Selasa, Oktober 02, 2007

Melestarikan I’tikaf dan Tradisi Nabi

Oleh Muhammad Rizqon

Firdaus (3), nampak asyik mengamati permainan outbound ‘flying fox’ pada arena bazar di Gelora Bung Karno. Dia nampak khusyuk dengan permainan yang dilihatnya. Sesekali dia tertawa karena melihat ada sesuatu yang menurutnya lucu. Dia nampaknya bisa membaca ekspresi wajah dan perasaan, terutama wajah-wajah kepanikan. Boleh jadi itu yang mengundang dia tertawa.

Saat umminya menawarkan, “Firdaus mau coba?” Dia berujar, “Entar Mi…” Kemudian dia kembali asyik memperhatikan anak-anak yang mencoba permainan outbound tersebut. Lucunya, dia banyak tertawa seakan dirinya lebih bisa dari mereka. Katanya, “Mi, Lihat mi. Lucu..ha..ha..ha..”
Aku yang melihat dia tertawa jadi ikut tertawa, bukan karena oleh mereka yang mencoba flying fox tetapi melihat tawa firdaus yang lucu terpingkal-pingkal seperti orang dewasa.

Tidak lama kemudian ia bilang ke Umminya, “Firdaus mau coba, Mi. ” Umminya sebenarnya agak kaget. Masalahnya, turunan dari flying fox tersebut cukup curam, dan tambang yang dibentangkan juga tidak panjang, hanya memanfaatkan pohon-pohon yang ada. Jadi begitu meluncur, ia akan cepat melaju, kemudian ditahan oleh ikatan yang berfungsi sebagai rem yang dikendalikan oleh panitia. Begitu sampai ke bawah, akan ada semacam hentakan yang cukup mengagetkan.

Untuk menyakinkan dirinya, Ummi Firdaus bertanya kepada panitia tentang resiko yang akan terjadi. Setelah menerima jawaban panitia, “Oh tidak apa-apa Bu, asal anaknya berani. Kita jaga, Insya Allah aman. ”, ummi Firdaus menoleh ke anaknya dan berujar, “Firdaus berani kan?” Firdaus mengangguk. Akhirnya setelah mendaftar dan membayar di kasir, panitia menyambut Firdaus dengan membesarkan hatinya. Rasanya dia menjadi pencoba yang paling kecil, sehingga banyak orang yang berdecak kagum akan keberaniannya.

Panitia mulai memasang simpul-simpul dan besi di tubuh Firdaus. Kemudian tubuhnya dinaikan ke papan luncur di atas pohon. Ikatan tali di tubuh mulai dipasangkan pada roda peluncur. Pembimbing memberikan instruksi, kemudian memberi aba-aba. “Bismillahirrahmanirrohim 1..2..3..” Lalu meluncurlah tubuh Firdaus dengan berpegangan pada kedua tali tergantung. “Sreeet…” Alhamdulillah, berhasil. Tiada wajah ketakutan, bahkan dia tertawa bahagia karena mengalami kejadian yang luar biasa dan ia berhasil melewatinya.

***

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS 2:183).

Ada satu pelajaran kenapa Firdaus berhasil dan tidak perlu gagal untuk pertama kali, yaitu ia belajar dari pengalaman anak-anak sebelumnya. Dia amati dan pelajari orang-orang yang berhasil mencobanya kemudian dipraktekkan. Suatu prinsip yang mudah dan sederhana untuk menapaki suatu keberhasilan.

Demikian halnya jika kita ingin berhasil dalam Ramadhan dengan meraih taqwa, kita harus jeli memaknai kata ‘min qoblikum (orang-orang sebelum kamu)’ dalam ayat tersebut di atas. Setelah saya renungi kata ‘min qoblikum’ rupanya memberikan hikmah yang luar biasa.

‘Min qoblikum’ memiliki dua pengertian, Pertama, yaitu orang-orang sebelum Nabi Muhammad SAW. Artinya syariat puasa sudah dijalankan oleh orang-orang sebelum beliau, dari Nabi Adam a. S. Hingga Nabi Isa a. S. Contoh yang lazim kita ketahui adalah ‘puasa Nabi Daud’ yang menjadi tradisi Nabi Daud a. S. Dan kaumnya, di mana sehari berbuka dan sehari berpuasa demikian seterusnya. Hikmah yang terkandung adalah Allah memerintahkan untuk melestarikan tradisi kebajikan. Tradisi kebajikan yang telah diajarkan oleh orang-orang sebelumnya, hendaknya dilestarikan dan disempurnakan sehingga menjadi lebih baik. Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi penutup, adalah penyempurna dari tradisi kebajikan yang disyariatkan sebelumnya.

Kedua, makna ‘min qoblikum’ bagi kita yang hidup sekarang ini, adalah Rasulullah SAW, sahabat dan para salafushsholeh. Kita diperintahkan berpuasa sebagaimana mereka berpuasa. Artinya kita diperintahkan mempelajari cara-cara mereka menjalankan puasa hingga mereka mencapai sukses (derajat ketaqwaan yang tinggi di sisi Allah). Kita mempelajari bahwa mereka di bulan Ramadhan sangat serius dan bersungguh-sungguh, banyak melakukan tilawah qur’an dan memperbanyak ibadah, menghindari ghibah, melakukan banyak sedekah, tidak banyak tidur, menghidupkan malam, melakukan I’tikaf 10 hari terakhir, dan lain-lain. Seharusnyalah kita juga melakukan tindakan dan dengan semangat yang sama. Kita tidak perlu membuat tradisi-tradisi baru. Tradisi kebajikan yang diajarkan Rasulullah sudah jelas dan terbukti hasilnya. Kita tinggal mempelajari dan mengikuti saja.

Sesuatu yang mudah sebenarnya, sebagaimana pola pikir si kecil Firdaus di atas. Tapi entah kenapa, apa karena tidak tahu, banyak dari kita yang tidak mau berkaca dari kehidupan Rasulullah SAW, sahabat dan salafushsholeh. Sungguh ironis, jika kita berulang kali melakukan kesalahan yang sama, karena tidak mengambil spirit dari mereka. Sebagian kita justru berkiblat kepada tokoh-tokoh yang boleh jadi tidak selaras dengan tradisi Nabi SAW.

Kata ‘min qoblikum’ ternyata menyimpan kekuatan pesan yang luar biasa. Dia berkait dengan esensi ajaran Islam yaitu menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam melestarikan tradisi-tradisi kebajikan. Sering kali manusia berupaya melestarikan tradisi, tapi justru tradisi itu menjadi kontraproduktif bagi nilai ketaqwaan. Dengan melestarikan tradisi Nabi, sebenarnya kita menunjukkan ‘kecerdasan iman’ kita dalam menangkap pesan tauhidurrasul, “Asyhadu anna Muhammad Ar Rasulullah”.

Terpetik hikmah juga bahwa Islam adalah agama yang menghargai sejarah, karena ternyata sejarah memiliki daya pengaruh kuat dan luar biasa bagi orang-orang setelahnya. Jika sejarah dibelokkan oleh musuh Islam hingga yang terkesan adalah suatu kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dan terorisme, maka sebenarnya musuh benar-benar hendak menciptakan generasi muslim bodoh, terbelakang, miskin dan berimage teror. Ada upaya-upaya dari musuh Islam yang mencoba membangun ‘inferioritas’ ummat dengan mengelabui sejarah. Sebaliknya, mereka selalu berupaya membangun ‘superioritas’ dengan menciptakan sejarah palsu melalui mitos-mitos atau film-film layar lebar. Inilah konspirasi yang kadang tidak kita sadari, padahal berdampak sangat luar biasa.

Sesungguhnya jika kita membangun landasan yang kuat dengan hanya mempelajari dan mengamalkan praktek-praktek yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan sahabat baik dalam level pribadi, keluarga, masyarakat, negara bahkan dunia, kita akan menemukan kejayaannya. Selama ini kita terpuruk karena meninggalkan tradisi-tradisi kebajikan dan tidak mau mencontoh dari kehidupan Rasulullah SAW.

***
Hari-hari Ramadhan berlalu tanpa terasa kita akan mendekati penghujung hari-harinya. Andai hari-hari yang lalu kita lewati Ramadhan dengan bermalas-malasan, di penghujung yang segera menjelang ini marilah kita optimalkan dengan menghidupkan tradisi Ramadhan yang sangat dipelihara sekaligus dianjurkan oleh Rasulullah SAW yaitu i’tikaf pada 10 hari terakhir.

Sungguh, kita akan merasakan hari-hari yang penuh makna. Penghujung malamnya adalah detik-detik berharga dan menjadi penentu perjalanan Sang Hamba di keesokan harinya. Di penghujung malam ini kita bersimpuh, merasakan ketidakberdayaan, merasakan kehinaan, merintih dengan cucuran derai air mata penyesalan, dan memanjatkan bait-bait do’a memohon cahaya atas kegelapan kehidupan.

Kita akan merasakan makna ikhlas untuk ditekuni sebagai jalan yang menghantarkan kita ke surga, merasakan mata hati yang terbuka terhadap hakikat dunia yang selalu membuat terlena dengan angan-angan maya, dan merasakan begitu dekatnya Rabb Sang Pencipta yang memiliki penjagaan dengan dzikir-dzikir yang kita lantunkan.

Subhanallah, suasananya penuh syahdu mengundang keharuan. Derai air mata akan dengan mudahnya tertumpah seiring dengan ketunduk hati untuk merendah dengan serendah-serendahnya, bersujud dengan sehina-hinanya. Allahu Akbar, Maha Suci Allah dengan segala ketinggian rahmat, kebesaran maghfirah, dan keagungan ampunan. Air mata yang tak kuasa tercurah memberi kesejukan jiwa, membeningkan hati, melembutan perasaan, dan menyapu segala dosa. Dan seiring dengan hilangnya kegelapan, cahaya terang menyinari jiwa yang menang. Allahu Akbar Wa lillahi al-hamdu.

Sungguh, kemenangan itu hanyalah semata-mata sebagai karunia Allah, untuk menyenangkan hati orang-orang yang dikehendaki-Nya dari kalangan peserta ‘madrasah malam’ dalam kehidupan ini. Semoga kita bisa melestarikan tradisi menghidupan ‘detik-detik berharga’ ini hingga ajal menjelang sebagai tanda tiba saatnya menemui Rabb tersayang. Amin ya mujib assaailiin.

Waallahu’alam bishshawwab

Jumat, September 21, 2007

Hadits Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah

Saya pernah mendengar orang berkata bahwa tidurnya orang berpuasa itu adalah ibadah. Tapi sampai saat ini saya tidak tahu, benarkah hal itu? Kalau memang benar, apakah itu merupakan hadits nabi atau bukan? Dan kalau memang hadits nabi, riwayatnya serta statusnya bagaimana?

Terima kasih atas jawabannya ustadz

Jhons
jhons@yahoo.com

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ungkapan seperti yang anda sampaikan, yaitu tidurnya orang berpuasa merupakan ibadah memang sudah seringkali kita dengar, baik di pengajian atau pun di berbagai kesempatan. Dan paling sering kita dengar di bulan Ramadhan.

Di antara lafadznya yang paling populer adalah demikian:

نوم الصائم عبادة وصمته تسبيح وعمله مضاعف ودعاؤه مستجاب وذنبه مغفور

Tidurnya orang puasa merupakan ibadah, diamnya merupakan tasbih, amalnya dilipat-gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.

Meski di dalam kandungan hadits ini ada beberapa hal yang sesuai dengan hadits-hadits yang shahih, seperti masalah dosa yang diampuni serta pahala yang dilipat-gandakan, namun khusus lafadz ini, para ulama sepakat mengatakan status kepalsuannya.

Adalah Al-Imam Al-Baihaqi yang menuliskan lafadz itu di dalam kitabnya, Asy-Syu'ab Al-Iman. Lalu dinukil oleh As-Suyuti di dalam kitabnya, Al-Jamiush-Shaghir, seraya menyebutkan bahwa status hadits ini dhaif (lemah).

Namun status dhaif yang diberikan oleh As-Suyuti justru dikritik oleh para muhaddits yang lain. Menurut kebanyakan mereka, status hadits ini bukan hanya dhaif teteapi sudah sampai derajat hadits maudhu' (palsu).

Hadits Palsu

Al-Imam Al-Baihaqi telah menyebutkan bahwa ungkapan ini bukan merupakan hadits nabawi.Karena di dalam jalur periwayatan hadits itu terdapat perawi yang bernama Sulaiman bin Amr An-Nakhahi, yang kedudukannya adalah pemalsu hadits.

Hal senada disampaikan oleh Al-Iraqi, yaitu bahwa Sulaiman bin Amr ini termasuk ke dalam daftar para pendusta, di mana pekerjaannya adalah pemalsu hadits.

Komentar Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga semakin menguatkan kepalsuan hadits ini. Beliau mengatakan bahwa si Sulaiman bin Amr ini memang benar-benar seorang pemalsu hadits.

Bahkan lebih keras lagi adalah ungkapan Yahya bin Ma'in, beliau bukan hanya mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr ini pemasu hadits, tetapi beliau menambahkan bahwa Sulaiman ini adalah "manusia paling pendusta di muka bumi ini!"

Selanjutnya, kita juga mendengar komentar Al-Imam Al-Bukhari tentang tokoh kita yang satu ini. Belaiu mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr adalah matruk, yaitu haditsnya semi palsu lantaran dia seorang pendusta.

Saking tercelanya perawi hadits ini, sampai-sampai Yazid bin Harun mengatakan bahwa siapapun tidak halal meriwayatkan hadtis dari Sualiman bin Amr.

Iman Ibnu Hibban juga ikut mengomentari, "Sulaiman bin AmrAn-Nakha'i adalah orang Baghdad yang secara lahiriyah merupakan orang shalih, sayangnya dia memalsu hadits. Keterangan ini bisa kita dapat di dalam kitab Al-Majruhin minal muhadditsin wadhdhu'afa wal-matrukin. Juga bisa kita dapati di dalam kitab Mizanul I'tidal.

Rasanya keterangan tegas dari para ahli hadits senior tentang kepalsuan hadits ini sudah cukup lengkap, maka kita tidak perlu lagi ragu-ragu untuk segera membuang ungkapan ini dari dalil-dalil kita. Dan tidak benar bahwa tidurnya orang puasa itu merupakan ibadah.

Oleh karena itu, tindakan sebagian saudara kita untuk banyak-banyak tidur di tengah hari bulan Ramadhan dengan alasan bahwa tidur itu ibadah, jelas-jelas tidak ada dasarnya. Apalagi mengingat Rasulullah SAW pun tidak pernah mencontohkan untuk menghabiskan waktu siang hari untuk tidur.

Kalau pun ada istilah qailulah, maka prakteknya Rasulullah SAW hanya sejenak memejamkan mata. Dan yang namanya sejenak, paling-paling hanya sekitar 5 sampai 10 menit saja. Tidak berjam-jam sampai meninggalkan tugas dan pekerjaan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Euthanasia Menurut Hukum Islam

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Pak ustad yang dimulyakan Allah Swt. Akhir-akhir ini sering kita temukan tindakan medis yang dikenal dengan istilah euthanasia atau mempercepat kematian pasien.

Dalam tindakan ini dalih yang dipakai oleh dokter adalah untuk meringankan rasa sakit yang didera pasien atau dalih yang lain yaitu masalah ekonomi sang pasien yang kurang memadahi untuk memenuhi biaya pengobatan.

Pertanyaan yang ingin saya lontarkan adalah bagaimana pandangan Islam terhadap euthanasia tersebut? Dan mohon penjelasan makna euthanasia, macam-macam euthanasia beserta contohnya dan dalil-dalil yang membolehkan atau mengharamkan!

Terima kasih, semoga pas ustad selalu di bawah lindungan Allah Swt. Amin

Wassalammualiaikum Wr. Wb

Ana Widyawati
widya_wt87

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Euthanasia adalah sebuah istilah kedokteran. Istilah lain yang hampir semakna dengan itu dalam bahasa arab adalah qatl ar-rahmah (pembunuhan dengan kasih sayang) atau taisir al-maut (memudahkan kematian).

Euthanasia sendiri sering diartikan sebagai tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif.

Dua Macam Euthanasia

Kalau kita lihat dalam prakteknya, kita bisa membagi euthanasia menjadi dua macam. Pertama, euthanasia positif. Kedua, euthanasia negatif.

1. Euthanasia Positif

Eutanasia positif adalah tindakan memudahkan kematian si sakit -karena kasih sayang- yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan instrumen (alat) atau obat.

Contohnya, seorang yang menderita kanker ganas dengan rasa sakit yang luar biasa hingga penderita sering pingsan. Dalam hal ini dokter yakin bahwa yang bersangkutan akan meninggal dunia. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya, tetapi menghentikan pernapasannya sekaligus.

2. Eutanasia Negatif

Sedangkan euthanasia negatif adalah tindakan membiarkan saja pasien yang sudah parah sakitnya tanpa tindakan pengobatan.

Contohnya orang yang mengalami keadaan koma yang sangat lama. Dalam keadaan demikian ia hanya mungkin dapat hidup dengan mempergunakan alat bantu pernapasan di ruang ICU atau ICCU.

Alat pernapasan itulah yang memompa udara ke dalam paru-parunya dan menjadikannya dapat bernapas secara otomatis. Jika alat pernapasan tersebut dihentikan, si penderita tidak mungkin dapat melanjutkan pernapasannya.

Ada yang menganggap bahwa orang sakit seperti ini sebagai `orang mati` yang tidak mampu melakukan aktivitas. Maka memberhentikan alat pernapasan itu sebagai cara yang positif untuk memudahkan proses kematiannya.

Dalam contoh tersebut, `penghentian pengobatan` merupakan salah satu bentuk eutanasia negatif.

Hukum Euthanasia Positif

Memudahkan proses kematian secara aktif (eutanasia positif) jelas-jelas tidak diperkenankan oleh syariat Islam. Sebab yang demikian itu berarti dokter melakukan tindakan aktif dengan tujuan membunuh si sakit dan mempercepat kematiannya melalui pemberian obat secara overdosis.

Maka dalam hal ini, dokter telah melakukan pembunuhan, baik dengan cara pemberian obat overdossis yang pada hakikatnya merupakan racun yang keras, ataupun dengan menggunakan senjata tajam.

Semua itu termasuk pembunuhan yang haram hukumnya, bahkan termasuk dosa besar yang membinasakan.

Perbuatan demikian itu tidak dapat lepas dari kategori pembunuhan meskipun yang mendorongnya itu rasa kasihan kepada si sakit dan untuk meringankan penderitaannya. Karena bagaimanapun si dokter tidaklah lebih pengasih dan penyayang daripada Dzat Yang Menciptakannya.

Karena itu serahkanlah urusan tersebut kepada Allah SAW, karena Dia-lah yang memberi kehidupan kepada manusia dan yang mencabutnya apabila telah tiba ajal yang telah ditetapkan-Nya.

Hukum Euthanasia Negatif

Adapun memudahkan proses kematian dengan cara pasif, maka semua berkisar pada `menghentikan pengobatan` atau tidak memberikan pengobatan.

Hal ini didasarkan pada keyakinan dokter bahwa pengobatan yang dilakukan itu tidak ada gunanya dan tidak memberikan harapan kepada si sakit, sesuai dengan sunnatullah dan hukum sebab-akibat.

Dasar Kebolehan

Di antara yang mendasari kebolehan melakukan euthanasi negatif, yaitu tindakan mendiamkan saja si pasien dan tidak mengobati, adalah salah satu pendapat di kalangan sebagainulama. Yaitubahwa hukum mengobati atau berobat dari penyakit tidak sepenuhnyawajib. Bahkan pendapat ini cukup banyak dipegangolehimam-imam mazhab.

Menurut sebagian mereka, hukum mengobati atau berobat ini hanya berkisar pada hukum mubah.

Tetapi bukan berarti semua ulama sepakat mengatakan bahwa hukum berobat itu mubah. Dalam hal ini sebagian dari para ulama itu tetapmewajibkannya. Misalnyaapa yang dikatakan oleh sahabat-sahabat Imam Syafi`i dan Imam Ahmad bion Hanbal, jugasebagaimana yang dikemukakan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah. Mereka itu tetap beranggapan bahwa berobat dan mengupayakan kesembuhan merupakan tindakan yang mustahab (sunnah).

Perbedaan Pendapat

Para ulama bahkan berbeda pendapat mengenai mana yang lebih utama: berobat ataukah bersabar? Bersabar di sini berarti tidak berobat.

Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa bersabar (tidak berobat) itu lebih utama, berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan dalam kitab sahih dari seorang wanita yang ditimpa penyakit epilepsi. Wanita itu meminta kepada Nabi saw. agar mendoakannya, lalu beliau menjawab:

Jika engkau mau bersabar (maka bersabarlah), engkau akan mendapatkan surga; dan jika engkau mau, akan saya doakan kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.` Wanita itu menjawab, aku akan bersabar. `Sebenarnya saya tadi ingin dihilangkan penyakit saya. Oleh karena itu doakanlah kepada Allah agar saya tidak minta dihilangkan penyakit saya.` Lalu Nabi mendoakan orang itu agar tidak meminta dihilangkan penyakitnya.

Di samping itu, juga disebabkan banyak dari kalangan sahabat dan tabi`in yang tidak berobat ketika mereka sakit, bahkan di antara mereka ada yang memilih sakit, seperti Ubai bin Ka`ab dan Abu Dzar radhiyallahu`anhuma.

Dan tidak ada yang mengingkari mereka yang tidak mau berobat itu.

Dalam kaitan ini, Imam Abu Hamid al-Ghazali telah menyusun satu bab tersendiri dalam `Kitab at-Tawakkul` dari Ihya` Ulumuddin, untuk menyanggah orang yang berpendapat bahwa tidak berobat itu lebih utama dalam keadaan apa pun.

Demikian pendapat para fuqaha mengenai masalah berobat atau pengobatan bagi orang sakit. Sebagian besar di antara mereka berpendapat mubah, sebagian kecil menganggapnya mustahab (sunnah), dan sebagian kecil lagi --lebih sedikit dari golongan kedua-- berpendapat wajib.

Dalam hal ini kami sependapat dengan golongan yang mewajibkannya apabila sakitnya parah, obatnya berpengaruh, dan ada harapan untuk sembuh sesuai dengan sunnah Allah Ta`ala.

Inilah yang sesuai dengan petunjuk Nabi saw. yang biasa berobat dan menyuruh sahabat-sahabatnya berobat, sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Ibnul Qayyim di dalam kitabnya Zadul-Ma`ad. Dan paling tidak, petunjuk Nabi saw. itu menunjukkan hukum sunnah atau mustahab.

Oleh karena itu, pengobatan atau berobat hukumnya mustahab atau wajib, apabila penderita dapat diharapkan kesembuhannya. Sedangkan jika sudah tidak ada harapan sembuh, sesuai dengan sunnah Allah dalam hukum sebab-akibat yang diketahui dan dimengerti oleh para ahlinya --yaitu para dokter-- maka tidak ada seorang pun yang mengatakan mustahab berobat, apalagi wajib.

Apabila penderita sakit diberi berbagai macam cara pengobatan --dengan cara meminum obat, suntikan, diberi makan glukose dan sebagainya, atau menggunakan alat pernapasan buatan dan lainnya sesuai dengan penemuan ilmu kedokteran modern-- dalam waktu yang cukup lama, tetapi penyakitnya tetap saja tidak ada perubahan, maka melanjutkan pengobatannya itu tidak wajib dan tidak mustahab, bahkan mungkin ke balikannya (yakni tidak mengobatinya) itulah yang wajib atau mustahab.

Maka memudahkan proses kematian --kalau boleh diistilahkan demikian-- di mana dokter hanya meninggalkan sesuatu yang tidak wajib dan tidak sunnah, sehingga tidak dikenai sanksi, maka tindakan pasif ini adalah bolehdan dibenarkan syariat. Terutama bila keluarga penderita mengizinkannya dan dokter diperbolehkan melakukannya untuk meringankan si sakit dan keluarganya, insya Allah.

Semua itu dengan pertimbagan bahwa membiarkan si sakit dalam kondisi seperti itu hanya akan menghabiskan dana yang banyak bahkan tidak terbatas. Selain itu juga menghalangi penggunaan alat-alat tersebut bagi orang lain yang membutuhkannya dan masih dapat memperoleh manfaat dari alat tersebut.

Di sisi lain, penderita yang sudah tidak dapat merasakan apa-apa itu hanya menjadikan sanak keluarganya selalu dalam keadaan sedih dan menderita, yang mungkin sampai puluhan tahun lamanya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pak Ustadz, saya mau bertanya mengenai masalah hadits. Sepengetahuan saya jarang sekali malah belum pernah saya menemukan hadits yang diriwayatkan oleh Fatimah atau Ali bin Abi Tholib, kenapa ini bisa terjadi?

Padahal keduanya adalah orang yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW. Hal ini menjadi pertanyaan saya karena banyak dari golongan syiah yang menuduh bahwa muslim suni menghormati ahlul bait sebatas di bibir saja padahal sebenarnya mengingkarinya.

Terima Kasih atas jawaban Ustadz.

Wasalam

Echa

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Fatimah radhiyallahu 'anhamemang nyaris tidak pernah kita dapati riwayatnya, meski belum tentu benar. Namun Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhuadalah orang yang cukup banyak meriwayatkan hadits.

Tapi yang pasti, kedekatan seseorang dengan diri Rasulullah SAW tidak ada kaitannya dengan jumlah hadits yang mereka riwayatkan kepada kita. Bukankah kita pun jarang mendengar hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallau 'anhu? Demikian juga dengan riwayat Umar dan Utsman bin Affan radhiyallau 'anhum ajma'in?

Dan dengan alasan yang nyaris mirip, kira-kira hal yang sama juga terjadi pada diri puteri tercinta beliau, Fatimah radhiyallahu 'anha. Meski sangat dekat, tidak lantas punya banyak hadits yang diriwayatkan.

Hakikat Meriwayatkan Hadits

Hal itu karena yang namanya meriwayatkan hadits sangat berbeda dengan kedekatan kepada nabi. Meriwayatkan hadits kira-kira sama dengan mengajar hadits. Tidak semua orang punya kesempatan mengajar hadits.

Padahal yang namanya mengajarkan hadits itu baru terjadi manakala nabi SAW sudah wafat. Kalau nabi masih hidup, maka yang mengajar tentu saja langsung Rasulullah SAW.

Penyebab adanya sebagian shahabat yang tidak terlalu banyak mengajarkan haditsbisa karena memang dibebani kesibukan yang lain yang menjadi tanggung-jawabnya.

Ataukarena usianya tidak panjang. Beberapa shahabat nabi ada yang meninggal sesaat nabi SAW meninggal. Salah satunya Fatimah puteri beliau, yang meninggal hanya berselang 5 bulan setelah meninggalnya nabi. Maka tentu saja beliau tidak sempat banyak meriwayatkan hadits.

Persahabatan Nabi dengan Abu Bakar

Al-Quran menyebutkan secara tegas persahabatan di antara Abu Bakar dengan diri Rasulullah SAW. Bahkan yang jadi khalifah setelah Rasulullah SAW adalah beliau. Boleh dibilang, Abu Bakar ra adalah manusia yang paling mengerti tentang diri Rasululllah SAW, dibandingkan dengan semua orang.

Lalu mengapa Abu Bakar ra jarang meriwayatkan hadits?

Jawabannya sederhana saja, karena urusan jarak kematian antara keduanya. Abu Bakar ra meninggal hanya sekitar 2 tahun setelah Rasulullah SAW wafat. Sementara dalam waktu dua tahun itu, beliau amat disibukkan dengan berbagai macam pe-er di internal umat Islam. Maka nyaris jarang sekali kita menerima hadits yang beliau riwayatkan.

Hari-hari di mana Abu Bakar hidup pasca wafatnya Rasulullah SAW adalah hari-hari tersibuk. Beliau adalah khalifah, di mana beliau punya kewajiban meneruskan memimpin dunia Islam, yang sedang mengalami berbagai tekanan dari internal atau pun eksternal.

Di kalangan sebagian bangsa arab, muncul gerakan riddah (murtad) yang harus dihadapi dengan menghabiskan waktu. Bersama dengan itu, beliau pun harus meneruskan peperangan yang telah dipersiapkan oleh Rasulullah SAW di mana Usamah bin Zaid menjadi panglimanya. Di wilayah keilmuwan, beliau juga disibukkan dengan maha proyek pengumpulan tulisan Al-Quran, sesuai proposal dari Umar bin Al-Khattab ra.

Jadi, nyaris tidak ada lagi kesempatan beliau untuk meriwayatkan hadits. Meski beliau boleh dibilang orang yang tahu tentang diri Rasulullah SAW.

Fatimah binti Muhammad radhiyallahu 'anha

Maka kasus yang sama juga terjadi pada diri Fatimah ra. Beliau hidup tidak lama setelah nabi wafat. Para sejarawan mengatakan bahwa puteri nabi ini wafat hanya berselang 5 bulan setelah kematian ayahandanya. Jadi mudah sekali menjawab masalah ini, yaitu mana sempat beliau meriwayatkan banyak hadits?

Pantas saja kita jarang menerima hadits yang beliau riwayatkan, rupanya beliau wafat tidak lama setelah ayahndanya wafat.

Keadaan Fatimah ra sangat berbeda dengan keadaan isteri Rasulullah SAW, Aisyah radhiyallahu 'anha. Beliau hidup hingga tahun 57, atau 58 atau 59 hijriyah. Bahkan sempat ikut berbagai macam even. Beliau pun menjadi rujukan hal-hal yang terkait dengan kehidupan rumah tangga nabi. Dan beliau juga banyak meriwayatkan hadits yang bersifat agak teknis sebagaimana Abu Hurairah ra berikut ini.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu

Sebaliknya kita kenal Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu sebagai orang yang baru masuk Islam di masa-masa terakhir menjelang kematian Rasulullah SAW. Hanya beberapa saat saja beliau sempat bertemu dengan diri nabi SAW.

Namun sebagaimana kita tahu, shahabat yang satu ini termasuk orang yang paling banyak meriwayatkan hadits nabawi.

Lalu bagaimana penjelasannya?

Begini, meski pun Abu Hurairah ra hanya sebentar bertemu dengan nabi SAW. Diriwayatkan beliau baru bertemu nabi pada perang Khaibar tahun ke-7 hijriyah. Tiga tahun kemudian Rasulullah SAW wafat untuk selamanya.

Namun masa yang sebentar itu sangat efektif. Di masa yang sebentar itu, nyaris tiap saat beliau selalu mendampingi Rasulullah SAW.

Dan kalau kita perhatikan tipe hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, kebanyakan adalah hadits-hadits yang bersifat laporan pandangan mata serta umumnya hal-hal yang teramat teknis yang terjadi seputar diri Rasulullah SAW.

Bagaimana Rasulullah SAW berjalan, berdiri, makan, minum, bergerak-gerik, berbicara, tersenyum, tertawa, mengenakan baju corak dan warna apa dan seterusnya. Begitu banyak hal-hal kecil dan sederhana yang dilaporkan oleh Abu Hurairah.

Sehingga kalau dihitung, jumlahnya memang bisa menjadi sangat besar, jauh melebihi riwayat-riwayat para shahabat lainnya. Disebutkan bahwa beliau telah meriwayatkan tidak kurang dari 5374 hadits, 446 hadits di antaranya ditakhrij oleh Al-Bukhari.

Dan ini yang menarik, ternyata Abu Hurairah punya waktu yang sangat panjang untuk mengajarkan hadits-hadits sepeninggal Rasulullah SAW, karena beliau baru wafat 47 tahun kemudian setelah Rasulullah SAW meninggal. Beliau wafat tahun ke-57 hijriyah dalam usia cukup lanjut, 78 tahun.

Pantas saja beliau adalah orang nomor satu dalam jumlah kuantitas periwayatan hadits.

Ilustrasi

Sebagai ilustrasi sederhana, mari kita perhatikan dua situs berita di negeri kita. Yang satu detik.com dan yang satu eramuslim.com.

Kalau anda hitung berapa jumlah berita yang ada di detik.com, pasti anda akan kagum, karena jumlahnya sangat banyak. Namun kalau anda perhatikan lebih seksama, rupanya berita di detik.com itu pendek-pendek, meski memang cepat. Untuk satu kejadian, judul beritanya bisa mencapai belasan. Setiap ada perkembangan baru, pasti ada judul baru meski untuk satu kasus yang sama.

Padahal untuk kejadian yang sama, barangkali eramuslim.com hanya membuat satu judul saja. Sehingga eramuslim terkesan punya berita yang sedikit.

Nah, kira-kira Abu Hurairah itu melakukan apa yang dilakukan oleh detik.com, banyak haditsnya namun isinya simple, sederhana bahkan banyak yang pendek.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kamis, September 13, 2007

Mengapa Bersedih?

Oleh Chandra Kurniawan

Betapa banyak bencana yang menimpa manusia. Yang kesemuanya berakhir dengan tangisan dan penderitaan. Ada yang kehilangan seluruh anggota keluarganya; kehilangan harta bendanya; terampas kekuasaannya; terusir dari negerinya; belum mendapatkan pendamping hidup. Semua ujian dan cobaan, kecil atau besar, sudah pasti datang tanpa perlu diminta. Sebelum ia datang menemui kita, sudah seharusnya kita menguatkan diri agar tidak terjungkal karenanya. Apalagi ketika menghadapi ujian yang sangat kecil, kita tidak mungkin kalah olehnya!

Namun, secepat ia datang, secepat pula ia pergi. Ujian dan cobaan sudah pasti pula akan segera berlalu. Seperti berlalunya malam dan datangnya fajar kebahagiaan. Atau seperti tamu yang numpang lewat sesaat. Atau seperti keadaan dunia, tempat persinggahan sementara ini. Sebuah tempat yang sudah pasti akan hancur binasa, dalam waktu dekat. Namun anehnya, banyak orang yang menangisi dunia ini, sementara tempat tinggal abadi kelak, tidak kita tangisi karena kita tidak tahu akan ke mana.

Airmata yang jatuh karena masalah-masalah duniawi hanyalah kesia-siaan belaka. Dia tidak memberikan apa-apa bagi ketenangan jiwa. Karena, dunia ini adalah tempat yang sangat rapuh untuk dijadikan tempat bersandar. Kita sering bersedih karena terlewatkan menonton acara TV kegemaran kita, tetapi kita tidak bersedih dengan terlambatnya kita dari shalat fardhu berjamaah. Kita sering bersedih karena waktu malam tidak diisi dengan pelbagai hiburan, canda tawa dan pembicaraan yang tiada berarti, tetapi kita tidak bersedih dengan malam yang tidak diisi dengan qiyamul lail. Kita bersedih karena sahabat kita mendapat kebahagiaan, sedangkan ketika kita mendapat kebahagiaan, kita mencibir teman yang sedang mendapat kemalangan. Oh, tidakkah kita telah banyak menumpuk kesedihan dalam hati kita?

Sedangkan bagi para wali-wali Allah, yang mereka sedihkan adalah urusan-urusan akhirat. Mereka sedih apabila di malam hari mereka tidak mengerjakan qiyamul lail. Mereka sedih apabila tidak mampu bersedekah, padahal mereka tidak punya kemampuan untuk itu. Mereka sedih apabila tidak shalat fardhu berjamaah. Mereka sedih ketika melakukan dosa, sekalipun dosa itu sangat ringan. Mereka menangis dikeheningan malam, memohon kepada-Nya, mengharap bantuan-Nya, pasrah kepada-Nya. Mereka merasa bahagia bersama Allah. Hati mereka selalu terhibur walau dalam keadaan sepi. Titik pusat perhatian mereka adalah akhirat. Mereka tidak mendengki dengan kenikmatan yang diperoleh orang lain. Hati mereka sabar. Jiwa mereka penuh ketulusan dan kekhusyuan. Bagi mereka, ujian dan cobaan adalah satu syarat untuk meninggikan derajat keimanan mereka. Mereka juga memandang, bencana-bencana itu tidak seberapa dibanding dengan bencana-bencana yang akan mereka terima kelak apabila mereka tidak bersabar dan banyak berkeluh kesah.

Salah seorang ulama tabi'in berkata, "Sejak empat puluh tahun yang lalu, saya tidak pernah bersedih karena sesuatu, sebagaimana kesedihanku lantaran fajar telah terbit." Simaklah pernyataan itu wahai sahabatku, tidaklah mereka bersedih karena hal-hal duniawi. Yang mereka sedihkan adalah berlalunya waktu di mana mereka merasa asyik berduaan dengan-Nya. Bandingkan dengan diri kita yang kerap bersedih karena hal-hal duniawi. Merenunglah! Mungkin karena hal itulah kita tidak pernah tidur dengan tenang, jiwa kita senantiasa resah dan gelisah, boleh jadi kita lebih mencintai dunia yang fana ini daripada akhirat yang kekal abadi.

Sahabatku, tidak ada jalan bagimu kecuali beriman dan bertakwa. Karena itulah sebaik-baik bekal perjalanan. Saat awan mendung membalut hatimu, kelak Allah akan memberikan cahaya mentari yang menyejukkan. Saat dadamu terasa kering karena kerasnya ujian, Allah akan menurunkan hujan rahmat ke dalam hatimu. Jika engkau beriman dan bertakwa, Allah akan menerima setiap amalmu, Allah akan membimbingmu hingga masa akhirmu. Allah tidak akan menyia-nyiakan setiap detik yang telah engkau persembahkan untuk negeri akhirat.

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.
Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.
Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS. Yunus [10]: 62-65).