--sebagai nama muslimnya--di depan nama aslinya.

Keluarga Chaos

Keluarga Ihsan Chua Gim Sam awalnya tidak menganggap serius bahwa anak mereka sudah memeluk Islam. Mereka, kata Ihsan, berpikir bahwa dirinya cuma memakai nama Islam tapi tetap akan makan babi dan bergaya hidup nonmuslim.

Tapi begitu keluarganya tahu bahwa ia benar-benar sudah menjadi seorang muslim dan menjalankan ajaran Islam, situasinya jadi chaos dan makin runyam, ketika Ihsan Chua ikut berpuasa di bulan Ramadan. Ia nyaris diusir kedua orang tuanya. Selama berbulan-bulan, Ihsan mengalami tekanan dari keluarganya.

"Saya tidak makan di rumah. Saya dituding tidak mencintai keluarga saya lagi. Hampir setiap hari terjadi pertengkaran antara saya dan keluarga. Saya berusaha menjelaskan tentang Islam pada mereka, tapi mereka tidak tahu," imbuh Ihsan Chua.

Lama kelamaan, ia jadi takut pulang ke rumah. Ihsan pulang jika sudah larut malam. Namun suatu malam, ibunya datang mendekati dan mengatakan bahwa ia tidak perlu pulang ke rumah larut malam. Ibunya bilang bahwa ayahnya sangat khawatir melihat Ihsan selalu pulang malam.

"Ibu juga menawarkan akan memasak makanan buat saya secara terpisah," kata Ihsan yang tentu saja bahagia melihat perubah sikap orang tuanya.

Sekarang, hampir semua keluarganya makan makanan halal. "Ibu lebih nyaman memasak makanan yang bisa dimakan seluruh keluarga, termasuk anak lelakinya yang muslim. Situasi di rumah pun makin membaik. Alhamdulillah," tandas Ihsan menutup kisahnya menjadi seorang muslim. (ln/NMC)

Carilah Jalan Menuju Hidayah Rabbmu

Abud Dzar yang menyambut seruan dakwah Nabi Shallahu alaihi wa sallam, sesudah Nabi menyebarkan kepadanya dengan sederhana lgi mudah seperti yang telah diterangkan sebelumnya. Sesudah itu Abu Dzar ra langsung pergi ke bukit Shafa, lalu berteriak : "Hai orang-orang Quraiys, aku telah mengakui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah".

Kalimat sangat menyengat perasaan pemimpin yang melampaui batas dari kalangan orang-orang kafir Quraiys. Mereka berdatangan kepadanya dari segala penjuru dan langsung memukulinya beramai-ramai, hinga hampir saja Abu Dzar tak sadarkan diri dan tubuhnya bermandikan darah. Rasul pun datang kepadanya,sedang tubuhnya penuh dengan darah, karena luka pukulan mereka dan keadaannya seakan-akan mengatakan :

"Jika memang menyenangkan hatimu apa yang telah dilakukan oleh orang yang dengki kepada kami, maka luka ini tidak lah terasa sakit , jika engkau merasa ridha kepadaku".

Rasul Shallahu alaihi wa sallam tersenyum dan bersabda : "Aku tidak memerintahkan ini kepadamu".

Apa artinya pembelaan seperti ini? Apa artinya pengobanan seperti ini?

Selanjutnya, Nabi Shallahu alaihi wa sallam bersabda : "Sekarang pulanglah ke kampung kaummu. Sampai bersua nanti!

Abu Dzar ra pulang dan menebarkan hidayah kepada kaumnya, karena sesungguhnya seorang muslim pada hari dia masuk Islam, tujaun agar dengan Dia memberi petunjuk kepada banyak orang, karena manusia sangat membutuhkan seruan dakwahnya.

"Engkau adalah perbendaharaan mutiara, dan pertama dalam kemelut dunia, meskipun mereka tidak mengenalmu. Engkau adalah dambaan semua generasi, mereka merindukan seruanmu yang tinggi, meskipun tidak mendengarmu".

Abu Dzar bangkit dan mengumpulkan semua kabilahnya di padang sahara, lalu berkata kepada mereka : "Darahku haram bagi darahmu, tubuhku haram bagi tubuhmu, dan harta haram bagi hartamu, sebelum kamu beriman kepada Allah", tegas Abu Dzar. Selanjutnya, Abu Dzar menerankgan agama Islam, seperti yang didengarnya dari Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam.

Belum lagi ia tidur pada malam itu telah beriman sebanyak 70 keluarga berikut dengan kaum wanita, kaum pria, dan anak-anak mereka. Selanjutnya, Abu Dzar menghadap ke rah sebuah pohon yang ada di sana dan dia mulai bermeditasi, karena sesungguhnya dia belum mengetahui shalat dan memang shalat waktu itu belum difardhukan.

Ketika Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, tiba-tiba datang Abu Dzar di barisan paling depan dari kaummnya yang telah beriman. Para shahabat pun keluar. Mereka mengira bahwa di sana ada pasukan musuh yang datang dengan maksud menyerang kota Madinah.

Nabi Shallahu alaihi wa sallam keluar pula bersama dengan para shahabatnya dan ternyata yang datang adalah Abu Dzar, seorang lelaki yang hidup atas dasar kalimah "laa ilaaha illalloh", dan bersujud kepada Tuhan yang telah menurunkan kalimah "laa ilaaha illalloh", sed ang dibelakangnya adalah para muridnya yang telah berhasil diislamkannya.

Setelah melihat kedatangan peringatan dini yagn membawa berita gembira alias Abu Dzar ra ini, Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, tersenyum :

"Tiada seorang pun yang bernaung di kolong langit dan bercokol diatas hamparan bumi ini lebh jujur ucapannya, selain Abu Dzar", ujar Rasul Shallahu alaihi wa sallam.

Jadi, penyebab yang paling besar bagi seorang hamba untuk meraih hidayah ialah bila mempunyai keinginan yang keras untuk mendapatkannya sebagaimana yang disebutkan dlam firman-Nya :

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepad mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar berserta orang-orang yang berbuat baik". (QS : al-Ankabut : 69).


oleh Aidh Abdullah al-Qarni


Jumat, Oktober 17, 2008

Sasaran dan Karakteristik Dakwah Ikhwan

Persatuan takkan terwujud tanpa rasa cinta. Tingkat cinta yang paling rendah adalah kedamaian hati (salamatu shadr), dan yang paling tinggi adalah mendudukkan orang lain lebih tinggi dari sendiri (itsar).

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)

Karakter Pertama: Ikatan Keimanan yang Kuat dalam Dakwah yang Dibangun di atas Ukhuwwah.

HAL ini yang pernah disebutkan oleh Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah dalam rukun kesembilan:
“Yang dimaksud dengan ukhuwah adalah, perpaduan hati dan ruh dengan aqidah. Aqidah merupakan tali pengikat yang paling kuat dan tinggi. Ukhuwwah adalah pasangan iman, sedangkan berpecah belah (tafarruq) adalah pasangan kekufuran. Kekuatan paling utama berpangkal pada kekuatan persatuan (quwwatul wihdah).

Persatuan takkan terwujud tanpa rasa cinta. Tingkat cinta yang paling rendah adalah kedamaian hati (salamatu shadr), dan yang paling tinggi adalah mendudukkan orang lain lebih tinggi dari sendiri (itsar).

Allah swt. berfirman:
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan
mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang- orang Muhajirin), atas diri mereka
sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. al-Hasyr: 9).

Seorang ikhwan sejati memandang saudaranya lebih utama dari dirinya. Sebab, jika ia tidak berbuat demikian maka saudaranya yang lain pun tidak memandangnya lebih utama dari dirinya. Bila
mereka tidak memandang dirinya lebih utama, maka ia tidak akan memandang mereka lebih utama.
“Sesungguhnya serigala hanya akan memangsa kambing yang memisahkan diri dari kelompoknya.” (Dikeluarkan oleh Ahmad (5/196;4/446); Abu Daud (548), Nasa'i (2/82-83). Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

“Dan orang-orang mu'minin dan mu'minat masing-masing mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian lainnya. Memerintahkan pada yang ma’ruf dan melarang yang mungkar.” (QS. at-Taubah: 71).

Ikhwan bersandar pada sesuatu yang dapat menjadikan ukhuwwah itu dapat lestari, yakni melalui sikap ta'at kepada Allah 'Azza wa Jalla. Tak ada yang dapat memelihara ukhuwwah sebagaimana pemeliharaan sikap ta'at kepada Allah dan menjauh dari semua kema'shiatan kepada-Nya. Ukhuwwah yang berdiri di atas taqwa akan terus berlaku baik di dunia hingga akhirat.
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa." (QS. az- Zukhruf: 67)

Dan tak ada yang dapat memelihara ukhuwwah dari kehancuran sebagaimana keampuhan perisai iman dan amal shalih.

Allah swt. berfirman, “...Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh, dan amat sedikitlah mereka ini...” (QS. Shad: 24)

Karena itulah, Iblis la'natullah tidak menyukai mekarnya rasa cinta dan ukhuwwah di antara para juru da'wah. Iblis selalu berupaya menyulut perselisihan antar mereka. Seorang Ikhwan hendaknya selalu berkata yang paling baik, dan perbedaan pendapat di antara mereka hendaknya tidak merusak wujud rasa kasih dan cinta antar-mereka.

Karakter Kedua:
Ikatan Organisasi (Tanzhim) yang Kokoh Dibangun di atas Rasa Percaya (Tsiqah)

INILAH ikatan yang pernah diterangkan oleh Ustadz al-Banna rahimahullah dalam rukun kesepuluh:

"Yang dimaksud dengan tsiqah adalah ketenangan hati seorang jundi (prajurit) kepada pimpinannya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya. Sebuah ketenangan yang dalam hingga menghasilkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan."

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisaa: 65)

Pemimpin adalah bagian dari da’wah. Tak ada da’wah tanpa pemimpin. Tingkat tsiqah secara timbal balik antara pemimpin dan jundi, adalah parameter kekuatan organisasi sebuah jama’ah,
kekuatan strategi, kesuksesannya dalam mencapai tujuan dan dapat mengalahkan semua kendala dan kesulitan yang menghalangi jama’ah mencapai tujuannya.

"Dan orang-orang yang beriman berkata, "Mengapa tiada diturunkan suatu surat?" Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu
lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka. Taat dan mengucapkan
perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian
itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad:20-21)

Beberapa Kesalahan dalam Membangun Tsiqah

1. Pemimpin yang menuntut tsiqah dari para anggotanya, tanpa disertai penunaian mahar tsiqah itu sendiri.

Tsiqah terhadap pimpinan takkan terwujud melalui tuntutan belaka, tapi melalui perasaan yang tumbuh dalam diri jundi tentang kemampuan pemimpinnya, kelayakannya, kebijaksanaannya, yang diperoleh melalui sentuhan hubungan secara langsung, beramal dan
melalui sikap-sikap harian pemimpinnya. Inilah yang dimaksud dengan mahar tsiqah.

2. Pemimpin yang tak mampu menanam, memelihara dan membangun rasa tsiqah.

Semakin banyak ia berhubungan dengan anggota, semakin lemah rasa tsiqah anggota kepadanya. Kondisi ini dapat terjadi, baik lantaran ketidaktahuan pemimpin tentang cara berinteraksi
dengan jiwa manusia, karena kelalaiannya, atau karena ia tidak dapat membina orang-orang yang ada di sekelilingnya dan tidak mampu menjalin hubungan dengan mereka.

Beberapa hal yang dapat membantu tumbuhnya rasa tsiqah:

1. Tidak terburu memvonis salah seorang anggota jama'ah secara tidak hak.

2. Perasaan setiap anggota dalam harakah tentang kebenaran sebuah kebijakan dan tindakan pimpinan. Karenanya, setiap kebijakan dari pimpinan harus disertai latar belakarang atau
alasan, terkecuali dalam kondisi darurat menyangkut keamanan jama'ah (amniyah).

Sasaran dan Karakteristik Dakwah Ikhwan

Persatuan takkan terwujud tanpa rasa cinta. Tingkat cinta yang paling rendah adalah kedamaian hati (salamatu shadr), dan yang paling tinggi adalah mendudukkan orang lain lebih tinggi dari sendiri (itsar).

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)

Karakter Pertama: Ikatan Keimanan yang Kuat dalam Dakwah yang Dibangun di atas Ukhuwwah.

HAL ini yang pernah disebutkan oleh Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah dalam rukun kesembilan:
“Yang dimaksud dengan ukhuwah adalah, perpaduan hati dan ruh dengan aqidah. Aqidah merupakan tali pengikat yang paling kuat dan tinggi. Ukhuwwah adalah pasangan iman, sedangkan berpecah belah (tafarruq) adalah pasangan kekufuran. Kekuatan paling utama berpangkal pada kekuatan persatuan (quwwatul wihdah).

Persatuan takkan terwujud tanpa rasa cinta. Tingkat cinta yang paling rendah adalah kedamaian hati (salamatu shadr), dan yang paling tinggi adalah mendudukkan orang lain lebih tinggi dari sendiri (itsar).

Allah swt. berfirman:
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan
mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang- orang Muhajirin), atas diri mereka
sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. al-Hasyr: 9).

Seorang ikhwan sejati memandang saudaranya lebih utama dari dirinya. Sebab, jika ia tidak berbuat demikian maka saudaranya yang lain pun tidak memandangnya lebih utama dari dirinya. Bila
mereka tidak memandang dirinya lebih utama, maka ia tidak akan memandang mereka lebih utama.
“Sesungguhnya serigala hanya akan memangsa kambing yang memisahkan diri dari kelompoknya.” (Dikeluarkan oleh Ahmad (5/196;4/446); Abu Daud (548), Nasa'i (2/82-83). Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

“Dan orang-orang mu'minin dan mu'minat masing-masing mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian lainnya. Memerintahkan pada yang ma’ruf dan melarang yang mungkar.” (QS. at-Taubah: 71).

Ikhwan bersandar pada sesuatu yang dapat menjadikan ukhuwwah itu dapat lestari, yakni melalui sikap ta'at kepada Allah 'Azza wa Jalla. Tak ada yang dapat memelihara ukhuwwah sebagaimana pemeliharaan sikap ta'at kepada Allah dan menjauh dari semua kema'shiatan kepada-Nya. Ukhuwwah yang berdiri di atas taqwa akan terus berlaku baik di dunia hingga akhirat.
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa." (QS. az- Zukhruf: 67)

Dan tak ada yang dapat memelihara ukhuwwah dari kehancuran sebagaimana keampuhan perisai iman dan amal shalih.

Allah swt. berfirman, “...Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh, dan amat sedikitlah mereka ini...” (QS. Shad: 24)

Karena itulah, Iblis la'natullah tidak menyukai mekarnya rasa cinta dan ukhuwwah di antara para juru da'wah. Iblis selalu berupaya menyulut perselisihan antar mereka. Seorang Ikhwan hendaknya selalu berkata yang paling baik, dan perbedaan pendapat di antara mereka hendaknya tidak merusak wujud rasa kasih dan cinta antar-mereka.

Karakter Kedua:
Ikatan Organisasi (Tanzhim) yang Kokoh Dibangun di atas Rasa Percaya (Tsiqah)

INILAH ikatan yang pernah diterangkan oleh Ustadz al-Banna rahimahullah dalam rukun kesepuluh:

"Yang dimaksud dengan tsiqah adalah ketenangan hati seorang jundi (prajurit) kepada pimpinannya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya. Sebuah ketenangan yang dalam hingga menghasilkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan."

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisaa: 65)

Pemimpin adalah bagian dari da’wah. Tak ada da’wah tanpa pemimpin. Tingkat tsiqah secara timbal balik antara pemimpin dan jundi, adalah parameter kekuatan organisasi sebuah jama’ah,
kekuatan strategi, kesuksesannya dalam mencapai tujuan dan dapat mengalahkan semua kendala dan kesulitan yang menghalangi jama’ah mencapai tujuannya.

"Dan orang-orang yang beriman berkata, "Mengapa tiada diturunkan suatu surat?" Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu
lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka. Taat dan mengucapkan
perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian
itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad:20-21)

Beberapa Kesalahan dalam Membangun Tsiqah

1. Pemimpin yang menuntut tsiqah dari para anggotanya, tanpa disertai penunaian mahar tsiqah itu sendiri.

Tsiqah terhadap pimpinan takkan terwujud melalui tuntutan belaka, tapi melalui perasaan yang tumbuh dalam diri jundi tentang kemampuan pemimpinnya, kelayakannya, kebijaksanaannya, yang diperoleh melalui sentuhan hubungan secara langsung, beramal dan
melalui sikap-sikap harian pemimpinnya. Inilah yang dimaksud dengan mahar tsiqah.

2. Pemimpin yang tak mampu menanam, memelihara dan membangun rasa tsiqah.

Semakin banyak ia berhubungan dengan anggota, semakin lemah rasa tsiqah anggota kepadanya. Kondisi ini dapat terjadi, baik lantaran ketidaktahuan pemimpin tentang cara berinteraksi
dengan jiwa manusia, karena kelalaiannya, atau karena ia tidak dapat membina orang-orang yang ada di sekelilingnya dan tidak mampu menjalin hubungan dengan mereka.

Beberapa hal yang dapat membantu tumbuhnya rasa tsiqah:

1. Tidak terburu memvonis salah seorang anggota jama'ah secara tidak hak.

2. Perasaan setiap anggota dalam harakah tentang kebenaran sebuah kebijakan dan tindakan pimpinan. Karenanya, setiap kebijakan dari pimpinan harus disertai latar belakarang atau
alasan, terkecuali dalam kondisi darurat menyangkut keamanan jama'ah (amniyah).

Nilai Dakwah dan Pertanyaan tentang Ikhwanul Muslimin

Siapapun yang mendalami ilmu agama Allah mengetahui bahwa posisi dakwah ilallah berada pada posisi yang paling tinggi dan sarana mendekatkan diri pada Allah yang paling baik. Kenapa? Dakwah adalah misi para Anbiya, jalan para rasul dan auliya.

(Dari Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)

Siapapun yang mendalami ilmu agama Allah mengetahui bahwa posisi dakwah ilallah berada pada posisi yang paling tinggi dan sarana mendekatkan diri pada Allah yang paling baik. Kenapa? Dakwah adalah misi para Anbiya, jalan para rasul dan auliya.

Dengan jalan itulah, rahmat Allah menyebar dan kesesatan lenyap. Karena itu, banyak sekali ayat-ayat, serta hadits-hadits shahih yang jelas menerangkan masalah ini.

Allah swt. berfirman:

“Dan hendaklah di antara kalian ada sekelompok yang menyeru kepada kebaikan dan memerintahkan yang ma’ruf serta melarang yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

“Kalian adalah ummat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan kepada yang ma'ruf dan melarang yang mungkar, serta beriman kepada Allah..." (QS. Ali Imran: 110)

Bersabda Rasulullah saw., "Demi Dzat Yang Jiwaku Ada dalam Tangan-Nya. Pasti kalian akan memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang mungkar. Atau (bila kalian tidak melakukan hal tersebut), niscaya Allah akan menimpakan hukuman atas kalian, setelah itu kalian memohon kepada-Nya, dan tidak dikabulkan." (HR. Turmudzi, dan mengatakan hadits hasan).

Keadaan mereka sebagaimana ungkapan Imam Ahmad rahimahullah yang dinukil dalam kitab I'lam al-Muwaqi'in: “Mereka menyeru yang tersesat pada petunjuk, menghidupkan orang-orang yang mati dengan Kitabullah, menjelaskan orang-orang yang buta dengan cahaya Allah. Berapa banyak korban-korban iblis yang mereka hidupkan kembali? Berapa banyak mereka yang tersesat terlunta-lunta mendapat petunjuk kembali."

Karena itu, mereka, para da'i, memang layak memperoleh do'a dari semut yang ada di sarangnya, hingga ikan yang ada di lautan. Mereka di bumi ini, ibarat bintang di langit. Melalui mereka yang ragu-ragu dalam kegelapan dapat tertuntun kembali.

Merekalah yang menyampaikan ajaran Allah dan melanjutkan misi para Anbiya setelah tidak ada lagi rasul sesudah Muhammad saw. dan wahyu telah terputus dari langit. “Demikianlah kami jadikan kalian sebagai ummat pertengahan.. agar kalian menjadi saksi atas manusia, dan Rasul menjadi saksi atas kalian." (QS Al-Baqarah: 143)

Bertolak dari sini, risalah yang ditulis khusus untuk para da'i ini, bertujuan agar menjadi satu bentuk pemuliaan bagi mereka, penjelas dan penerang bagi siapa saja yang ingin berjalan di jalan para Anbiya.

Saya memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa, agar para da'i yang mencari kebenaran, dapat mengambil manfaat atas usaha ini. Saya mohon ampun kepada Allah dari kekeliruan. Semoga Allah memeliharaku dari keburukan.

Risalah ini kususun mencakup beberapa bab. Bab "Kenapa Ikhwanul Muslimin, terbagi tiga bagian: Hakikat Dakwah Ikhwanul Muslimin, Syubuhat dan Jawabannya, serta Untaian Harapan dalam Amal Islami.

Saya menyusun risalah ini sebagai seruan secara menyeluruh agar menjadi perhatian para pemuda, sekaligus menyingkap berbagai pemikiran serta isu-isu yang ada.

Setelah itu, saya sebutkan kaidah-kaidah umum dalam menolak syubuhat yang dilontarkan kepada Ikhwanul Muslimin. Di sini, saya berikan beberapa contoh syubuhat berikut jawabannya.

Berikutnya, saya paparkan pula beberapa harapan yang semoga dapat semakin mengokohkan eksistensi harakah Ikhwan. Juga agar harakah dapat mengevaluasi kesesuaian langkahnya terhadap manhaj.

Ini dalam kondisi harapan-harapan tersebut memang belum termasuk dalam program harakah. Bila harapan tersebut sesuai dengan manhaj, hendaklah segera diambil. Dan bila tidak, harus segera ditutup.

Mengapa Ikhwan?

Yang menjadi pertanyaan, Mengapa dakwah Ikhwanul Muslimin selalu menjadi sasaran konspirasi musuh Islam di segenap penjuru Timur dan Barat? Mengapa dakwah Ikhwanul Muslimin hingga kini cahayanya tak kunjung padam? Mengapa dakwah Ikhwanul Muslimin justeru menarik minat banyak pemuda, betapapun mereka mengetahui konsekwensi jalannya yang begitu berat? Mengapa dakwah Ikhwanul Muslimin dibenci oleh orang-orang yang kerasukan ambisi pribadi?

Sebuah konperensi duta besar dari Inggris, Perancis dan Amerika pernah digelar di Faid, November 1948. Para konsulat meminta dubes Inggris menuntut Naqrasyi, perdana menteri Mesir saat itu, agar mengeluarkan keputusan larangan terhadap Jama'ah Ikhwanul Muslimin.

J. Obrian, Sekretaris Politik Komando Angkatan Darat Inggris di Timur Tengah, mengirim surat pada Organisasi Intelejennya di wilayah Mesir dan Laut Tengah.

Ia menyebutkan isi pembicaraan serta hasil-hasil penting konperensi di Faid. Yang terpenting, mereka akan melakukan langkah koordinasi melalui kedutaan besar Inggris di Kairo guna menghantam Jama'ah Ikhwanul Muslimin.

Itu gambaran tentang pertanyaan pertama. Tentang pertanyaan kedua, masih banyak orang yang belum mengetahui hakikat dakwah ikhwan.

Di antara mereka masih ada yang diliputi rasa bimbang. Mereka sebenarnya menyimpan simpati terhadap Ikhwan, namun belum percaya terhadap kemampuannya. Mereka juga ingin melakukan sesuatu, tetapi putus asa karena khawatir bila dakwah ini hancur. Pada akhimya, mereka memilih diam, tanpa melakukan apapun.

Dilatarbelakangi fenomena tersebut, juga banyak para pemuda yang tengah menanti orang yang dapat menjelaskan jalan dakwah pada mereka, yang dapat menjadi saluran aspirasi dan amal mereka secara jelas dan terang.

Untuk mereka semua, dan siapa saja yang ingin melangkahkan kaki di atas jalan dakwah, kami persembahkan risalah ini untuk menghilangkan waham, serta berbagai isu yang disebarkan dari mulut ke mulut. (diterjemahkan oleh Hawari Aulia)