Kamis, September 13, 2007

Meraih Keutamaan Membaca Qur’an

Oleh Muhammad Rizqon

Ahad pagi, saat mentari belum beranjak dari peraduannya, aku berjalan menuju sebuah kawasan Islamic centre di wilayah Pondok Gede. Tidak terlihat lalu lalang orang bepergian ke kantor atau anak-anak ke sekolah. Tetapi banyak muslimah datang berduyun-duyun. Ada yang berjalan kaki setelah turun dari angkot, ada yang berkendara sepeda motor, dan tidak sedikit pula yang mengendarai mobil. Suasananya mirip kawasan pondok pesantren putri. Semuanya bergerak menuju tempat yang sama, yaitu majelis di mana diadakan pengajaran memperbaiki bacaan al-Qur'an.

Saat kuberjalan, kudengar dari sebuah rumah, suara para muslimah ramai melafalkan Qur’an. Kemudian kuayunkan beberapa langkah, dari sudut rumah lainnya terdengar suara para muslimah yang juga ramai melantunkan Qur’an. Saat aku berada di pusat kawasan, kudengar di sekelilingku suara-suara Qur’an yang bergemuruh. Kuamati, mereka ada yang berlatih melafalkan huruf atau kata dari Qur’an, ada yang lancar, ada yang yang terbata-bata, ada yang melancarkan bacaan Qur’an, dan ada yang mengulang-ulang hafalan. Sungguh kurasakan lantunan Qur’an yang bergema dari berbagai sudut rumah itu, laksana melodi yang berpadu membentuk harmoni yang menyejukkan kalbu dan menggetarkan jiwa. Kawasan tersebut layaknya lautan lebah yang mendengungkan kalimat tasbih.

Itulah gambaran semaraknya para muslimah belajar membaca al-Qur’an. Aku mengagumi langkah-langkah muslimah menuju majelis belajar baca al-Qur’an itu. Mereka belajar dari berbagai penjuru daerah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi demi bisa membaca al-Qur’an. Mereka memilih hari Ahad, karena hari itulah mereka bisa meluangkan waktu dan tidak memiliki banyak kesibukan. Luar biasa kemauan mereka!.

Gelora muslimah yang ingin bisa membaca al-Quran, menjadikan muslimah yang datang pada hari Ahad sangat semarak. Lembaga tahsin memfungsikan rumah penduduk sekitar sebagai kelas. Syukur, pemilik rumah pun menyambut dengan antusias. Mereka berharap kebaikan dan keberkahan semata karena rumahnya digunakan untuk mempelajari al-Quran.

***

Ya, kesadaran akan pentingnya membaca Qur’an lah yang meringankan langkah-langkah mereka menuju tempat yang jauh dengan mengorbankan semua aktivitas lainnya. Mereka merasa perlu belajar membaca al-Qur’an karena di balik membaca al-Qur’an terkandung keutamaan-keutamaan yang sangat besar. Rasulullah bersabda: Membaca satu huruf dari al-Qur’an berbalas pahala satu amal kebajikan, dan pahala satu amal kebajikan dilipatkan sepuluh kali. Alif lam mim bukanlah satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. Di Hadits lain dikatakan bahwa orang yang pandai membaca al-Qur’an maka ia bersama malaikat yang mulia lagi suci, sedangkan mereka yang terbata-bata membacanya, memperoleh dua pahala. Dan hadits yang cukup menggugah mereka adalah al-Qur'an pada hari kiamat akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya.

Motivasi belajar mereka makin menggebu menjelang Ramadhan ini. Terbayang alangkah bahagianya orang yang pandai membaca al-Qur'an. Setiap hari di bulan Ramadhan secara rata-rata bisa membaca membaca satu hingga dua juz al-Qur'an bahkan bisa jadi lebih. Satu hurufnya saja berbalas sepuluh kebaikan. Di bulan Ramadhan tentu satu hurufnya yang dibacanya berpuluh-puluh kali lipat kebaikannya. Subhanallah.

Siapa yang tidak bergegas meraih kebaikan Qur’an, sesungguhnya dia orang yang merugi.

***

Aku heran, masih ada aja orang yang enggan belajar membaca al-Qur’an.

Aku bertetangga dengan seorang ibu. Ibu itu cukup dekat dengan kami. Dia sering datang ke rumah membantu pekerjaan tertentu. Kadang dipanggil untuk mengurut isteri atau bayiku. Jika ada hajat apapun ia kami libatkan. Kami selalu memberinya sejumlah uang semata-mata ingin meringankan dia yang dihimpit kesusahan. Kadang jika keperluannya besar, ia datang meminjam uang dengan tempo pembayaran yang tidak kami atur.

Sebagai orang yang sudah dikenal, isteriku coba memasukan nilai-nilai Islam ke dalam dirinya. Tak lama ia pun menggenakan jilbab. Kata-katanya jadi terjaga. Dan sholatnya pun jadi rajin.

Anak-anaknya coba kami bantu. Baik uang sekolah bulanan, atau dicarikan pekerjaan. Singkat cerita, dua anaknya kini sudah bekerja. Yang tertua sudah menikah. Dapurnya akan ringan karena dibantu oleh anak-anaknya yang sudah berpenghasilan. Dia tidak lagi banyak kekurangan uang seperti dulu.

Seiring dengan berkurangnya kesusahan, anehnya ia mulai jauh dari nilai-nilai Islam. Ia mulai berpandangan sinis. Kini ia mulai menanggalkan jilbabnya. Bujukan-bujukan isteriku untuk istiqomah sudah tidak digubris lagi. Kini saat isteriku membentuk majelis taklim, ia tidak mau mengikuti. Padahal majelis taklim itu bebas dari muatan politik yang ia tuduhkan. Isteriku semata-mata mengajak mereka untuk bisa membaca al-Quran dan sedikit mengenal Islam.

Sungguh disayangkan, orang-orang baru banyak mendapat hidayah dari perantaraan isteriku, sedangkan dia yang sudah dikenal lama makin menjauh. Kini aku menyadari bahwa apa yang semua kebaikan yang dilakukannya dulu adalah tidak tulus. Didorong oleh suatu motif ekonomi belaka.

Sebagaimana kata-kata bijak, barang siapa yang tidak mau bersama kebaikan maka ia bersama dengan kemaksiyatan. Maka ia pun makin jauh dengan kelalaiannya. Keterjauhan itu selaras dengan keengganannya untuk belajar al-Qur'an.

Waallahu'alam

Kendali Ego

Oleh Bayu Gawtama

Jumat pagi itu, motor terpacu dengan kecepatan tidak kurang dari 60 km/jam ketika tiba-tiba saya melewati seorang pengendara motor lainnya yang berhenti mendadak. Penyebabnya, kantong besar berisi ikan yang masih hidup yang dibawanya pecah. Berhamburan lah air dan puluhan ikan itu ke jalan raya.

Saat itu saya sempat ragu untuk berhenti, ada beberapa pertimbangan yang menyebabkan keraguan itu. Pertama, waktu sudah menunjukkan pukul 07. 50 WIB dan saya harus segera ke kantor. Sedangkan perjalanan ke kantor butuh waktu kurang lebih delapan hingga sepuluh menit lagi. Jika saya tetap melanjutkan perjalanan, biasanya tidak akan terlambat. Kedua, saya alergi ikan. Bukan hanya makan makhluk air itu, bahkan mencium ‘amis’nya pun sudah membuat saya terkena penyakit aneh seperti pusing, mual dan gatal-gatal.

Dua hal tersebutlah yang sempat memberatkan. Namun beberapa detik kemudian saya putar arah menuju lelaki yang jelas-jelas membutuhkan bantuan itu. Sejurus kemudian, mulailah tangan ini membantu memungut satu persatu ikan yang menggelepar di jalan raya, beberapa orang lainnya pun turut membantu.

Menurut lelaki pembawa ikan itu, ikan-ikan itu adalah pesanan seseorang yang hendak menggelar pesta. Si pemesan hanya akan membayar ikan yang segar dan bukan ikan yang sudah mati. Karenanya, ketika plastik ikannya pecah dan ikannya berhamburan ia sangat panik. “saya bisa dipecat bos nih…” keluhnya.

Beruntung, beberapa orang –dan alhamdulillah termasuk saya- cepat membantunya mengumpulkan ikan agar tidak ada yang mati. Boleh jadi, jika ia mengumpulkan sendiri puluhan ikan tersebut, butuh waktu yang tidak sebentar dan sangat mungkin ada beberapa ikan yang mati. Saya tidak tahu persis berapa harga satu ikan tersebut, tinggal dikalikan berapa jumlah yang mati. Tapi berapa pun harganya, tetaplah berat buat si pengantar ikan tersebut.

Usai mengumpulkan ikan-ikan itu, si pengantar ikan mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang membantunya. Namun saya bilang, “saya yang berterima kasih, telah diberi kesempatan berbuat baik di pagi hari”.

Ya, saya bersukur dan merasa berterima kasih karena bisa mengawali hari dengan sesuatu yang baik. Di samping itu, saya pun diberi pelajaran berharga tentang bagaimana mengendalikan ego. Saya tahu pasti akan terlambat ke kantor jika menolong orang tersebut. Namun resiko yang saya dapatkan mungkin hanya ‘catatan kecil’ dari HRD bahwa saya pernah terlambat beberapa menit. Tidak ada resiko pemecatan, pemotongan gaji atau caci-maki bos. Tapi bagi si pengantar ikan itu, ceritanya akan sangat berbeda. Ia bisa diminta mengganti ikan-ikan yang mati, kemudian dicaci-maki bosnya, dan akhirnya berujung pada pemecatan.

Dan yang kedua soal alergi ikan itu. Luar biasa, apa yang menjadi kekhawatiran saya selama ini berkaitan dengan ikan itu tidak terjadi. Saat memungut ikan dan sampai ke kantor hingga keesokan harinya tidak terjadi satu apapun terhadap diri saya. Tidak ada pusing, tidak mual maupun gatal-gatal setelahnya. Padahal, biasanya mencium bau ikan saja saya sudah menyingkir jauh-jauh. Meski bukan berarti saat ini saya sudah bisa makan ikan, karena tetap saja saya belum bisa. Tetapi yang jelas, hari itu ego saya terkendalikan dan yang ada dalam pikiran saat itu hanya satu; orang tersebut harus ditolong.

Soal ego memang gampang-gampang susah mengendalikannya. Tetapi saya meyakini satu hal, bahwa ego menolong wajib dikedepankan dan semoga menjadi kebiasaan yang baik buat saya. (gaw)

Http://gawtama. Multiply. Com

Lupa Bersyukur

Oleh Nunung Nurjanah

Bersyukur adalah hal yang sering saya lupakan. Lebih sering saya mengeluh, lebih sering saya melihat dari sisi yang negative, dan lebih sering saya membandingkan satu hal yang saya peroleh dengan hal baik yang sedang tidak saya peroleh.

Padahal Allah berfirman:
Bersyukurlah, maka akan Aku tambah nikmat-Ku

Ketika tangan tergores pisau, tergesa-gesa saya menilai betapa kurang beruntungnya saya pagi ini. Semestinya saya tidak harus tergores sehingga tak perlu ada darah dan luka. Seketika saya mengeluhkan tangan yang tak bisa secekatan sebelumnya.
Saya lupa, bahwa dengan hal kecil itulah Allah mengingatkan saya.
Betapa selama ini saya melupakan syukur kepada-Nya atas karunia 10 jari tangan yang bisa berfungsi dengan baik, tapi tidak difungsikan dengan benar. Masih sering saya tidak banyak membantu disaat orang lain memerlukan bantuan tangan saya. Masih sering saya malas-malasan melakukan kebaikan lewat tangan saya. Masih banyak daftar jelek yang dilakukan tangan saya daripada daftar baik yang dilakukannya.

Ketika mulut tak sengaja tergigit dan meninggalkan luka, secepat itu pula saya mengeluh akan kemungkinan tidak nikmatnya saya makan. Saya lupa bahwa Allah sungguh sayang kepada saya dan mengingatkan saya dengan cara-Nya yang indah. Betapa selama ini saya lupa mensyukuri nikmatnya. Lebih banyak kata-kata kosong yang saya ucapkan. Lebih banyak hati terluka karena ucapan saya. Lebih banyak kata tak bermanfaat yang terhambur dibandingkan mengumandangkan kalam-Nya.

Ketika kaki tersandung dan terluka, saat itu pula saya menyesalkan langkah saya yang tak lagi sempurna. Tak saya tahu bahwa itulah cara Allah mengingatkan saya atas kurangnya kaki berbuat baik, jarangnya kaki melangkah menuju tempat-tempat yang baik, atau tak seringnya kaki melangkah untuk bersilaturahmi, . Juga masih seringnya kaki berjalan tak bermanfaat dan melangkah ke tempat-tempat yang tak ada gunanya.

Jadi apa yang akan saya jawab dihari penghisapan kelak jika Allah menanyakan kebaikan apa yang telah tangan saya lakukan? Kata-kata baik apa yang telah saya ucapkan? Atau ke tempat baik manakah kaki telah saya langkahkan?

Saya tak punya jawaban.

Semestinya saya harus menyiapkan cermin besar yang akan selalu memberi pantulan jernih terhadap nikmat apa yang sudah saya peroleh.
Cermin lapang yang darinya saya bisa melihat betapa Allah telah memberi saya sebanyak yang saya inginkan, bahkan lebih dari itu.
Cermin tak retak yang akan memantulkan bahwa hal kurang baik yang saya terima adalah tak sebanding dengan banyaknya hal indah yang saya dapat.
Cermin jernih yang saya bisa dengan lapang dada menerima kekurangan yang saya terima dan berharap akan pahala Allah atas kesabaran saya menerimanya.

Ternyata saya masih harus banyak belajar Tentang hidup dan kehidupan Tentang rasa syukur yang tak pernah ada.
Tentang apa saja

Yang semoga akan menuntun saya kepada kebaikan di akhirat kelak.
Amin.

Selalu Memberikan Maaf

Oleh Dh. Devita

Dari dulu, saya selalu yakin bahwa sepanjang nyawa masih menempel di raga, Allah pasti akan menerima taubat seseorang. Betapapun seseorang tersebut berkali-kali melakukan kesalahan. Betapapun seseorang tersebut tak menyadari betapa Allah telah berulang kali memberikannya kesempatan untuk bertaubat. Oleh karena itulah, saya tidak pernah putus asa menyemangati seseorang yang saya kenal, yang saya tahu sudah begitu banyak kesalahan yang ia perbuat semasa hidupnya.

Kalau ditanyakan kepada orang lain, mungkin beragam tanggapan yang akan saya terima. Ada yang langsung bersikap sinis dan mengatakan bahwa dosa orang tersebut terlalu besar. Dan mungkin ada pula yang memilih bersikap skeptis bahwa seseorang tersebut tidak mungkin berubah sampai kapanpun. Saya adalah salah seorang terdekat dari seseorang tersebut, sebut saja si A, yang cukup mengetahui sejarah panjang ‘kelakuannya’ yang tak pernah tidak membuat orang lain geleng-geleng kepala. Bahkan untuk beberapa kasus, saya sendiri terhitung menjadi korban akibat perilakunya yang tidak bertanggung jawab.

Tetapi, entah kenapa, saya tetap saja ‘membela’ si A di hadapan orang lain seraya mengatakan: “Ia sedang berusaha untuk bertaubat”.

Banyak orang mungkin merasa heran dengan sikap saya tersebut. Padahal mereka mengetahui apa saja yang telah diperbuat oleh si A terhadap diri saya. Saya sendiri memang merasakan tak sedikit penderitaan yang saya rasakan akibat ulah si A tersebut. Tetapi, sekali lagi, entah kenapa saya selalu berusaha memaafkannya. Mungkin rasa sayang saya begitu besar pada si A. Mungkin di lubuk hati saya yang paling dalam, saya begitu mengharapkan si A untuk berubah, bertaubat, dan tidak lagi mengulangi perbuatannya. Saya rasanya masih bisa membuka lebar-lebar hati saya untuknya. Apalagi dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini si A memang benar-benar berubah, menurut saya. Saya jadi mensyukuri keputusan saya untuk memaafkan segala perbuatan buruknya yang dilakukan pada saya.

Melihat perubahan demi perubahan yang terjadi pada dirinya, saya tak habis-habis mengucap syukur pada Allah. Bahkan kadang-kadang saya tidak percaya, bahwa si A bisa begitu berubah. Ia tak pernah tidak menunaikan shalat tepat waktu. Ketika adzan berkumandang, ia langsung bangkit dari aktivitasnya dan langsung mengambil wudhu. Saat hari Jumat tiba, ia dengan begitu bersemangat berjalan kaki dari rumah menuju masjid terdekat. Seringkali saya terharu melihatnya tersenyum-senyum pulang ke rumah dengan sajadah tersampir di pundak. Pun ketika saya mendapatinya begitu rajin berpuasa sunnah setiap hari Senin dan Kamis.

Sewaktu ia berada di luar rumah, misalnya sedang berjalan-jalan ke sebuah mal, ia dengan percaya dirinya langsung menghampiri mushala untuk menunaikan shalat apabila waktunya telah tiba. Saya melihat semangat menuju kebaikan yang tak habis-habisnya pada diri si A. Dan rasanya saya ingin melakukan apapun untuk membuatnya tambah bersemangat, dan memberikan sedikit ilmu yang saya punya untuknya. Ternyata benar, memberikan maaf kepada orang yang berbuat salah bisa jadi akan menimbulkan semangat pada dirinya untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Allah saja mengampuni seluruh dosa hamba-hamba-Nya, masa manusia tidak? Begitu keyakinan saya.

Dalam banyak diskusi yang kami lakukan, saya pun mendapati dirinya penuh keingintahuan tentang Islam. Tak jarang kami mengobrol lama mengenai hal-hal yang ingin diketahuinya. Dan saya sendiri merasakan bahwa sepertinya saya yang jadi bersemangat untuk menceritakan dan memberitahukan segala hal yang saya tahu kepadanya. Tak henti-hentinya saya bersyukur pada Allah akan kesempatan yang Ia berikan pada si A untuk memperbaiki diri.

Suatu hari, secara tak sengaja saya mendengar sebuah kabar mengejutkan dari seorang saudara saya. Ia mengatakan bahwa ia mengetahui si A melakukan lagi perbuatan yang sudah lama ia tinggalkan. Saya kontan saja kaget. Benar-benar tidak menyangka. Saya meminta saudara saya itu untuk memeriksa kembali, bahkan memintanya untuk memberikan bukti-bukti kepada saya akan perbuatan yang dilakukan si A.

Dan demikianlah, beberapa bukti yang secara tidak sengaja ditemukan oleh saudara saya itu, benar-benar membuat saya kaget. Sepertinya saya tidak mau percaya. Dan si A berusaha untuk berkilah, menghindari pertanyaan yang kami berdua sodorkan. Awalnya saya menemukan rasa sesal dan mungkin sedikit rasa takut pada diri si A bahwa perbuatannya telah diketahui. Tetapi ketika kedua kalinya saya memintanya untuk menjelaskan, pernyataan yang saya dapatkan adalah ”Apa ada yang salah?”

Saya rasanya tidak bisa lagi mengobati rasa kecewa ini, pada saat ini. Dan saya tidak tahu kapan saya akan bisa memberikan maaf untuknya yang ke sekian kalinya menyakiti lagi diri saya, dan juga keluarga kami. Kesalahan yang diperbuat untuk yang kedua kalinya, atau entah ke sekian kali. Memang ada saja ulah setan untuk menggoda manusia yang sedang berusaha bertaubat. Memang selalu ada ujian-ujian bagi orang-orang yang ingin meningkatkan keimanannya.

Memang hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan dan mencabut hidayah pada diri seseorang. Saya benar-benar kecewa. Tetapi satu hal yang saat ini sedang saya usahakan dengan sangat keras untuk tetap mendiami hati saya. Sebuah keyakinan bahwa taubat seseorang akan selalu diterima oleh Allah, sampai waktu ajalnya tiba nanti. Dan saya berdoa, agar Allah masih berkenan untuk memberikan ampunan serta kesempatan pada si A untuk sekali lagi bertaubat.

Dh_devita at yahoo dot com

FLP cabang Sengata

Ikhlas Puasa

Oleh Hafizh Kharisma

Suara si sulung terus terdengar di telinga.berulang -ulang..
“bangunin elva jam 3 pagi besok ya Mah?”
dengan heran saya bertanya “buat apa? Mau tahajud ya?” saya setengah menggoda. Ini bukan kebiasaannya. Sambil melirik ke jam dinding yang menunjukkan pukul 20. 40 WIB saya kembali menyambung pertanyaan tanpa menunggu jawabannya.

“Kalau memang mau tahajud ya bobo aja sekarang.. dan ntar tengah malam pasti mama bangunin buat solat. Ga perlu nunggu jam 3 pagi”
Dengan malu-malu dia mendekat pada saya dan berbisik..
“Tapi teteh mau sahur besok, bayar utang puasa sehari tahun lalu. Waktu teteh sakit. Inget ga Mah?”

Dada ini langsung bergemuruh… saya yang sedang asyik larut dalam sinetron langsung berbalik dan menatapnya. Mata bulatnya yang bening dengan bulu mata lentik itu telah menghadirkan tangis haru di hati saya. Saya merentangkan kedua tangan saya dan tanpa menunggu lama dia pun luruh dalam pelukan saya. Saya mendekapnya kuat-kuat dan berharap dunia berhenti sesaat agar waktu untuk ini menjadi lebih lama.

“Mama lupa kalo teteh punya hutang puasa. Untung aja teteh inget. Tapi teteh kan sekolah siang.. nanti kelaparan dan kehausan di sekolah gimana?” Tanya saya setengah meragukan keseriusannya untuk puasa.
“Ga papa.. nanti istirahat di kelas aja. Ga usah keluar kelas. ” Jawabnya mantap dan penuh keyakinan.

Saya kembali memeluknya. Bangga memiliki dia sekaligus juga malu karena sebagai orang tua terlupa mengingatkannya.

Sesungguhnya Ramadhan memang bulan yang ditunggu tunggu seluruh umat muslim untuk mejalankan ibadah puasa. Bulan di mana kita tidak sekedar menahan lapar dan dahaga tetapi juga bulan penuh pelajaran berharga bagi kaum yang mau berpikir. Kewajiban orang tua juga lah membimbing anak-anaknya untuk belajar berpuasa dan menjalankan kewajibannya. Mengingatkan mereka makna dari puasa yang bukan sekedar tidak makan dan minum dari subuh sampai magrib tetapi puasa merupakan upaya menahan hawa nafsu, upaya berpikir jernih manakala perut kosong dan upaya menahan kesabaran untuk mengumbar segala keinginan. Tidak mudah memang menerangkan dengan bahasa sederhana yang bisa ditangkap oleh anak-anak.

Sejujurnya sebagai orang tua saya pernah merasakan berat melepaskan si kecil untuk berpuasa sehari penuh. Usianya baru akan mencapai 5 tahun kala itu. Ketika adan dhuhur berkumandang, saya memanggilnya untuk makan dan kemudian kembali meneruskan puasa sampai maghrib. Puasa ayakan kami menyebutnya.

Sebagai tahapan untuk belajar puasa sehari penuh dan agar perut kecilnya tidak sakit. Tapi dia menolak makan siang yang saya tawarkan meski saya membujuknya dan mengatakan bahwa dia bisa kembali berpuasa sampai maghrib. Sampai akhirnya saya mengalah dan berpikir bahwa nanti adan ashar dia pasti akan buka puasa juga. Tapi entah kenapa si kecil tetap berusaha bertahan untuk tidak berbuka puasa walau saya lihat wajahnya sudah pucat dan badannya terlihat lemas. Sampai menangis saya membujuknya untuk berbuka puasa. Dia tetap bertahan dan akhirnya tertidur dalam pelukan saya. Disatu sisi saya senang anak-anak dengan kemauan sendiri menjalankan ibadah puasa tapi disisi lain, hati saya sebagai ibu tak bisa berbohong bahwa ada rasa sedikit tidak rela melihatnya seperti ini. Ini ujian bagi saya selaku orang tua berkenaan dengan rasa ikhlas. Tidak ada yang mudah dalam menjalankan ibadah bila kita tidak bersungguh-sungguh berserah pada Allah SWT.

Namun ketika semua kita pasrahkan pada kehendakNya maka kita akan melihat dengan cara yang berbeda. Jalan di depan terbuka lebar, kita melangkah dengan penuh keyakinan dan segalanya menjadi lebih mudah. Kuncinya adalah ikhlas. Ketika saya tidak sepenuhnya ikhlas melepas si kecil puasa sehari penuh maka yang terasa adalah seperti ada beban ketika melihat si kecil lemas. Namun ketika melihat keikhlasannya menjalankan puasa dan hati saya mulai ikhlas mempercayai kemampuan dan kemauannya maka yang ada adalah kebanggaan. Ramadhan selalu mengajarkan hal-hal baru bagi kami sekeluarga.

Ramadhan telah di depan mata. Saya menyambut bulan ini dengan berusaha membuka mata hati dan telinga hati lebar-lebar. Membuka hati ini seluas-luasnya untuk bisa mengambil hikmah dan pelajaran berharga yang Allah SWT beri bagi kita. Meski belum menapak di bulan ramadhan namun anak-anak ternyata telah mengajarkan banyak hal pada saya, terutamakewajiban saya sebagai orang tua, bagaimana saya harus menyikapi ramadhan. Semoga ramadhan tahun ini memberi kebaikan lebih banyak lagi dibandingkan tahun sebelumnya. Aamiin.

10 September 2007

Selamat menjalankan ibadah puasa. Mohon maaf lahir & bathin.
Semoga anak-anak kita bisa menangkap makna ramadhan dan selalu merindukan kehadiran ramadhan.