Oleh Sya2
Belum terlalu lama saya mengenalnya, baru sekitar 3 bulan lalu semenjak saya memutuskan untuk berlangganan ojeg dengannya. Tarif ojegnya lebih murah dibanding dengan yang ditawarkan tukang ojeg lainnya. Jika yang lain meminta Rp 7000, dia hanya meminta Rp 5000 untuk pengganti jasa mengantarkanku dari stasiun Tanah Abang menuju kantorku di Slipi.
Pak Asmadi namanya, usianya sudah kepala empat, ia mengaku sudah delapan belas tahun menjalani profesinya sebagai tukang ojeg. Pertemuan yang hampir tiap hari dengannya, membuat saya tahu tentang sedikit kisah hiudpnya, kadangkala saya dibuat kagum ketika darinya saya peroleh kata-kata bijak, nasehat, layaknya seorang bapak yang sedang menasehati anaknya.
Siapa menyangka kalau tukang ojeg yang hanya lulusan SLTA itu mempunyai seorang isteri yang berpangkat eselon 3 di salah satu kantor pemerintahan di Jakarta. Isterinya adalah lulusan pasca sarjana dari salah satu universita negeri di Jakarta. Ketiga anak yang dimilikinya semua juga berpendidikan sarjana, hanya Pak Asmadi sendiri yang hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SLTA. Dari hasil menarik ojeg itulah Pak Asmadi membiayai anak-anaknya kuliah. Kadangkala Pak Asmadi juga mencari tambahan penghasilan lain misalnya dengan berdagang kambing ketika mendekati hari raya Idul Adha.
Awalnya, saya berpikir hal ini sebagai sebuah kemustahilan, di benak ini selalu saja timbul pertanyaan ”Bagaimana mungkin Pak Asmadi seorang tukang Ojeg itu bisa memiliki seorang Isteri yang berpendidikan dan berjabatan tinggi di kantor pemerintahan?”.
Ada rasa tak percaya sampai di kemudian hari Pak Asmadi memperlihatkan pada saya foto Isterinya sedang dilantik oleh salah satu menteri. ”Ini mbak, foto isteri saya waktu dilantik oleh Pak Mentri, dan yang satunya itu foto saya sewaktu mendampinginya...” Tunjuk Pak Asmadi. Terlihat foto seorang wanita yang sedang bersalaman dengan seorang menteri, dan sebuah foto lagi menampilkan foto bersama seluruh jajaran pejabat dengan para pasangannya, kulihat Pak Asmadi memang ada di situ dengan baju batik coklatnya. Dari wajahnya memancar senyum bahagia begitu pula dengan isterinya.
****
Saya sering melihat rubrik kontak jodoh di salah satu media cetak di Ibukota. Bukan, Bukan karena saya berniat ingin mencari jodoh lagi, tapi hanya sekadar iseng yang benar-benar iseng. Siapa tahu ada teman yang mengiklankan diri di situ, kan bisa jadi bahan ledekanku untuknya. Salah satu contoh isi iklan perjodohan yang sering kulihat itu adalah seperti ini misalnya: Seorang wanita, 25 tahun, Sarjana, tinggi badan 160 cm, bb 43 kg, berkulit putih mulus, wajah manis, Islam, pintar mengaji, keibuan dan pandai memasak mendambakan: Seorang laki-laki, perjaka tulen, minimal 26 tahun, lulusan pasca sarjana, berpenghasilan tetap (swasta/PNS), tinggi badan minimal 170 cm dengan berat badan seimbang, Islam taat, Pandai mengaji dan bersifat kebapakan.
Coba kita lihat iklan tersebut, dan perhatikanlah. Niscaya kita akan menemukan sebuah fakta bahwa seorang wanita pada umumnya menginginkan pasangan (calon suami) yang memiliki spesifikasi yang lebih baik dari spesifikasi yang dimilikinya. Baik itu dari segi fisik, tingkat pendidikan atau hal-hal kasat mata lainnya. Menurut saya hal ini sangat wajar. Karena bagaimanapun juga seorang lelaki akan menjadi pemimpin dalam sebuah rumah tangga, jadi semakin bagus kualitasnya akan semakin baik bagi keluarganya kelak. Begitu kondisi idealnya.
****
Kembali kepada kisah Pak Asmadi dan isterinya, saya menjadi tersadarkan bahwa ternyata tidak semua wanita melihat kualitas calon suami hanya dari kasat mata yang tampak saja. Rasa penasaran saya muncul menggelitiki hati, membuat saya secara diam-diam ingin menyelidiki apa alasan Isteri Pak Asmadi begitu bangga dan mencintai suaminya yang ”hanya” seorang tukang ojeg dan hanya berpendidikan setingkat SLTA. Sementara isterinya adalah wanita karir yang sukses yang memiliki pendidikan dan jabatan yang tinggi.Tidak ada rasa malu padanya akan ”kesenjangan” itu.
Suatu hari dalam perjalanan menuju kantor, Pak Asmadi mengajukan sebuah pertanyaan pada saya ”Mbak, tahu ngga resep saya supaya tidak pernah mengalami kecelakaan di jalan atau supaya tidak pernah kena razia polisi jalan?” Saya pura-pura berpikir lantas menjawab ”hmm... tidak tahu pak, apa resepnya?” ”Berdzikir mbak...” jawabnya. ”Berdzikir itu mengingat kepada Allah, bisa dilakukan di mana saja, kalau kita sehabis melaksanakan sholat baik itu sholat fardhu atau sholat sunnah, usahakan jangan langsung berdiri, dzikirlah terlebih dahulu. Dzikir juga tidak hanya dilakukan setelah sholat, tapi bisa di mana saja, termasuk di jalan raya ketika mengendarai sepeda motor seperti saya ini”
”Bapak rajin ber-dzikir? ” saya bertanya untung memancing.
“Alhamdulilah mbak, setiap selesai sholat saya selalu berdzikir, bahkan dalam perjalanan saya dari rumah sampai ke stasiun saya juga selalu berdzikir, kalau tidak salah ada dalam Al-quran perintah untuk mengingat Allah dalam keadaan duduk maupun beridir, itu artinya dalam keadaan apapun kita harusnya selalu mengingat Allah kan mbak?”
“Iya, betul pak, Berdzikir dengan mengingat Allah membuat hati kita merasa tenang dan tentram, itulah mungkin yang membuat Bapak jadi tidak pernah mengalami kecelakaan saat mengendaria sepeda motor, karena saat itu Bapak berdzikir sehingga pikiran dan hati Bapak menjadi tenang, berkendaraan pun jadi tenang “ jawabku menyimpulkan.
Ternyata dari Pak Asmadi, terdapat banyak hikmah. Saya bisa memunguti hikmah-hikmah itu untuk diri saya. Sekaligus menyadari bahwa Pak Asmadi ternyata orang yang taat beragama lagi berakhlak mulia, wajarlah jika sang isteri begitu mencintainya.
***
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasullullah pernah bersabda ”Jika datang kepada kalian orang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia, karena jika tidak maka akan menjadi fitnah di bumi dan juga kerusakan.” Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, meskipun pada diri orang tersebut terdapat kekurangan?” Beliau menjawab, ”Jika ada orang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian, maka nikahkanlah dia” Artinya, jika kalian tidak menikahkan orang laki-laki yang taat beragama lagi berakhlak mulia meskipun tidak kaya atau tidak terhormat atau tidak kufu’, sedang kalian lebih menyukai orang laki-laki yang kaya, terhormat, lagi terpandang meskipun tidak taat beragama dan tidak berakhlak mulia, niscaya hal tersebt akan mengakibatkan kerusakan yang parah. Mungkin akan banyak wanita yang hidup tanpa suami dan banyak pula laki-laki yang hidup tanpa isteri. Akhirnya banyak perzinaan dan tersebar pula perbuatan keji.
Rasulullah SAW menyebutkan akhlak bersaaan dengan agama, karen akhlak berperan sangat penting sekali dalam kehidupan rumah tangga. Rasulullah tidak cukup hanya dengan menyebutkan agama saja, Sebab, terkadang ada orang yang taat beragama tetapi akhlaknya tidak cukup baik untuk kehidupan rumah tangga, bahkan berakhlak tercela dan berwawasan sempit serta fanatik sehingga dia akan meletakkan agama di sampingnya dan menggauli isterinya dengan akhlak yang tidak baik. Akhirnya muncul kesan bahwa tingkah laku bururk itu disebabkan oleh agama. Padahal yang demikian itu merupakan keyakinan yang salah, karena Agama memerintahkan untuk mempergauli isteri secara baik.
***
Kini terjawablah sudah rasa kepenasaran saya. Isteri Pak Asmadi ternyata benar-benar telah menjalankan sabda Rasullullah SAW tersebut. Menentukan suami pilihannya adalah seorang yang taat beragama dan berakhlak mulia meskipun tidak kaya, tidak terhormat atau tidak se kufu’ dengannya. Satu pelajaran berharga yang bisa saya ambil darinya.
Senin, Agustus 06, 2007
Mengutang untuk Tamu
Oleh Fiyan Arjun
Tamu adalah seseorang yang patut kita hormati dan dihargai. Siapa pun itu orangnya! Entah baik itu pengemis, musafir maupun orang yang tak kita kenal sama sekali lalu bertandang kerumah kita dengan cara yang baik hukumnya wajib untuk kita terima sebagai tamu. Tanpa tidak pandang bulu siapa orangnya! Memang tidaklah sulit menjamu tamu saat kita memiliki banyak bahan makanan atau sesuatu yang perlu kita berikan kepada tamu. Namun bagaimana jika tidak memiliki itu semua? Di sinilah letak ujiannya? Bagaimana ujian kebesaran dann keikhlasan hati kita dalam menerima tamu.
Kejadian ini mengingatkan saya ketika saya masih SMU, tepatnya pada tahun 1999 ketika teman-teman saya bertandang kerumah saya tanpa pemberitahuan sebelumnya. Teman-teman saya itu datang kerumah sayam selain ingin silaturahmi dan juga ingin mengetahui tempat tinggal saya di mana. Memang saat teman-teman saya itu bertandang kerumah saya saat hari libur (hari Ahad). Kebetulan hari libur itu gunakan untuk menyempatkan teman-teman saya untuk bersilturahmi sekaligus ingin mengetahui rumah saya. Tapi yang menjadi trouble adalah ketika mereka datang ke rumah saya tidak ada (cukup) bahan makanan untuk disajikan (disediakan) kepada mereka itu. Yang ada hanya air putih.
Maklum persediaan di rumah tidak mencukupi (tidak tersedia).Panik sudah jelas! Saya pontang-panting mencari makanan atau yang bisa disediakan untuk mereka. Padahal mereka sudah tiba dirumah saya. Kasihan dong? Kalau mereka tidak disuguhkan makanan? Apalagi mereka datang ke rumah saya, tempat tinggal mereka masing-masing cukup jauh juga. Jumlah teman-teman saya itu berjumlah 4 orang. Cukup lumayan banyakkan bagi orang yang tidak mempunyai persedian bahan makanan untuk tamunya?
Akhirnya, saya pun diberikan oleh Allah pertolongan walaupun melalui perantara ibu saya ketika saya sedang-sedangnya lagi panik ibu saya menyarankan dan memberikan masukan. Ibu saya bilang, ” ambil (baca: utang) saja dulu diwarung depan. Nanti ibu yang bayar kok daripada kamu tidak enak sama teman kamu. Kasihan teman-teman kamu datang dari jauh-jauh tidak kamu suguhkan makanan. ” Begitu kata ibu saya ketika tidak tahu lagi apa yang saya lakukan. Ternyata masukan dari ibu saya masuk akal juga. Dengan terpaksa dan berat hati saya pun mengambil (ngutang) dulu makanan dari warung depan dekat rumah saya.
Tiga jam sudah teman-teman saya berlama-lama di rumah saya. Namun ketika ada salah satu teman saya mengkomandai untuk segera pamit pulang, akhirnya semua teman-teman saya yang lainnya pun menyetujui. Mereka berpamitan pulang. Namun sebelum mereka pulang ada salah satu teman saya berbicara serius pada ibu saya. “Aneh, ” pikir saya ketika melihat salah satu teman saya berbicara serius pada ibu saya. Kemudian mereka pun pulang meninggalkan rumah saya dengan sambil melempar senyum puas.
Anyway, seusai teman-teman saya meninggalkan rumah. Saya pun membersihkan dan membawa peralatan yang digunakan sebagai wadah makanan yang saya sajikan. Tiba-tiba ibu saya mendekati saya sambil memberikan sebuah amplop putih. Saya sendiri pun juga tidak tahu apa isi yang ada di dalam amplop tersebut. Ibu saya pun langsung memberikan amplop putih itu ke tangan saya sambil berujar, ” ini dari teman-teman kamu. Katanya ini sebagai pengganti makan dan minum yang teman-teman kamu sajakan dari kamu. ” Dengan perasaan penasaran saya pun membukannya. “Masya Allah, ternyata isinya uang!” pekik saya saat itu. Tidak percaya bahwa teman-teman saya begitu baik dan peduli pada saya. Jujur saya begitu terharunya saat saya tahu bahwa dalam amplop itu ternyata isinya uang. “Allahu Akbar!” ucap saya lagi. Bahwa Allah telah memberikan saya rezeki melalui teman-teman saya. Makanan dan minuman hasil mengutang dari waruing depan dibalas dengan uang yang cukup (bahkan) lebih untuk membayar makanan dan minuman dari warung depan.
Ternyata di balik kesulitan, Allah memberikan kita kemudahan! Maha Besar Allah saya pun tak mampu membendung air mata saya. Ternyata teman-teman saya begitu baik dan perhatian pada saya. Tapi ketika lagi terharu-harunya ibu saya memperingatkan saya lagi sambil berujar, ” jangan lupa dibayar makanan dan minuman di warung depan. "
Tamu adalah seseorang yang patut kita hormati dan dihargai. Siapa pun itu orangnya! Entah baik itu pengemis, musafir maupun orang yang tak kita kenal sama sekali lalu bertandang kerumah kita dengan cara yang baik hukumnya wajib untuk kita terima sebagai tamu. Tanpa tidak pandang bulu siapa orangnya! Memang tidaklah sulit menjamu tamu saat kita memiliki banyak bahan makanan atau sesuatu yang perlu kita berikan kepada tamu. Namun bagaimana jika tidak memiliki itu semua? Di sinilah letak ujiannya? Bagaimana ujian kebesaran dann keikhlasan hati kita dalam menerima tamu.
Kejadian ini mengingatkan saya ketika saya masih SMU, tepatnya pada tahun 1999 ketika teman-teman saya bertandang kerumah saya tanpa pemberitahuan sebelumnya. Teman-teman saya itu datang kerumah sayam selain ingin silaturahmi dan juga ingin mengetahui tempat tinggal saya di mana. Memang saat teman-teman saya itu bertandang kerumah saya saat hari libur (hari Ahad). Kebetulan hari libur itu gunakan untuk menyempatkan teman-teman saya untuk bersilturahmi sekaligus ingin mengetahui rumah saya. Tapi yang menjadi trouble adalah ketika mereka datang ke rumah saya tidak ada (cukup) bahan makanan untuk disajikan (disediakan) kepada mereka itu. Yang ada hanya air putih.
Maklum persediaan di rumah tidak mencukupi (tidak tersedia).Panik sudah jelas! Saya pontang-panting mencari makanan atau yang bisa disediakan untuk mereka. Padahal mereka sudah tiba dirumah saya. Kasihan dong? Kalau mereka tidak disuguhkan makanan? Apalagi mereka datang ke rumah saya, tempat tinggal mereka masing-masing cukup jauh juga. Jumlah teman-teman saya itu berjumlah 4 orang. Cukup lumayan banyakkan bagi orang yang tidak mempunyai persedian bahan makanan untuk tamunya?
Akhirnya, saya pun diberikan oleh Allah pertolongan walaupun melalui perantara ibu saya ketika saya sedang-sedangnya lagi panik ibu saya menyarankan dan memberikan masukan. Ibu saya bilang, ” ambil (baca: utang) saja dulu diwarung depan. Nanti ibu yang bayar kok daripada kamu tidak enak sama teman kamu. Kasihan teman-teman kamu datang dari jauh-jauh tidak kamu suguhkan makanan. ” Begitu kata ibu saya ketika tidak tahu lagi apa yang saya lakukan. Ternyata masukan dari ibu saya masuk akal juga. Dengan terpaksa dan berat hati saya pun mengambil (ngutang) dulu makanan dari warung depan dekat rumah saya.
Tiga jam sudah teman-teman saya berlama-lama di rumah saya. Namun ketika ada salah satu teman saya mengkomandai untuk segera pamit pulang, akhirnya semua teman-teman saya yang lainnya pun menyetujui. Mereka berpamitan pulang. Namun sebelum mereka pulang ada salah satu teman saya berbicara serius pada ibu saya. “Aneh, ” pikir saya ketika melihat salah satu teman saya berbicara serius pada ibu saya. Kemudian mereka pun pulang meninggalkan rumah saya dengan sambil melempar senyum puas.
Anyway, seusai teman-teman saya meninggalkan rumah. Saya pun membersihkan dan membawa peralatan yang digunakan sebagai wadah makanan yang saya sajikan. Tiba-tiba ibu saya mendekati saya sambil memberikan sebuah amplop putih. Saya sendiri pun juga tidak tahu apa isi yang ada di dalam amplop tersebut. Ibu saya pun langsung memberikan amplop putih itu ke tangan saya sambil berujar, ” ini dari teman-teman kamu. Katanya ini sebagai pengganti makan dan minum yang teman-teman kamu sajakan dari kamu. ” Dengan perasaan penasaran saya pun membukannya. “Masya Allah, ternyata isinya uang!” pekik saya saat itu. Tidak percaya bahwa teman-teman saya begitu baik dan peduli pada saya. Jujur saya begitu terharunya saat saya tahu bahwa dalam amplop itu ternyata isinya uang. “Allahu Akbar!” ucap saya lagi. Bahwa Allah telah memberikan saya rezeki melalui teman-teman saya. Makanan dan minuman hasil mengutang dari waruing depan dibalas dengan uang yang cukup (bahkan) lebih untuk membayar makanan dan minuman dari warung depan.
Ternyata di balik kesulitan, Allah memberikan kita kemudahan! Maha Besar Allah saya pun tak mampu membendung air mata saya. Ternyata teman-teman saya begitu baik dan perhatian pada saya. Tapi ketika lagi terharu-harunya ibu saya memperingatkan saya lagi sambil berujar, ” jangan lupa dibayar makanan dan minuman di warung depan. "
(Bukan) Ukhuwah Musiman
Oleh Meralda Nindyasti
“Aku ingin dalam hidup ini berteman tak seperti musiman!” kata Maria. Kalimat yang diucapkan temanku tadi membuatku tersentak sesaat. Betapa hal itu sanggup menyentil ingatanku akan masa lalu.
Hingga kumandang adzan Magrib tiba, kusegerakan diri untuk berwudhu. Ada rindu takbir, sujud dan salam yang harus segera diobati, terlebih lagi rindu muhasabah diri. Maha besar Allah, setidaknya magrib ini aku sudah punya bahan untuk bermuhasabah. Ya, tak jauh dari ucapan Maria tadi.
Aku memang baru berusia 19 tahun. Tapi hal itu bukan membuatku bangga. Terutama dalam topik muhasabah kali ini, hatiku seakan tersayat...
Sembilan belas tahun memang bukan waktu yang sedikit untuk Allah tetap mengizinkan jantungku berdetak dan nafasku berhembus. Bukan pula waktu yang sesaat untuk mata dan telingaku bisa memandang kebesaran ciptaanNya dan mendengar lantunan ayat-ayat-Nya. Bukan pula perjalanan hidup yang pendek untuk ayah dan bunda meluapkan kasih sayangnya dalam membimbingku memaknai kehidupan.
Namun yang ada dalm pikirku kali ini, 19 tahun adalah waktu yang singkat. Mungkin karena aku belum mengerahkan seluruh daya dan upaya agar diriku banyak bermanfaat untuk orang-orang di sekitarku, hingga aku merasa 19 tahun ini berlalu begitu saja.
Duh, Rabb…
Betapa banyak orang yang berkontribusi kebaikan pada hidupku, terlebih lagi berkontribusi ilmu untukku gapai masa depan. Guru TK 2 kelas, nol kecil nol besar. Guru SD 6 kelas, guru SMP dan SMA sebanyak mata pelajaran yang kudapat. Belum lagi guru ekstrakulikuler, pramuka, paduan suara, jurnalistik, KIR dan guru perlombaan. Duh, apa pernah ya aku menyebut mereka dalam lantunan doa-doaku?
Ya, tepat! Betapa banyak pula teman yang ikut berkontribusi mewarnai hari-hariku dengan canda tawa dan duka bersama. Setidaknya jika aku memnghitung teman seangkatan, mulai Tk ada 40 teman. SD ada 5 kelas, berarti 45x5=225 teman, SMP ada 11 kelas, berarti kurang lebih 40x11=440 teman, SMA ada 9 kelas IPA, 1 kelas aksel dan 1 kelas IPS, berarti kurang lebih 414 teman. Kalau ditotal sekitar 1119 teman. Angka itu belum dikurangi sekitar 5% teman yang meneruskan pendidikan yang sama denganku. Dan belum ditambah dengan sejumlah teman beda angkatan, teman rumah, teman organisasi luar dll.. Dan lagi-lagi, adakah saat aku sebut mereka dalam lantunan doa-doaku?
Kalkulator yang menunjukkan angka 1119 itu sempat merasakan tetesan air yang jatuh dari mataku. Duhai Rabb, betapa banyak kenikmatanMu. Merekalah wujud cintaMu padaku. Kini, terlintas dalam pikirku.. Ukhuwah (persaudaraan) yang bagaimana yang selama ini kubangun bersama mereka?
Duhai Rabb, izinkan muhasabah ini sebagi jalan untuk aku luruskan niatku kembali. Sekalipun aku tak banyak tahu keadaan mereka, teman, guru, sahabat, dan saudara-saudaraku.. Namun, cukup Kaulah Rabb yang mengetahui apa-apa yang ada di depan dan di belakang kami. Dan cukuplah Kau Rabb yang menjadi sebaik-baik penjaga dan penolong..
Rabb, entah di manapun mereka.. izinkan kami tetap menjadi penumpang dalam kereta SyurgaMu. Ya, kereta yang melaju kencang tanpa pernah berhenti. Tanpa pernah berhenti dan peduli sekalipun terdapat penumpang yang tumbang dan tertinggal karena belum sanggup bertahan melawan angin nafsu selama kereta ini melaju.
Duhai, Rabb... Di dunia ini tak ada yang abadi. Jikalau dalam pandanganMu ukhuwah kami didunia ini adalah musiman, yang terdapat pertemanan dan persaudaraan hanya karena ada lokasi, waktu dan keperluan.. Maka, izinkanlah dengan hati kami yang bersatu karenaMu ini, kelak Kau panjangkan usia ukhwah kami hingga Kau pertemukan kami kembali dalam rahmat SyurgaMu...
Logika serupa baja Hati serupa sutra Tak ada yang kekal di dunia
Tuk sekadar berucap pada kawan Kala paradigma menguasai hati dan dada
Tenanglah..
Kepedulianku seperti kau kenal dulu..
Dan waktuku masih tersedia untuk suka dukamu
Bukankah Ia yang kekal,
yang menjadi alasan kita..
Cukup,
Sekali untuk diucap:
Ukhuwah kita bukan musiman..
moslemalda@yahoo. Com -Kita yang belajar untuk setia-
“Aku ingin dalam hidup ini berteman tak seperti musiman!” kata Maria. Kalimat yang diucapkan temanku tadi membuatku tersentak sesaat. Betapa hal itu sanggup menyentil ingatanku akan masa lalu.
Hingga kumandang adzan Magrib tiba, kusegerakan diri untuk berwudhu. Ada rindu takbir, sujud dan salam yang harus segera diobati, terlebih lagi rindu muhasabah diri. Maha besar Allah, setidaknya magrib ini aku sudah punya bahan untuk bermuhasabah. Ya, tak jauh dari ucapan Maria tadi.
Aku memang baru berusia 19 tahun. Tapi hal itu bukan membuatku bangga. Terutama dalam topik muhasabah kali ini, hatiku seakan tersayat...
Sembilan belas tahun memang bukan waktu yang sedikit untuk Allah tetap mengizinkan jantungku berdetak dan nafasku berhembus. Bukan pula waktu yang sesaat untuk mata dan telingaku bisa memandang kebesaran ciptaanNya dan mendengar lantunan ayat-ayat-Nya. Bukan pula perjalanan hidup yang pendek untuk ayah dan bunda meluapkan kasih sayangnya dalam membimbingku memaknai kehidupan.
Namun yang ada dalm pikirku kali ini, 19 tahun adalah waktu yang singkat. Mungkin karena aku belum mengerahkan seluruh daya dan upaya agar diriku banyak bermanfaat untuk orang-orang di sekitarku, hingga aku merasa 19 tahun ini berlalu begitu saja.
Duh, Rabb…
Betapa banyak orang yang berkontribusi kebaikan pada hidupku, terlebih lagi berkontribusi ilmu untukku gapai masa depan. Guru TK 2 kelas, nol kecil nol besar. Guru SD 6 kelas, guru SMP dan SMA sebanyak mata pelajaran yang kudapat. Belum lagi guru ekstrakulikuler, pramuka, paduan suara, jurnalistik, KIR dan guru perlombaan. Duh, apa pernah ya aku menyebut mereka dalam lantunan doa-doaku?
Ya, tepat! Betapa banyak pula teman yang ikut berkontribusi mewarnai hari-hariku dengan canda tawa dan duka bersama. Setidaknya jika aku memnghitung teman seangkatan, mulai Tk ada 40 teman. SD ada 5 kelas, berarti 45x5=225 teman, SMP ada 11 kelas, berarti kurang lebih 40x11=440 teman, SMA ada 9 kelas IPA, 1 kelas aksel dan 1 kelas IPS, berarti kurang lebih 414 teman. Kalau ditotal sekitar 1119 teman. Angka itu belum dikurangi sekitar 5% teman yang meneruskan pendidikan yang sama denganku. Dan belum ditambah dengan sejumlah teman beda angkatan, teman rumah, teman organisasi luar dll.. Dan lagi-lagi, adakah saat aku sebut mereka dalam lantunan doa-doaku?
Kalkulator yang menunjukkan angka 1119 itu sempat merasakan tetesan air yang jatuh dari mataku. Duhai Rabb, betapa banyak kenikmatanMu. Merekalah wujud cintaMu padaku. Kini, terlintas dalam pikirku.. Ukhuwah (persaudaraan) yang bagaimana yang selama ini kubangun bersama mereka?
Duhai Rabb, izinkan muhasabah ini sebagi jalan untuk aku luruskan niatku kembali. Sekalipun aku tak banyak tahu keadaan mereka, teman, guru, sahabat, dan saudara-saudaraku.. Namun, cukup Kaulah Rabb yang mengetahui apa-apa yang ada di depan dan di belakang kami. Dan cukuplah Kau Rabb yang menjadi sebaik-baik penjaga dan penolong..
Rabb, entah di manapun mereka.. izinkan kami tetap menjadi penumpang dalam kereta SyurgaMu. Ya, kereta yang melaju kencang tanpa pernah berhenti. Tanpa pernah berhenti dan peduli sekalipun terdapat penumpang yang tumbang dan tertinggal karena belum sanggup bertahan melawan angin nafsu selama kereta ini melaju.
Duhai, Rabb... Di dunia ini tak ada yang abadi. Jikalau dalam pandanganMu ukhuwah kami didunia ini adalah musiman, yang terdapat pertemanan dan persaudaraan hanya karena ada lokasi, waktu dan keperluan.. Maka, izinkanlah dengan hati kami yang bersatu karenaMu ini, kelak Kau panjangkan usia ukhwah kami hingga Kau pertemukan kami kembali dalam rahmat SyurgaMu...
Logika serupa baja Hati serupa sutra Tak ada yang kekal di dunia
Tuk sekadar berucap pada kawan Kala paradigma menguasai hati dan dada
Tenanglah..
Kepedulianku seperti kau kenal dulu..
Dan waktuku masih tersedia untuk suka dukamu
Bukankah Ia yang kekal,
yang menjadi alasan kita..
Cukup,
Sekali untuk diucap:
Ukhuwah kita bukan musiman..
moslemalda@yahoo. Com -Kita yang belajar untuk setia-
Segelas Teh Pelepas Lelah
Oleh Eriman Muslim
Bulan Februari bagiku punya nilai kenangan istimewa sendiri. Keduanya menentukan masa depanku berikutnya. Keduanya adalah apa yang kurasakan sekarang, yaitu nikmat bekerja dan nikmat berkeluarga.
Setelah berusaha dengan pekerjaan lain. Menjadi guru privat, karyawan yayasan hingga surveyor. Maka tanggal 17 Februari 2002, saya resmi meminang seorang muslimah dari Kota Nanas, Subang. Berikutnya, melalui perjuangan panjang seorang jejaka. Untuk menjamin keseriusannya menikah. Tanggal 18 Februari 2002 saya diterima bekerja di sebuah perusahaan ritel pakaian di Kota Bandung.
Ada kenangan indah yang mungkin tidak bakal lupa dalam kehidupan saya. Kala akhir bulan Februari 2007 ditugaskan ke Jakarta selama kurang lebih 3 pekan lamanya. Sebagai karyawan baru, pengetahuan akan produk merupakan kewajiban setiap karyawan. Karena itu, dibutuhkan beberapa data yang dapat menggambarkan kebutuhan sebenarnya di lapangan.
Tugas saya adalah mensurvey gerai-gerai perusahaan di beberapa dept. Strore di kota Jakarta. Sekaligus mengenal medan Jakarta sesungguhnya. Dari jam 10 hingga malam hari. Saya berkeliling bersama Supervisor Penjualan Jakarta. Yang ternyata saat itu memiliki area kerja dari Jakarta, Bogor, Cilegon hingga Semarang.
Suatu hari, ketika baru pulang dari salah satu gerai. Saat itu jam sudah menunjukan kurang lebih 18. 15. Dengan pakaian basah oleh keringat dan tampang amburadul. Saya masuk ke dalam Showroom tempat saya menginap selama 3 pekan tersebut. Beberapa teman SPG menyambut dan berbasa-basi sebentar. Tapi ada unik malam itu. Seorang SPG Senior Mba Shellawati atau Mba Ella biasa kami panggil. Beliau seorang isteri sekaligus ibu dari seorang putri yang cantik. Mencoba menawarkan sesuatu padaku.
Sambil ber-empati atas keletihan saya, menawarkan segelas teh hangat dan manis. Sebagai pelepas capek dari bekerja. Saat itu, saya merasa ini mah sekedar basa-basi. Walaupun dalam hati terdalam sangat berharap. Segelas teh manis hangat akan dapat menghilangkan keletihanku hari itu.
Usai mandi dan Shalat Mangrib. Saya dikejutkan oleh Mba Ella di ruang makan. Ia memberiku segelas the manis lagi hangat. Yah, segelas the manis lagi hangat.
“Lumayan Pak, biar seger”, kata Mba Ella “Aduh Mba, makasih banget. Kirain basa-basi doang”, balasku kala itu.
Malam itu ada keharuan mendalam, bahwa sebuah ketulusan mampu memberikan kebahagia berarti bagi seseorang. Disaat capek dan letih bersatu. Ada seseorang yang dengan tulus memberikan kepadanya kebaikan. Dengan segelas teh, yang ia harapkan.
Saya belajar banyak dari Mba Ella. Bahwa kebaikan itu bukan sekedar basa-basi belaka. Yang hanya menjadi kebutuhan lip service, orang-orang pandai bicara. Kebaikan sesungguhnya adalah dengan amal atau tindakan. Apalagi bila kebaikan itu bermodal ikhlas, timing-nya pas dan sesuai kebutuhan orang yang memerlukannya. Tentulah akan menjadi pelepas masalah orang tersebut. Tak terkecuali saya yang telah dihibur dengan segelas teh pelepas letih. Terima kasih Mba Ella. Jazakumullahu khairan katsira.
Bandung, 30 Juli 2007
Bulan Februari bagiku punya nilai kenangan istimewa sendiri. Keduanya menentukan masa depanku berikutnya. Keduanya adalah apa yang kurasakan sekarang, yaitu nikmat bekerja dan nikmat berkeluarga.
Setelah berusaha dengan pekerjaan lain. Menjadi guru privat, karyawan yayasan hingga surveyor. Maka tanggal 17 Februari 2002, saya resmi meminang seorang muslimah dari Kota Nanas, Subang. Berikutnya, melalui perjuangan panjang seorang jejaka. Untuk menjamin keseriusannya menikah. Tanggal 18 Februari 2002 saya diterima bekerja di sebuah perusahaan ritel pakaian di Kota Bandung.
Ada kenangan indah yang mungkin tidak bakal lupa dalam kehidupan saya. Kala akhir bulan Februari 2007 ditugaskan ke Jakarta selama kurang lebih 3 pekan lamanya. Sebagai karyawan baru, pengetahuan akan produk merupakan kewajiban setiap karyawan. Karena itu, dibutuhkan beberapa data yang dapat menggambarkan kebutuhan sebenarnya di lapangan.
Tugas saya adalah mensurvey gerai-gerai perusahaan di beberapa dept. Strore di kota Jakarta. Sekaligus mengenal medan Jakarta sesungguhnya. Dari jam 10 hingga malam hari. Saya berkeliling bersama Supervisor Penjualan Jakarta. Yang ternyata saat itu memiliki area kerja dari Jakarta, Bogor, Cilegon hingga Semarang.
Suatu hari, ketika baru pulang dari salah satu gerai. Saat itu jam sudah menunjukan kurang lebih 18. 15. Dengan pakaian basah oleh keringat dan tampang amburadul. Saya masuk ke dalam Showroom tempat saya menginap selama 3 pekan tersebut. Beberapa teman SPG menyambut dan berbasa-basi sebentar. Tapi ada unik malam itu. Seorang SPG Senior Mba Shellawati atau Mba Ella biasa kami panggil. Beliau seorang isteri sekaligus ibu dari seorang putri yang cantik. Mencoba menawarkan sesuatu padaku.
Sambil ber-empati atas keletihan saya, menawarkan segelas teh hangat dan manis. Sebagai pelepas capek dari bekerja. Saat itu, saya merasa ini mah sekedar basa-basi. Walaupun dalam hati terdalam sangat berharap. Segelas teh manis hangat akan dapat menghilangkan keletihanku hari itu.
Usai mandi dan Shalat Mangrib. Saya dikejutkan oleh Mba Ella di ruang makan. Ia memberiku segelas the manis lagi hangat. Yah, segelas the manis lagi hangat.
“Lumayan Pak, biar seger”, kata Mba Ella “Aduh Mba, makasih banget. Kirain basa-basi doang”, balasku kala itu.
Malam itu ada keharuan mendalam, bahwa sebuah ketulusan mampu memberikan kebahagia berarti bagi seseorang. Disaat capek dan letih bersatu. Ada seseorang yang dengan tulus memberikan kepadanya kebaikan. Dengan segelas teh, yang ia harapkan.
Saya belajar banyak dari Mba Ella. Bahwa kebaikan itu bukan sekedar basa-basi belaka. Yang hanya menjadi kebutuhan lip service, orang-orang pandai bicara. Kebaikan sesungguhnya adalah dengan amal atau tindakan. Apalagi bila kebaikan itu bermodal ikhlas, timing-nya pas dan sesuai kebutuhan orang yang memerlukannya. Tentulah akan menjadi pelepas masalah orang tersebut. Tak terkecuali saya yang telah dihibur dengan segelas teh pelepas letih. Terima kasih Mba Ella. Jazakumullahu khairan katsira.
Bandung, 30 Juli 2007
Harga Murah Ajakan ke Surga
Oleh Bayu Gawtama
Seingat saya, sekitar tahun 2001, saya dan kawan-kawan berencana mengundang Hadad Alwi dan duetnya, Sulis, untuk mengisi acara di sebuah acara keagamaan. Berhubung kamit tidak punya kontak langsung dengan pelantun shalawat yang tengah ngetop saat itu, maka kami bertanya kepada salah seorang teman yang mengaku punya akses. Namun kami sungguh terperangah mendengar informasi dari rekan tersebut bahwa untuk mengundang Hadad Alwi dan Sulis, harus menyiapkan dana tidak kurang dari 8 juta rupiah. Ketika itu, komentar singkat yang keluar dari mulut saya, “Dakwah kok mahal amat sih?
Dua tahun sebelumnya, bahkan saya dan kawan-kawan sempat tak kalah terperangahnya mendengar sebuah informasi yang memang harus dikonfirmasi kebenarannya. Bahwa untuk mengundang Aa Gym berceramah dalam sebuah tabligh perlu dana yang tak sedikit. “Wah, masak ustadz pasang tarif setinggi itu sih?” kira-kira begitu komentar saya saat itu.
Seiring dengan bertambahnya pemahaman diri ini akan penting dan strategisnya nilai dakwah, perlahan mulai bergeser pemikiran saya soal “harga” para ustadz tersebut. Ya, kenapa orang bersedia membayar mahal untuk menyelenggarakan konser musik rock atau dangdut dengan mengundang artis-artis hanya untuk berjingkrak-jingkrak dan bergoyang hingga larut malam bahkan sampai pagi.
Tidak sedikit orang rela merogoh kocek hingga ratusan ribu, sehingga memungkinkan panitia membayar sebuah grup band atau seorang penyanyi dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal para artis itu hanya mengajak orang-orang yang menontonnya untuk berjoget, bergoyang, berjingkrak-jingkrak dan sesekali ikut menyanyi. Bandingkan dengan para ustadz yang berceramah memberikan nasihat-nasihat kebaikan, mengajak kebenaran dan kalau boleh dibilang mendekatkan para jamaahnya kepada pintu surga. Berapa yang disiapkan panitia untuk membayar seorang mubaligh?
Kasihan sekali para da’i di kampung-kampung yang setiap hari menjalankan tugas mulia mengajak orang kepada kebaikan namun hanya mendapat bayaran ala kadarnya, bahkan tak jarang berbalas ucapan “terima kasih”. Bahkan penyanyi dangdut kampung pun bisa mendapatkan 200 sampai 500 ribu untuk tampil satu malam di sebuah hajatan pernikahan.
Tidak adil memang, orang-orang yang tak mengajak kepada kebaikan dibayar sangat mahal. Sementara mereka yang berpeluh, meneriakkan kebenaran seraya mengingatkan larangan-larangan Allah seringkali dilabeli harga yang tidak manusiawi. Terlepas dari adanya ustadz-ustadz yang berharga tinggi dan merangkap selebritis sekaligus, dalam level yang lainnya, kita memang kurang menghargai jasa mulia seorang da’i.
Saya pernah mendengar cerita, dalam sebuah kesempatan Opick, pelantun tembang religius yang sangat terkenal itu mendapat pertanyaan dari seseorang, “Apa benar untuk mengundang Opick harus membayar Rp 5 juta untuk setiap lagu yang dinyanyikan?”
Mendengar pertanyaan tersebut, yang ditanya menjawabnya dengan serius, “Salah, yang benar Rp 15 juta untuk setiap lagu. Masak saya kalah sama Inul…”
***
Sebenarnya, ini bukan tentang berapa jumlahnya yang harus kita bayarkan untuk seorang ustadz, muballigh atau da’i. Ini lebih tentang bagaimana kita memuliakan orang-orang yang membantu kita untuk terus mengingat Allah. Semoga
Bayugautama@yahoo.com
Seingat saya, sekitar tahun 2001, saya dan kawan-kawan berencana mengundang Hadad Alwi dan duetnya, Sulis, untuk mengisi acara di sebuah acara keagamaan. Berhubung kamit tidak punya kontak langsung dengan pelantun shalawat yang tengah ngetop saat itu, maka kami bertanya kepada salah seorang teman yang mengaku punya akses. Namun kami sungguh terperangah mendengar informasi dari rekan tersebut bahwa untuk mengundang Hadad Alwi dan Sulis, harus menyiapkan dana tidak kurang dari 8 juta rupiah. Ketika itu, komentar singkat yang keluar dari mulut saya, “Dakwah kok mahal amat sih?
Dua tahun sebelumnya, bahkan saya dan kawan-kawan sempat tak kalah terperangahnya mendengar sebuah informasi yang memang harus dikonfirmasi kebenarannya. Bahwa untuk mengundang Aa Gym berceramah dalam sebuah tabligh perlu dana yang tak sedikit. “Wah, masak ustadz pasang tarif setinggi itu sih?” kira-kira begitu komentar saya saat itu.
Seiring dengan bertambahnya pemahaman diri ini akan penting dan strategisnya nilai dakwah, perlahan mulai bergeser pemikiran saya soal “harga” para ustadz tersebut. Ya, kenapa orang bersedia membayar mahal untuk menyelenggarakan konser musik rock atau dangdut dengan mengundang artis-artis hanya untuk berjingkrak-jingkrak dan bergoyang hingga larut malam bahkan sampai pagi.
Tidak sedikit orang rela merogoh kocek hingga ratusan ribu, sehingga memungkinkan panitia membayar sebuah grup band atau seorang penyanyi dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal para artis itu hanya mengajak orang-orang yang menontonnya untuk berjoget, bergoyang, berjingkrak-jingkrak dan sesekali ikut menyanyi. Bandingkan dengan para ustadz yang berceramah memberikan nasihat-nasihat kebaikan, mengajak kebenaran dan kalau boleh dibilang mendekatkan para jamaahnya kepada pintu surga. Berapa yang disiapkan panitia untuk membayar seorang mubaligh?
Kasihan sekali para da’i di kampung-kampung yang setiap hari menjalankan tugas mulia mengajak orang kepada kebaikan namun hanya mendapat bayaran ala kadarnya, bahkan tak jarang berbalas ucapan “terima kasih”. Bahkan penyanyi dangdut kampung pun bisa mendapatkan 200 sampai 500 ribu untuk tampil satu malam di sebuah hajatan pernikahan.
Tidak adil memang, orang-orang yang tak mengajak kepada kebaikan dibayar sangat mahal. Sementara mereka yang berpeluh, meneriakkan kebenaran seraya mengingatkan larangan-larangan Allah seringkali dilabeli harga yang tidak manusiawi. Terlepas dari adanya ustadz-ustadz yang berharga tinggi dan merangkap selebritis sekaligus, dalam level yang lainnya, kita memang kurang menghargai jasa mulia seorang da’i.
Saya pernah mendengar cerita, dalam sebuah kesempatan Opick, pelantun tembang religius yang sangat terkenal itu mendapat pertanyaan dari seseorang, “Apa benar untuk mengundang Opick harus membayar Rp 5 juta untuk setiap lagu yang dinyanyikan?”
Mendengar pertanyaan tersebut, yang ditanya menjawabnya dengan serius, “Salah, yang benar Rp 15 juta untuk setiap lagu. Masak saya kalah sama Inul…”
***
Sebenarnya, ini bukan tentang berapa jumlahnya yang harus kita bayarkan untuk seorang ustadz, muballigh atau da’i. Ini lebih tentang bagaimana kita memuliakan orang-orang yang membantu kita untuk terus mengingat Allah. Semoga
Bayugautama@yahoo.com
Langganan:
Postingan (Atom)