Rabu, Oktober 04, 2006

Khasiat Sedekah: Penerima Berdaya, Anda Bahagia



Siapa yang lebih bahagia, pemberi sedekah atau penerima sedekah? Sekilas, nampak kebahagiaan hanya terpancar dari raut wajah penerima. Ia terlihat sumringah saat menggenggam uang sedekah dari yang memberi. Tak lupa, sekelumit doa dan rasa syukur dihaturkan untuk orang yang memberinya sedekah sebagai ungkapan terima kasih. Beberapa penerima, bahkan tak sungkan mencium punggung tangan orang yang telah menyisihkan hartanya untuk mereka. Beginilah pemandangan yang senantiasa tampak dalam setiap episode sedekah berlangsung.

Demikiankah sesungguhnya? Benarkah penerima sedekah jauh lebih berbahagia tinimbang yang bersedekah? bukankah justru seharusnya penyedekah itu yang berbahagia?

Setidaknya ada dua tingkatan tujuan sedekah bagi para penerimanya. Pertama, diharapkan setelah menerima sedekah, mereka mencapai tingkatan berdaya. Setidaknya, dalam rentang beberapa waktu mereka tidak lagi menjadi orang-orang menerima sedekah. Orang-orang yang biasa menerima sedekah ini, seharusnya di waktu tertentu sudah bisa memberdayakan diri mereka sendiri. Tak perlu menengadahkan tangan, meminta-minta dan berharap belas kasihan para penderma. Mereka tak lagi menerima sedekah karena sudah tidak membutuhkan. Meski demikian, dalam tingkatan ini mereka belum menjadi penyedekah. Tingkatan kedua, yakni mereka berubah status dari penerima menjadi pemberi sedekah. Ini yang paling diharapkan, kalau satu tahun lalu -misalnya- mereka masih menjadi penerima sedekah, seharusnya di tahun berikutnya merekalah para penyedekah yang berniat memberdayakan orang-orang yang disedekahinya.

Karenanya, sedekah bukan sekadar menaruh uang di kotak amal. Atau mengumpulkan para fakir miskin, anak yatim, kemudian membagi-bagikan amplop, lantas selesai. Para penyedekah tak selesai kewajibannya hanya sampai sebatas memberi. Ada kewajiban lainnya, yakni tak membiarkan penerima sedekah menjadi orang-orang yang berketergantungan dengan sedekah. Jangan sampai ada orang yang `menikmati` hidup dengan pemberian orang lain. Ada kewajiban bagi para penyedekah, yakni membuat penerima sedekah itu menjadi orang-orang yang berdaya. Setidaknya hingga mereka sanggup mencapai tingkatan tak lagi bergantung pada sedekah dan bisa menghidupi diri dan keluarganya sendiri.

Sedekah itu tanpa batas. Nilai dan jumlahnya tak dibatasi, penerima sedekahnya juga tidak terbatas. Artinya, penyedekah bisa memberikannya kepada siapa saja, dari yang terdekat hingga terjauh sekali pun. Tak hanya itu, waktu untuk bersedekah pun tak pernah dibatasi. Tak hanya di bulan-bulan tertentu saja, melainkan sepanjang waktu. Selama seseorang mampu untuk bersedekah, baik di waktu sempit mau pun lapang, maka bersedekah dianjurkan.

Nah, lantaran sedekah itu tanpa batas, maka tidak pernah dibatasi jumlah yang boleh disedekahkan. Tidak ada nisab untuk sedekah, selama ia mampu maka teruslah bersedekah. Tidak pernah ada ketentuan seseorang sudah boleh bebas tak bersedekah karena sudah terlalu sering bersedekah. Dan yang terpenting, tidak pernah tertulis dalam sejarah ada orang yang jatuh miskin lantaran bersedekah.

Sebab, semua orang yang pernah dan selalu bersedekah tahu betul, bahwa sedekah membuat mereka kaya dan bahagia. Siapa yang tak bahagia berniaga dengan Allah? Kita mendapatkan modal dari Allah, berupa diri dan harta yang kita miliki saat ini. Kemudian dari modal yang dipinjamkan Allah itu, kita diajak berniaga oleh-Nya dengan tawaran keuntungan yang tidak bisa diberikan oleh pedagang terbesar mana pun di dunia ini. Tak tanggung-tanggung, keuntungan berniaga dengan Allah adalah mendapatkan ampunan dari Allah, kemudian Allah akan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.
Padahal, yang diminta Allah kepada kita adalah, beriman kepada-Nya dan rasul-Nya, kemudian Allah juga meminta kita berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kita. Bayangkan, Allah meminta kita menukar harta dan jiwa ini –yang keduanya milik Allah dan hanya dipinjamkan kepada manusia- dengan balasan surga-Nya. Perniagaan indah nan menguntungkan ini Allah gambarkan dalam Qur`an Surat Ash-Shaf (61) ayat 10-12.

Adakah yang mampu memberikan keuntungan lebih besar dari Allah? Tak bahagiakah orang-orang yang mau berniaga dengan Allah. Bukankah seharusnya orang-orang yang bersedekah jauh lebih bahagia, karena ia telah melakukan perniagaan dengan Allah?

Sedekah itu membahagiakan. Siapakah yang dimaksud? Tentu saja yang bersedekah, sebab selain ia telah mendapatkan kesempatan mengenyam surga Allah, kebahagiaan pula bisa melihat senyum orang-orang yang mendapat sedekah. Tak hanya itu, sedekah masih memberikan banyak manfaat bagi pelakunya, antara lain dilipatgandakannya harta kita, dijauhkan dari bahaya, diberikan kesehatan, dan tentu saja menenangkan jiwa.

Adakah yang tak menginginkan kebahagiaan seperti itu? Sungguh, khasiat sedekah hanya satu bagi penerima. Namun terdapat jutaan khasiat yang diperoleh bagi pelakunya. Maka, bersegeralah meraihnya. (gaw)


Kerjasama Eramuslim dan Aksi Cepat Tanggap

Rekening :

BSM Warung Buncit No. 0030124084 a.n. Eramuslim - ACT
BCA Megamall Ciputat No. 6760303028 a.n. Aksi Cepat Tanggap - Eramuslim

Selasa, Oktober 03, 2006

Bingung Diajak Nikah


Bu, saat ini saya bingung sekali, saya diajak nikah oleh teman satu kampus bahkan orang tuanya sudah silaturahmi dengan orang tua saya. Dan orang tua saya menyerahkan semuanya pada saya dan teman saya itu mengajak menikah pada bulan Febuari 2007 sebenarnya itu waktu yang saya minta karena dia mendesak minta waktu.


Bu, saya harus gimana sementara orang tua saya menginginkan saya segera menikah tapi terus terang, bu, saya kurang suka dengan teman saya itu padahal saya sudah berusaha untuk bisa menerima dia apa adanya. Tapi saya segan untuk menolaknya karena orang tua kami sudah mengenal. Saya sudah shalat istikharah dan tahajjud.

Libra

Jawaban

Assalammu'alaikum wr. wb.

Saudari Libra yang baik,

Nampaknya anda sedang merasa kebingungan ya langsung dilamar teman pria. Memang susah juga menolak seorang lelaki yang sudah langsung datang bersama orangtuanya. Apalagi orang tua anda nampaknya menyetujuinya dengan mendorong anda untuk segera menikah. Meski hati anda menyatakan belum siap tapi dorongan semua pihak akhirnya anda memutuskan untuk menerimanya.

Sewajarnya pernikahan adalah hal yang diharapkan bagi seorang wanita yang sudah cukup umur. Namun nampaknya anda tidak mengharapkannya karena ada hal yang membuat anda tidak suka kepada calon anda ini, meski di sini anda tidak menjelaskan apa hal yang tidak anda sukai darinya, apakah itu hal yang prinsip atau tidak.

Pernikahan memang bukan sesuatu yang bisa diputuskan dalam kebingungan dan keraguan, namun sebaiknya diputuskan secara mantap dengan niat yang ikhlas karena Allah. Karena ini berkaitan dengan nasib yang akan dijalani ke depan maka seharusnya persetujuan anda memang bukan didasari hanya sekedar perasaan tidak enak. Karena akan menjadi lebih sangat tidak enak dan sulit jika apa yang anda permasalahkan tidak terselesaikan juga dalam rumah tangga anda nantinya.

Oleh karena itu saran saya sebelum terlanjur mantapkan dulu hati anda untuk meyakini calon anda ini. Berdiskusilah dengan orang-orang yang berpengalaman bahkan mungkin juga orang tua tentang apa yang menjadi kegundahan anda, apakah esensial atau tidak. Lakukanlah lagi sholat Istikharoh sampai timbul keyakinan dalam hati. Semoga pendekatan intensif anda kepada Allah juga akan membuka hati sehingga apa yang akan dilakukan akan lebih ikhlas dijalani. Wallahu'alambishshawab

Wassalammu'alaikum wr. wb.

Rr. Anita W.

Ada Apa dengan Suamiku?


Assalamu'alaikum wr. wb.

Banyak orang menikah itu sangat indah. Apalagi mendapat suami yang sholeh dan tidak didahului pacaran. Alhamdulillah begitulah proses kami menikah dan sekarang sudah menginjak 2 bulan. Ah... Rupanya kebanyakan orang bilang itu belum juga saya alami. Meski sudah dua bulan, hubungan kami sangat-sangat datar, bahkan bisa dibilang hambar. Kami seolah hanya teman atau bahkan saudara. Yach... sebatas saya sebagai isteri mengerjakan tugas-tugas rumah tangga selain saya juga ngajar.

Sementara suami sampai saat ini belum bekerja. Kalau soal itu, alhamdulillah saya tidak pernah menuntut, karena saya ngerasa sudah bekerja. Justru yang saya inginkan nafkah batin. Sampai saat ini kami belum pernah berhubungan suami-isteri. Bukan karena suami tak sayang sama saya, tetapi karena katanya beliau punya penyakit lemah syahwat. Kadang yang buat saya cemburu, beliau lebih perhatian dengan anak-anak dan remaja yang laki-laki. Saya hanya suka menghibur diri "Ah... mungkin karena mereka sudah lama kenal, sementara sama saya beliau masih canggung," padahal sebenarnya hati ini sangat sakit. dan juga beliau sangat dekat dengan ibu-ibu.

Yang ingin saya tanyakan, apa yang mesti saya lakukan? Sementara saya ingin merasakan seperti isteri-isteri lainnya... Saya sangat mengharapkan solusi dari ini. Terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Khasana

Jawaban

Assalammu'alaikum wr. wb.

Ibu Khasana yang dimuliakan Allah,

Saya memahami kegundahan yang saat ini ibu rasakan sebagai seorang isteri. Dua bulan menikah namun suami belum juga berani "menyentuh" ibu. Padahal ibu sendiri sudah berusaha menimbulkan hasrat suami namun suami tidak juga bergeming. Sedangkan dalam rumah tangga masalah hubungan intim merupakan salah satu hal yang esensial dalam membangun keharmonisan.

Menikah tanpa perkenalan sebelumnya memang menjadikan proses hubungan yang dibangun lebih lama dan setiap orang tentu berbeda sampai kemudian bisa merasa nyaman dalam melakukan hubungan intim dengan pasangannya. Dalam hal ini memang perlu keterbukaan antara ibu dan suami untuk membicarakannya dan seks bukanlah hal yang tabu untuk dibicarakan apalagi bagi pasangan yang sudah menikah.

Tentu ibu juga takkan pernah tahu apa yang menjadi masalah suami sehingga suami sendiri dapat bersikap terbuka dengan ibu. Jika suami sudah mengatakan akar permasalahannya barulah langkah selanjutnya bisa ditentukan untuk mencari solusi yang tepat baginya. Jika masalahnya lebih kepada sikap canggung berarti perlu waktu bagi dia untuk melakukannya dan kesabaran ibu untuk menunggunya.

Namun jika suami pun tak mengerti apa yang dialaminya maka ibu dapat menyarankan suami untuk mendatangi dokter yang khusus menangani masalah ini sehingga dapat dilakukan pemeriksaan medis untuk diketahui apakah ada penyakit yang menyebabkan suami tidak memiliki gairah seksual. Dan jika secara medis tidak bermasalah berarti ada keterkaitan dengan psikis yang mungkin perlu bantuan psikiater atau psikolog untuk dilakukan terapi.

Namun semua proses tersebut tentu dapat dijalani dengan baik jika komunikasi ibu dan suami berjalan dengan baik dan ibu pun selalu bersikap memberikan dukungan dan empati kepadanya. Masalah seksual juga berkaitan dengan harga diri seorang lelaki, karenanya semoga ibu pun dapat bersikap bijak dalam menghadapinya. Wallahu'alambishshawab.

Wassalammu'alaikum wr. wb.

Rr. Anita W.

Kemilau Anugerah Termahal

Oleh Sultan Haidar Shamlan


Usai salam akhir sholat Isya, masih saya amati paras jamaah lainnya, yang malam itu benar-benar membuat masjid komunitas Palestina itu benar-benar hidup. Wajah-wajah kegembiraan menyambut datangnya bulan keagungan. Semuanya sumringah luar biasa.

Lintasan mata saya terfokus kepada seorang makmum di deretan depan saya. Penampilannya rapih luar biasa. Berpakaian ghamis putih, dan berpeci putih. Dan yang lebih berkesan adalah warna kulit dan guratan rambutnya yang memastikan saya untuk berpendapat ia seorang muslim Jerman. Siapakah dia?

******

Jelang waktu sholat Maghrib. Pemuda itu terlihat eksentrik dari yang lainnya. Di kala makmum yang lainnya berassesoris peci, pemuda itu justru terlihat bangga dengan anting dan beberapa kalung yang melingkar di lehernya. Celana Jeans belel dan sehelai kaos putih berlambangkan sebuah produk ternama milik negara Paman Sam pun menyelimuti tubuhnya. Gayanya sangat up to date dan funky.

Seakan tersihir, masih saja saya amati gerak gerik pemuda itu. Lebih-lebih perhatian saya memuncak ketika dia "mencoba“ sholat sunnah. Punggung dan kedua kakinya terlihat sulit untuk rukuk dan duduk di antara dua sujud. Jari-jari kakinya tidak bersahabat untuk terlipat dengan sempurna. Apakah dia seorang muallaf?

Saya penasaran untuk mencari jawabnya. Setelah keluar dari masjid, langsung saya tanya Muhammad -seorang kawan berkebangsaan Arab- perihal itu. Dan dengan lantang Muhammad meng-iya-kan tanya saya. Bahkan Muhammad langsung mengenalkan saya kepada pemuda itu,

"Hallo Daniel, hier ist ein Student von Indonesien. Der will mit dir kennen lernen,“ (Hallo Daniel, ini ada mahasiswa Indonesia yang ingin berkenalan dengan kamu,)

"Hai, Ich bin Daniel.“ (Hai, saya Daniel) Sapanya ramah, sambil menjulurkan kedua tangannya.

„Assalaamualaykum Daniel. Ich bin Sultan. Freut mich, dich kennen zu lernen,“ (Assalaamualaykum Daniel. Saya Sultan. Senang bisa berkenalan denganmu,)

Dia hanya tersenyum ringan. Tak ada jawab atas salam saya. Yang membuat saya berkesimpulan dia memang benar-benar seorang Muallaf baru. Lantunan tasbih sempat mewarnai kekaguman saya. Bukan hanya karena keramahannya, tapi karena dia telah dianugerahi anugerah yang termahal, hidayah.

Sejak saat itu, setiap kali saya sempatkan untuk sholat berjamaah di masjid itu, wajah Daniel tidak pernah absen dari pandangan saya. Tidak hanya kalung dan anting yang telah alpa dari tubuhnya. Perubahan-perubahan yang terjadi di dirinya sungguh membuat saya terkagum-kagum.

Senja itu. Setelah shalat Ashar di kampus, saya sempatkan untuk menuju ke masjid komunitas Palestina itu. Jaket yang biasa saya pakai, tertinggal di sana. Ketika pintu masjid telah terbuka, tidak ada seorang pun yang menjawab salam saya. Dalam hati saya bergumam, "Pasti tidak ada orang,“ dengan ringan saya jelajahi ruang depan masjid. Jaket merah itu masih tergantung di sana, dan segera saya ambil. Namun, sebelum anjak meninggalkan masjid saya ingin sebentar menuju ke kamar kecil. Ruangan tersebut telah terang. Suara siraman air dan gesekan sikat membuat saya berkesimpulan, ada seseorang yang sedang membersihkan kamar mandi. Usai wudhu, saya sempatkan untuk menyapa orang itu. Dan saya terkejut luar biasa. "Waalaykumussalaam," Daniel yang menjawab salam itu sembari memegang sikat! MasyaAlloh…


******

Saat saya masuk ke koridor masjid, umumnya, saya tegur setiap orang yang berdiri di sekitar koridor dengan salam dan pertanyaan kabar. Hampir semuanya mengerti, bahwa saya sangat terbatas dalam berbahasa Arab. Sehingga mereka akan menjawab pertanyaan saya dengan bahasa Jerman. Malam itu, sapaan saya juga tertuju kepada Pemuda itu,

"Assalaamualaykum, Daniel.“

"Waalaykumusalaam, Sultan.“

"Kheif Halak?“ lanjut tanyanya.

"Alhamdulillah, mir gut. Und dir?“ (Alhamdulillah, saya baik. Dan kamu?) sambung saya dengan bahasa Jerman.

"Alhamdulillah, bi khoir."

Saya tertegun. MasyaAlloh dia sangat bangga dan lantang menjawab dengan bahasa Arab. Bara semangatnya memecut saya untuk berusaha lebih tahu. Hingga akhirnya dengan "lancang“ saya tanyakan kepadanya, "Daniel, kamu terlihat sangat tertarik sekali dengan bahasa Arab, sedangkan saya justru sangat tertarik untuk berkomunikasi dengan bahasa Jerman."

Dengan serius ia menjelaskan, "saya ingin seperti brüder-brüder yang lain, yang setiap selesai shalat berjamaah bisa mengerti ceramah yang dibawakan oleh imam masjid. Saya sangat malu, karena biasanya saya hanya memandang imam tanpa makna. Tak sepatah kata pun yang saya mengerti. Paling, hanya ucapan salam pembuka, dan salam penutup. Sungguh, saya ingin sekali kelak mengerti pesan-pesan yang imam sampaikan."

Mendengar kata-kata bersemangat itu saya semakin melihat sinaran mutiara di wajahnya. Benar-benar azzam yang luar biasa.

Dia melanjutkan, "Saya ingin kelak seperti Brüder Ayat, yang sudah hampir hafal Al-Quran. Setiap kali shalat, ayat-ayat yang dipakainya selalu berbeda. Walau saya baru memeluk Islam, sungguh, sangat berat sekali bagi saya untuk mencoba menghafal surat-surat pendek di Al-quran. Itu membuat saya cukup malu. Semoga kelak dengan bahasa Arab, saya tidak hanya punya bacaan shalat, tapi juga mengerti apa yang saya lafalkan."

Untaian kalimat itu, lagi-lagi, membuat saya terkesima. Dan teringat sebuah sms yang masuk 5 bulan yang lalu, dari Dietrich, seorang kawan Jerman yang juga baru masuk Islam. Sebuah kalimat dengan tiga tanda seru di belakangnya, "Brüder, saya sudah hafal Al-falaq!!!"

Sudah dua puluh tahun lebih saya hidup di lingkungan keluarga Islam. Namun ketika satu per satu ayat-ayat Al-Quran mengisi memori kepala saya, rasa-rasanya tidak pernah saya merasa terharu yang sangat, layaknya kegembiraan Daniel dan Dietrich.

*****

Setelah dengan sempurna sholat sunnah ba´da Isya. Dengan hangatnya pemuda itu tersenyum, dan menyalami makmum di sampingnya.
Pemuda berghamis dan berpeci putih itu adalah Daniel Ibrahim. Muallaf yang baru mengenal Islam dalam tempo tiga bulan. Sungguh, ia tidak hanya berubah, namun telah ia berkilau.

Sedangkan kita?
Ya Robbi, Ihdinassirotol mustaqiim...

--------------------------
Brüder : Saudara laki-laki. Dalam kaitan ini bermakna saudara seiman.
---------------------------

Darmstadt, 6 Ramadhan 1427 Sultan Haidar Shamlan sultanhaidar(dot)multiply(dot)com

Kisah Sahabat, Berhubungan Saat Puasa Ramadhan, Tidak Jadi Kena Kafarat Malah Dapat Kurma


Assalamu'alaikum wr. wb.

Pak Ustadz yang dirahmati Allah, kita tahu ada hadits dari Abi Hurairah ra. tentang seseorang mendatangi Nabi dan melaporkan bahwa dia telah celaka, menyetubuhi isterinya saat puasa Ramadhan kemudian oleh nabi orang tersebut diberi denda kaffarat namun karena ketidakmampuannya akhirnya Nabi memberinya kurma untuk dibagikan kepada keluarganya. Pertanyaan saya adalah:

  1. Bagaimana bila kondisi orang tersebut terjadi di zaman sekarang? Apakah kita boleh melaporkan kondisi kita kepada seorang ulama/umaroh dan melalui dialog seperti hadits tersebut akhirnya ulama itu memberi kita kurma/roti? Ataukah dalam hal ini yang berhak memberi keringanan hanya Nabi, sehingga tidak berlaku lagi sesudah peristiwa itu.
  2. Bagaimana pula jika hal ini terjadi di luar puasa Ramadhan (misal puasa Senin-Kamis) apa juga ada kaffaratnya?

Mohon penjelasan.

Jazakallohu khoiron katsiron.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Heri Setyadi
heristar at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada banyak perbedaan pandangan di kalangan ulama tentang kesimpulan hukum dari hadits ini. Bahkan di dalam kitab syarah hadits Bukhari, Fathul-bari, disebutkan bahwa ada ulama yang sampai menulis dua jilid buku yang isinya khusus membahas hadits tentang kaffarat berjima' pada bulan Ramadhan ini. Di dalamnya terdapat hingga 1001 faedah yang terkait.

Nash hadits itu sendiri adalah:

وعَنْ أَبي هُريرة رضي الله عنْهُ قال: جاءَ رجُلٌ إلى النبي صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم فقال: هَلَكْتُ يا رسول الله قال, "وما أَهْلَكك؟" قال: وقعْتُ على امرأَتي في رمضان فقال, "هلْ تَجدُ ما تُعتقُ رقبة؟" قال: لا، قال, "فهل تَسْتَطيعُ أَن تَصومَ شهرين مُتتابعين؟" قال: لا، قال, "فهل تَجدُ ما تُطعمُ ستِّين مسْكيناً؟" قال: لا، قال: ثمَّ جلس فأَتي النبي صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم بعَرَقٍ فيه تمرٌ فقال, "تَصَدَّقْ بهذا" فقال: أَعلى أَفْقَر مِنّا؟ فما بيْنَ لابَتَيها أَهل بيت أَحْوج منّا فَضَحك النّبيُّ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم حتى بدتْ أَنيابهُ، ثم قالَ, "اذهب فأَطعمهُ أَهلك" رواهُ السبّعة واللفظ لمسْلمٍ

Dari Abi Hurairah ra, bahwa seseorang mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, ”Celaka aku ya Rasulullah.” “Apa yang membuatmu celaka?“ Aku berhubungan seksual dengan isteriku di bulan Ramadhan.” Nabi bertanya, ”Apakah kamu punya uang untuk membebaskan budak? “ “Aku tidak punya.” “Apakah kamu sanggup puasa 2 bulan berturut-turut?””Tidak.” “Apakah kamu bisa memberi makan 60 orang fakir miskin?“”Tidak.” Kemudian duduk. Lalu dibawakan kepada Nabi sekeranjang kurma maka Nabi berkata, ”Ambillah kurma ini untuk kamu sedekahkan.” Orang itu menjawab lagi, ”Adakah orang yang lebih miskin dariku? Tidak lagi orang yang lebih membutuhkan di barat atau timur kecuali aku.” Maka Nabi SAW tertawa hingga terlihat giginya lalu bersabda, ”Bawalah kurma ini dan beri makan keluargamu.” (HR Bukhari: 1936, Muslim: 1111, Abu Daud 2390, Tirmizy 724, An-Nasai 3115 dan Ibnu Majah 1671).

Memang benar bahwa ada pendapat yang mengatakan bahwa keringanan itu hanya secara khusus dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sehingga orang lain tidak boleh memberikan keringangan seperti itu.

Namun pendapat ini dibantah dengan beberapa hal. Misalnya, bahwa secara baku setiap dalil itu berlaku untuk umum, kecuali ada illat tertentunya yang menjadikannya khusus.

Lagi pula kalau kita mengacu kepada hadits ini dengan riwayat yang shahih, nyata benar bahwa keringanan ini bukan bersifat tawar-menawar antara nabi SAW dengan shahabat itu.

Sebab Rasulullah SAW tidak dalam posisi menawarkan mau hukuman kaffarat yang mana. Namun beliau menanyakan kemampuan real shahahatnya itu. Sebab tidak mungkin membebani seorang yang miskin dengan kewajiban membebaskan budak. Sementara boleh jadi pelakunya sediri adalah budak.

Dalam hal ini siapa pun selain Rasulullah SAW bisa saja menjalankan pilihan-pilihan ini. Tidak dengan memulai dari yang paling ringan tentu saja, tetapi dari yang palin berat. Kalau faktanya yang bersangkutan memang tidak mampu, tentu tidak bisa dipaksakan.

Demikian juga dengan kaffarat berpuasa 2 bulan berturut-turut yang ternyata tidak mampu dilakukan, ternyata bukan pilihan melainkan kenyataan. Kenyataannya shahabat itu memang tidak mampu mengerjakannya, bukan karena malas atau ogah-ogahan.

Termasuk ketika tidak mampu juga untuk memberi makan 60 fakir miskin, itu bukan pilihan tetapi kenyataannya memang demikian. Bahkan tidak ada orang yang lebih miskin di Madinah dari shahabat tersebut.

Pada prinsipnya syariat Islam tidak akan membebani seseorang bila orang itu berada di luar kemampuan. Orang yang tidak punya harta, bagaimana mungkin diwajibkan bayar uang seharga budak? Bagaimana mungkin diminta untuk puasa 2 bulan berturut-turut, padahal dia memang nyata tidak mampu? Bagaimana mungkin diwajibkan memberi makan 60 fakir miskin, sementara dia adalah orang paling miskin di Madinah.

Dan di hari ini, bila memang terdapat kasus seperti di atas, tidak perlu sosok Rasulullah SAW untuk memutuskan, cukup para pewaris nabi yaitu para ulama yang mengajarkan. Dan aturannya sudah jelas sekali.

Kalau seseorang punya keluasan harta, dia tidak boleh memilih memberi makan 60 fakir miskin, tapi dia harus membebaskan budak. Bahkan kalau dia sangat kaya dan untuknya membebaskan budak hanya perkara sepele, maka dia harus berpuasa 2 bulan berturut-turut.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.