Senin, September 25, 2006

Hukum Bersetubuh di Waktu Sahur


Pak ustadz, kalau suami-isteri bersetubuh sebelum sahur dan melakukan mandi janabahnya setelah memasuki sholat subuh, apakah dibolehkan?

AR

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hubungan seksual diharamkan pada saat kita sedang dalam keadaan berpuasa. Bila hal itu dilakukan di dalam puasa Ramadhan, selain membatalkan puasa, juga pelakunya terkena kaffarat.

Makna kaffarat adalah denda karena pelanggaran kesucian bulan Ramadhan. Bentuknya ada tiga level. Pertama, diwajibkan untuk membebaskan budak. Kedua, diwajibkan untuk berpuasa 2 bulan berturut-turut. Ketiga, diwajibkan untuk memberi makan fakir miskin sejumlah 60 orang.

Namun bila hubungan suami-isteri itu dilakukan di luar jam-jam kewajiban puasa, walau beberapa menit menjelang waktu shubuh, atau beberapa menit setelah masuknya waktu Maghrib, hukumnya halal.

Karena batas waktu puasa sejak mulai masuknya waktu Shubuh, bukan imsak, hingga masuknya waktu Maghrib. Sedangkan di luar kedua waktu itu, tidak wajib puasa. Sehingga boleh saja bila melakukan hal-hal yang diharamkan saat berpuasa.

Dalilnya adalah firman Allah SWT:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS Al-Baqarah: 187)

Masalah mandi janabah yang anda tanyakan, sebenarnya tidak menjadi masalah. Sebab syarat puasa itu berbeda dengan syarat shalat. Kalau shalat membutuhkan syarat berupa kesucian dari hadats kecil dan hadats besar, maka ibadah puasa justru tidak mensyaratkan keduanya.

Sehingga boleh-boleh saja seorang yang sedang dalam keadaan berhadats besar (janabah) untuk berpuasa, dengan melewati waktu shubuh dalam keadaannya seperti itu. Dalam kata lain, seseoran yang belum mandi janabah lalu melewati waktu shubuh dalam keadaan itu, hukum puasanya tetap sah.

Tinggal yang harus dikerjakan adalah bahwa dia tetap wajib melakukan shalat shubuh. Dan shalat shubuhnya mensyaratkan kesucian dari hadats besar dan hadats kecil sekaligus. Sebelum waktu shubuhnya selesai, dia harus sudah mandi janabah dan selesai mengerjakan shalat shubuh.

Kebolehan masih melakkukan hubungan suami-isteri di saat-saat sahur ini juga harus dilakukan dengan hati-hati, serta dengan sangat memperhatikan masuknya waktu shubuh. Sebab bila keasyikan dan lupa waktu, lalu masih melakukannya padahal shubuh sudah masuk waktunya, maka akibatnya bukan hanya puasanya yang batal, tetapi juga terkena denda (kaffarat) yang lumayan berat. Karena itu pesan kami, boleh dilakukan tapi hati-hati dan ingat waktu.

Ingat bahwa anda melakukannya pada waktu injury time, jadi watch out!

Wallahu a'lam bishsawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Sedekah Cerdas



Siapa ingin doanya terkabul/dibebaskan dari kesulitan, hendaknya ia membantu/mengatasi kesulitan orang lain (HR. Ahmad).

Kepada siapa Anda memberikan sedekah kemarin? satu hari sebelum kemarin? satu pekan yang lalu? bagaimana dengan hari ini atau besok? kemana sedekah Anda disalurkan? Sekadar merata-rata jawaban yang mungkin keluar dari sederet pertanyaan di atas, pilihan pertama boleh jadi jatuh ke tangan anak-anak yatim, kemudian fakir miskin, janda, dan lansia berada di urutan berikutnya.

Salah satu kelebihan orang-orang yang sering bersedekah terletak pada keikhlasan. Mereka sangat percaya dan tak pernah mempertanyakan kemana dan kepada siapa sedekahnya berlabuh. Terkecuali bagi mereka yang lebih senang menyerahkannya langsung kepada penerima manfaat. Namun bagi para penyedekah yang meletakkan amanahnya di pundak para pengelola sedekah/infak, kepercayaan menjadi dasarnya.
Meski bukan berarti mereka yang tidak menyalurkannya lewat lembaga pengelola sedekah, dianggap tidak percaya kepada berbagai lembaga tersebut. Ini hanya soal `selera` masing-masing individu yang tidak boleh diganggu-gugat dan patut dihormati.

Yang perlu diingat, kepercayaan bukan berarti tak perlu tahu kemana sedekah Anda tersalurkan. Boleh saja setiap individu meminta penjelasan kepada siapa dan untuk apa sedekah yang disalurkannya tertuju. Bukan bermaksud mengabaikan prinsip keikhlasan, namun dalam bersedekah sebaiknya Anda tahu alamat sedekah tertuju. Seperti bunyi hadits di atas, ketika Anda ingin membantu mengatasi kesulitan orang lain, tahukah Anda siapa yang dimaksud orang lain itu? Siapa yang saat ini sedang mengalami kesulitan? mana yang lebih utama untuk diatasi terlebih dulu?

Mari coba kita petakan. Pertama, anak-anak yatim. Jelas mereka adalah hamba-hamba Allah yang senantiasa mengalami kesulitan selama mereka masih dalam usia berketergantungan dan belum memiliki kemampuan menghidupi diri sendiri. Mereka adalah titipan Allah kepada hamba lainnya yang mampu dan berkewajiban menafkahi anak-anak yatim. Kedua, fakir miskin. Mereka kaum lemah yang memerlukan uluran tangan, dengan tujuan agar mereka mampu berdiri dan mandiri. Ingat, konsepnya harus memberdayakan bukan membuat mereka terus menerus tidak berdaya. Sehingga bersedekah harus mentargetkan para penerima manfaat pada beberapa jenjang. Dari penerima meningkat menjadi tak lagi membutuhkan bantuan karena sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri. Tak sampai di situ, harus terus mendapatkan bimbingan agar status mereka juga meningkat menjadi pemberi sedekah. Jika semua penerima sedekah kelak akan menjadi penyedekah, indah nian negeri ini.

Golongan ketiga yang berhak mendapatkan sedekah, yakni para janda dan lansia. Keduanya nyaris memiliki persoalan yang sama, yakni kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi andalannya. Para janda yang kehilangan tulang punggung pencari nafkahnya, perlu mendapatkan bantuan agar ia terbebas dari kesulitan. Konsepnya tetap sama, yakni memberdayakan agar kelak mampu menjadi orang yang mandiri dan bisa menghidupi keluarganya tanpa perlu lagi menunggu bantuan orang lain. Sedangkan para lansia, mereka telah pula kehilangan masa produktifnya. Tenaganya tak lagi seperti dulu untuk bisa mencari rizki sendiri.

Golongan lainnya, adalah mereka yang bukan anak yatim, bukan fakir miskin, bukan pula janda atau lansia, namun tetap membutuhkan bantuan karena tengah mengalami kesulitan. Antara lain, orang-orang yang terlilit hutang dan orang-orang yang terkena musibah/bencana.

Bencana alam kerap terjadi di negeri ini, dan setiap bencana menyisakan kepedihan mendalam bagi para korban. Tak hanya lantaran kehilangan anggota keluarga yang dicintai, tetap status semi permanen yang berubah dalam sekejap. Pengusaha berubah menjadi orang yang tak punya apa-apa, dermawan yang tiba-tiba harus mengemis meminta bantuan, serta orang-orang yang biasa berkecukupan seketika sangat berkekurangan, untuk mendapatkan makan pagi pun menunggu jatah. Kehidupan pun berubah drastis, rumah mewah tersulap menjadi tenda darurat yang harus berbagi tempat dengan ribuan korban lainnya. Sungguh, para korban bencana juga sangat membutuhkan sedekah dari orang-orang yang tak terkena bencana.

Sejatinya mereka bukan orang-orang yang akan menjadi penerima bantuan terus menerus, asalkan sedekah Anda tetap tersalurkan untuk mereka. Selama masih ada orang-orang yang tetap peduli nasib mereka, para korban bencana itu akan segera terbebas dari status penerima bantuan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Karena, asal mereka adalah orang-orang yang kuat, mandiri, dan bahkan juga para dermawan.

Jika Anda senang bersedekah, dan mengalamatkannya kepada anak-anak yatim, fakir miskin, janda, langsia dan orang-orang yang tengah berada dalam kesulitan, maka bersedekahlah untuk para korban bencana. Karena di lokasi bencana juga terdapat orang-orang yang Anda cari alamat sedekah Anda. Anak yatim, fakir miskin, janda, lansia, orang-orang kesulitan karena tertimpa musibah, merekalah alamat sedekah Anda. Wallaahu` a`lam



Kerjasama Eramuslim dan Aksi Cepat Tanggap

Rekening :

BSM Warung Buncit No. 0030124084 a.n. Eramuslim - ACT
BCA Megamall Ciputat No. 6760303028 a.n. Aksi Cepat Tanggap - Eramuslim

Jumat, September 22, 2006

Akhir Sebuah Entitas Yang Bernama 'Israel'


Oleh: Abdul Wahhab al-Masiri

COMES: -Pada tanggal 17 Agustus 2006 lalu, saat terjadi perang Arab-'Israel' keenam dan ketika pesawat-pesawat tempur Zionis Israel meluluhlantakkan kota, desa dan infrastruktur Lebanon dengan menumpahkan darah warga sipil tak berdosa, harian 'Israel' Ma'ariv menurunkan sebuah tulisan yang ditulis wartawan Jonathan Shem dengan judul "Tel Aviv didirikan tahun 1909 dan di tahun 2009 akan menjadi puing-puing”.

Dalam tulisan itu disebutkan:"Seratus tahun lalu mereka mendirikan kota pertama Yahudi dan seratus tahun berikutnya, setelah mengurung diri, hilang dari peredaran." Apa yang membawa si penulis tersebut sampai berbicara tentang sebuah akhir, akhir 'Israel'. Padahal kekuatan militer Zionis Israel pada puncaknya, serta dukungan politik, dana dan militer tak terbatas dari AS? Bagaimana mungkin ia bisa menafsiri sikap seperti itu?

Sebagai awal tulisan ini harus kita sebutkan bahwa ada sebuah realita yang nyaris hilang di benak kebanyakan dunia Arab. Yaitu, soal akhir dari 'Israel' itu sudah mengakar dalam diri Zionis Israel. Sampai sebelum berdirinya entitas Zionis Israel itu sendiri, mayoritas kaum Zionis tahu bahwa rencana Zionisme adalah sebuah rencana yang mustahil dan mimpi kaum Zionis itu akan menjadi sebuah halayan belaka.

Pascaberdirinya entitas Zionis Israel dan para pemukim Yahudi mewujudkan 'kemenangan' atas militer Arab, mulai nyaring suara-suara akan berakhirnya entitas tersebut.

Di tahun 1954, Menteri Pertahanan dan Luar Negeri 'Isael' saat itu, Moshe Dayan, dihadapan jenazah temannya yang dibunuh oleh para pasukan berani mati Palestina mengatakan;"Kita harus siap dan bersenjata, kita harus kuat dan perkasa, agar jangan sampai pedang ini terlepas dari genggaman kita dan dunia akan berakhir."

Berakhir, adalah sebuah kata yang terpatri dalam benak mereka. Para korban yang mereka usir dari tanah air dan tempat tinggalnya, bersama-sama para keturunannya berubah menjadi pasukan berani mati yang mengetok pintu meminta tanah yang telah dirampas para penjajah tersebut.

Oleh karena itu, seorang penyair 'Israel' Chaem Gory memandang bahwa setiap orang 'Israel' dilahirkan "dan di dalamnya ada pisau yang akan menyembelihnya", "Tanah ini (yaitu 'Israel') tak habis-habisnya", selalu meminta tambahan tempat penggalian dan peti-peti mayat. Pada setiap kelahiran pasti ada kematian, dan setiap permulaan pasti ada akhirnya.

Sebuah cerita berjudul "Dalam menghadapi hutan" yang ditulis cerpenis 'Israel' Abraham Yahusha di pertengahan awal di tahun 60-an menceritakan tentang kejiwaan seorang pelajar 'Israel' yang ditugasi menunggu hutan yang diurus oleh Dana Moneter Nasional Yahudi di sebuah wilayah desa milik Arab yang disikat habis oleh orang-orang Yahudi Zionis bersama desa dan kota-kota lainnya.

Walau si penjaga hutan ini selalu bersenandung tentang persatuan, ia selalu menghadapi seorang Arab tua bisu salah seorang penduduk desa, bersama puterinya sedang merawat hutan. Lalu tumbuhlah hubungan cinta dan benci antara seorang Arab ini dengan orang 'Israel'. Si 'Israel' ini takut upaya balas dendam dari orang Arab yang menderita bersama keluarganya akibat pembersihan etnis yang dilakukan oleh Zionis Israel pada tahun 1948.

Akan tetapi walaupun dalam kondisi seperti itu, si penjaga hutan menemukan dirinya serba salah. Bahkan tanpa disadari, ia membantu orang tua itu menyalakan api di hutan tersebut.

Pada akhirnya, saat orang tua Arab itu berhasil menyalakan api di hutan, si penjaga melepaskan segala perasaan kejiwaannya dan merasakan ketenangan yang aneh setelah hutan itu ludes dibakar api. Yaitu, setelah akhir perjalanan 'Israel'!

Dalam pertemuan tertutup di Pusat Kajian Politik dan Strategi di Harian Al-Ahram, Mesir, seorang jendral Perancis, Andre Bauver, yang pernah memimpin pasukan Perancis dalam perang Segitiga melawan Mesir di tahun 1956, memberitahukan kepada kami sebuah peristiwa aneh. Dan itu ia saksikan sendiri.

Di akhir tahun 1967, ia pernah bertemu dengan Isaac Rabin, atau tepatnya beberapa hari usai perang enam hari melawan pasukan Arab. Ketika keduanya terbang di atas udara Gurun Sinai saat pasukan Zionis Israel pulang ke ‘negara’ nya dengan membawa kemenangan telak. Jendral Bauver menyampaikan ucapan selamat kepada Rabin atas kemenangan militernya. Namun ia terkejut saat Rabin mengatakan;”Tapi apakah ini semua akan kekal?” Ketika di puncak, sang jendral itu tahu tentang keniscayaan sebuah akhir perjalanan negara Yahudi itu.

Masalah akhir dari Zionis Israel ini, banyak yang tidak senang membahasnya di ‘Israel’. Namun hal ini terus memusingkan mereka saat terjadi krisis. Contoh saja, di saat terjadi Intifadhah tahun 1987, ketika konsensus Zionis tentang permukiman mulai berguguran, juru bicara pemukim Yahudi, Israel Harel mengingatkan bahwa jika nanti terjadi bentuk penarikan atau kompromi apapun (maksudnya penarikan pasukan sepihak). Maka itu tidak hanya berhenti di garis hijau (perbatasan 1948), sebab akan ada kemunduran spiritual yang akan bisa mengancam keberadaan negara itu sendiri (Jerusalem Post, 30 Januari 1988).

Ketua Majelis Regional Samera, Sharon (dalam perdebatan dengannya), “Jalan diplomasi ini adalah akhir dari permukiman Yahudi, itulah akhir dari ‘Israel’” (Ha’aretz 17 Januari 2002). Bahkan para pemukim Yahudi mengeluh-eluhkan bahwa penarikan dari Nablus itu berarti penarikan dari Tel Aviv.

Bersamaan dengan munculnya Intifadhah Al-Aqsha (Intifadhah jilid II) beberapa koran ‘Israel’ sering membahas soal akhir dari entitas Zionis Israel. Salah satunya, Yediot Aharonot (27/1/2002) menurunkan tulisan berjudul “Mereka membeli vila-vila di luar untuk antisipasi datangnya hari yang hitam”. Di hari dimana orang-orang ‘Israel’ itu tidak senang untuk memikirkannya, yaitu berakhirnya entitas Zionis Israel!

Tema itu juga muncul di dalam tulisan Ya’el Bazmelmad (Ma’ariv, 27/12/2001) yang memulai tulisannya dengan mengatakan;”Saya selalu berusaha untuk menjauhkan ide yang cukup merisaukan ini, namun selalu berada di benakku saat aku berpikir. Apakah akhir dari negara (‘Israel’) ini sama seperti berakhirnya gerakan permukiman?”

Gid’aun Eist meringkas sikap ini dengan ungkapannya, “Menangislah wahai ‘Israel’ (Yediot Aharonot, 29/1/2002).

Bahkan majalah Newsweek (2/4/2002) menurunkan edisinya dengan cover majalah bergambar bintang ‘Israel’ dan didalamnya ada sebuah pertanyaan berikut;”Masa depan ‘Israel’; bagaimana caranya bisa tetap kekal?” Untuk mempertegas maksud dari cover itu, majalah tersebut menuliskan; “Apakah negara Yahudi itu akan masih bisa hidup? Dengan jaminan apa? Dengan identitas apa?”

Tapi yang terpenting lagi adalah apa yang ditulis penulis ‘Israel’, Amos Allon yang mengatakan bahwa ia menegaskan di saat terjadi rasa pesimis khawatir kalau nanti sudah tidak ada lagi.” “Sudah saya katakan kepada Anda bahwa apa yang saya khawatirkan itu hanyalah separuhnya saja.” (yang separuhnya lagi bahwa masa itu benar-benar hilang).

Pembicaraan tentang berakhirnya riwayat entitas Zionis Israel, sering dibahas dalam tulisan Eitan Haber dengan judul “Malam bahagia wahai sang pesimis… dan duka menyelimuti ‘Israel’” (Yediot Aharonot, 11/11/2001). Penulis itu mengisyaratkan bahwa militer AS bersenjatakan peralatan militer yang modern. Namun semua masih ingat gambar atau foto heli-heli tempur AS terbang mengitari di udara kedubes AS di Saigon dalam upaya mengevakuasi orang AS dan para anteknya dalam suasana yang sangat mencekam, sampai matipun sudah terbayang. Pesawat helikopter adalah simbol kekalahan, penyerahan dan kabur dari musuh di saat yang tepat.

Kemudian sang penulis melanjutkan tulisannya dengan mengatakan;”Tentara invanteri di Vietnam Utara berhasil menghancurkan orang-orang bersenjata dengan persenjataan modern. Rahasianya adalah pada ruh (jiwa) yang mendorong para pejuang dan pemimpinnya itu untuk menang. Ruh disini artinya spiritual, kegigihan dan kesadaran akan kebenaran konsep serta perasaan akan tidak adanya pilihan yang lain. Dan ini yang tidak dimiliki oleh ‘Israel’ yang sekarang sedang dirundung duka.”

Penulis lain, Abraham Bourg dalam tulisannya (Yediot Aharonot, 29/8/2003) mengatakan bahwa “Akhir dari rencana Zionisme internasional sudah diambang pintu kegagalan. Di sana ada fenomena riil bahwa generasi kita ini adalah generasi terakhir dari Zionisme.”

Mungkin masih ada yang namanya negara Yahudi, tapi akan sangat berbeda sekali, aneh dan jelek. Karena negara ini kehilangan rasa keadilan yang mungkin bisa melanggengkannya. Bangunan struktural Zionisme internasional sudah mulai retak. Sama seperti tempat-tempat resepsi murah yang ada di Al-Quds (Jerusalem). Dimana sejumlah orang gila sedang asyik berdansa di lantai atas, sementara tiang-tiang di lantai bawah mulai goyah.”

Dengan tema yang baru, dalam tulisan Liron London (Yediot Aharonot, 27/11/2003) berjudul “Tanda-tanda kiamat sudah mulai dekat kepada negara ‘Israel’”. Dalam tulisan itu menyebutkan; “Dalam konferensi imunitas sosial yang dilaksanakan pada pekan ini, diketahui bahwa mayoritas orang ‘Israel’ mengeluhkan jika nantinya negara ini (‘Israel’) akan eksis setelah 30 tahun kemudian. Data yang menggegerkan ini menunjukkan bahwa tanda-tanda akhir zaman semakin dekat.

Saat Mahkamah Internasional memutuskan soal pembangunan tembok ‘rasis’ pemisah dan menyatakan illegal, maka mulailah awal dari akhir negara Yahudi itu dibicarakan.

Tentu sebuah pertanyaan dengan sendirinya akan muncul; kenapa bisa ada berita tentang akhir dari riwayat Zionisme yang mengusir orang-orang ‘Israel’ itu? Kita akan mendapatkan banyak penyebabnya. Tapi yang paling urgen adalah para pemukim Yahudi itu tahu bahwa disana ada sebuah hukum sosial yang berlaku pada semua kekuatan penjajah. Yaitu bahwa semua penjajah yang memberangus penduduk asli (seperti di Amerika Utara dan Australia) akan diberikan kekekalan. Sedangkan yang gagal memberangus penduduk asli (seperti kerajaan Inggris yang dikenal dengan pasukan Salib, Aljazair dan Afrika Selatan) akan berujung kepada kemusnahan.

Sementara para pemukim Yahudi sendiri tahu dengan baik bahwa penjajahannya di Palestina ini adalah model yang nomer dua (yang pasti musnah) dan tidak ada pengecualian dalam hukum itu. Orang-orang Zionis Israel tahu bahwa dirinya hidup di atas tanah yang pernah disinggahi kerajaan Inggris, yang berakhir pada kemusnahan.

Dan yang lebih mempertegas lagi adalah eksistensi Barat dan Zionis. Pada awalnya bersatu dengan rencana salibis dan rencana Zionis lalu saling bergandengan tangan. Floyd George, PM Inggris yang berkuasa saat keluarnya Deklarasi Balfour, secara tegas menyatakan bahwa Jendral Allenby yang memimpin pasukan Inggris menduduki Palestina, pada akhirnya berhasil memperoleh kemengan dengan kampanye salibisnya.

Atau bisa kita katakan bahwa rencana Zionisme adalah rencana Inggris itu sendiri setelah menjadi sekuler dan setelah SDM Yahudi dipermak, dinormalisasi dan disekulerasisi menggantikan SDM Kristen.

Oleh karena itu, para ilmuwan ‘Israel’ sedang mempelajari pilar-pilar SDM, ekonomi dan militer bagi entitas Inggris serta hubungan antara eksistensi ini dengan negeri yang didudukinya. Banyak peneliti Zionis Israel yang konses meneliti tentang problematika permukiman dan imigran yang dihadapi oleh entitas Inggris, serta mencoba memahami tentang faktor-faktor kegagalannya.

Kepeduliaan atau keseriusan ini tidak hanya pada kalangan akademisi saja. Para politisi pun, seperti Isaac Rabin dan Moshe Dayan juga konsen dengan masalah permukiman dan imigran. Pada bulan September 1970 Isaac Rabin mencoba melakukan perbandingan antara kerajaan Inggris dan ‘negara’ Zionis, dimana ia sampai pada satu kesimpulan bahwa bahaya utama yang mengancam ‘Israel’ adalah pembekuan imigran. Hal ini, menurut Rabin, yang akan menyebabkan matinya negara karena kurangnya pasokan darah segar dan baru didalamnya.

Seorang penulis ‘Israel’ lainnya, Jury Avnery dan mantan anggota parlemen ‘Israel’ Knesset adalah salah satu pemukim Yahudi yang tahu sejak awal akan gagalnya rencana Zionis dan mimpi mereka tersebut.

Oleh karena itu, sejak tahun 50-an majalah Haolam Hezza (Dunia Ini) diluncurkan oleh Avenry yang khusus melakukan kritik kepada politik dan kebijakan Zionis Israel. Sebelumnya juga, Avenry mengingatkan akan akhir kerajaan Inggris yang tidak menyisakan selain sejumlah kerusakan.

Avenry juga menerbitkan sebuah buku berjudul “Israel Tanpa Zionisme” (1968) didalamnya dilakukan perbandingan mendalam antara kerajaan Inggris dan negara Zionis Israel. Menurut perbandingan itu, ‘Israel’ seperti kerajaan Inggris yang dikepung secara militer karena tidak mempedulikan akan eksistensi Palestina dan menolak pengakuan bahwa ‘tanah yang dijanjikan’ itu sudah ditempati oleh bangsa Arab sejak ratusan tahun yang lalu.

Pada tahun 1983, Avenry kembali kepada tema yang sama, setelah perang Zionis Israel atas Lebanon. Dalam makalah di majalah Haolam Hezza dengan judul “Apa yang akan terjadi di akhir nanti?”, Avenry mengisyaratkan bahwa kerajaan Inggris menjajah tanah di atas bumi yang lebih luas dari tanah yang dijajah oleh negara Zionis Israel. Orang-orang Inggris itu mampu di segala hal kecuali hidup dalam perdamaian, karena solusi moderat dan hidup berdampingan secara damai merupakan keanehan pada pembentukan utama bagi gerakan Zionisme ini.

Ketika generasi baru meminta perdamaian maka semua upaya hilang secara cuma-cuma bersamaan dengan datangnya aliran baru dari para pemukim Yahudi. Hal ini menunjukkan betapa kerajaan Inggris tidak pernah menghilangkan watak kepemilikannya kepada permukiman.

Sampai pada lembaga militer dan ekonomi Inggris yang memainkan peran secara aktif dalam upaya menggulung upaya perdamaian, upaya ekspansi Inggris terus berlangsung selama satu generasi hingga dua generasi. Lalu kondisi galau meliputi mereka dan ketegangan antar Kristen Inggris di satu sisi dan para kader kelompok Kristen Timur di pihak lain. Hal inilah yang menyebabkan lemahnya masyarakat permukiman Inggris dan lemahnya dukungan dana serta SDM dari Barat.

Pada saat yang sama, gelombang baru Islam mulai menggeliat dengan munculnya gerakan menekan kepada kerajaan Inggris. Umat Islam menemukan jalan-jalan perdagangan alternatif yang menggantikan jalan-jalan yang biasa dijadikan singgahan Inggris. Setelah generasi pertama pemimpin kerajaan Inggris meninggal dunia, mereka digantikan oleh generasi yang lemah. Sedangkan umat Islam disirami oleh darah baru dari para pemimpin agung, mulai dari Sholahuddin Al-Ayyubi hingga Zaher Pebras. Perimbangan kekuatan sekarang berpihak kepada kekuatan selain Inggris. Oleh karena itu, tidak ada yang bisa menghentikan kekalahan yang dialami oleh kerajaan salib tersebut!

Hari ini, berita akan berakhirnya riwayat Zionis Israel kembali bergaung setelah perang keenam usai dan kehebatan perlawanan bangsa Lebanon menghadapi kebrutalan Zionis Israel.

Orang-orang Zionis Israel tahu batas kekuatannya dan mereka akan terus menuju kepada akhir riwayatnya. Sama seperti yang disampaikan oleh budayawan ‘Israel’ Shalomo Raikh “’Israel’ akan menelan kekalahan demi kekalahan hingga sampai kepada akhir riwayatnya yang pasti datang”.

Kemenangan-kemenangan militer itu tidak bisa mewujudkan apa-apa. Karena perlawanan jihad terus berlangsung yang akhirnya berakibat kepada apa yang disebut oleh sejarawan ‘Israel’ Jacob Talmun “Kemenangan yang mandul”. Wallahu a’alam bisshawab (Aljazeera.net/AMRais)

Jelang Ramadhan

Oleh Seriyawati


Persiapan menyambut tamu agung bulan suci Ramadhan sudah dimulai sejak bulan Sya'ban atau bulan Rajab. Malah para sahabat Rasulullah melakukan persiapan menjelang Ramadhan setengah tahun sebelumnya.

Di milis-milis yang saya ikuti pun banyak berseliweran email-email tentang Ramadhan. Kami saling unjuk kegembiraan dalam menyambut bulan yang dinanti-nantikan itu. Ramadhan, bulan yang penuh rahmat, ampunan lagi penuh kebahagiaan. Ganjaran pahala yang berlipat ganda diberikan kepada orang-orang yang beramal saleh.

Bulan Sya'ban adalah bulan di mana orang-orang sibuk. Sibuk memperbanyak amalan, membenahi diri, sibuk membenahi rumah lalu sibuk mempersiapkan mudik. Ada kesibukan lain lagi, yaitu membayar puasa (qadha) yang belum dilakukan dan memperbanyak puasa sunat.

Anas Bin Malik ra. berkata,' 'Ketika kaum Muslimin memasuki bulan Sya'ban, mereka sibuk membaca Alquran dan mengeluarkan zakat mal untuk membantu fakir miskin yang berpuasa.''

Selama 6 tahun tinggal di Jepang, baru sekali saya dan anak-anak merasakan berpuasa dan berlebaran di tanah air. Selebihnya puasa Ramadhan kami lalui di negeri yang minoritas pemeluk agama Islamnya. Sepi. Sedih dan sendiri. Perasaan itulah yang dominan mewarnai hari-hari pertama berpuasa. Tak ada suara bedug atau adzan Maghrib pertanda saat berbuka. Tak ada suara ramai anak-anak pergi sholat tarawih ke masjid. Apalagi lomba adzan anak-anak, belum ada. Riuh pikuk anak-anak, remaja putri dan ibu-ibu yang memakai mukena, tak ada. Hanya terlihat hilir mudik orang Jepang yang bergegas pulang atau pergi.

Menjelang bulan suci Ramadhan, banyak persiapan yang ingin dilakukan. Kesiapan fisik dan mental dicanangkan, amalan-amalan sunat pun dimemokan, surat-surat Al-Quran yang ingin dihapal pun dituliskan. Selain itu membenahi hapalan surat-surat pendek Al-Quran dan sibuk menuliskannya ke huruf Hiragana, agar anak-anak saya mudah menghapalkannya.

Menjauhkan mata dari pandangan yang diharamkan Allah, menyiapkannya untuk mencermati ayat-ayat Al-Quran.
Menyiapkan telinga untuk mendengarkan murottal Qur'an, untaian merdu ayat-ayat Allah dilantunkan dan menjauhkan telinga dari yang tak layak didengar.

Menyiapkan mulut untuk membaca Al-Quran dan berdzikir serta menjauhi dari berkata-kata tak bermanfaat apalagi membicarakan tentang orang lain, yang dengan itu tidak disukainya.
Menjaga tangan, kaki dan anggota badan agar terhindar dari melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah. Mempersiapkannya supaya tetap sehat dan kuat untuk melakukan ibadah sholat malam.

Menjauhkan hati dari pikiran-pikiran kotor dan prasangka buruk. Memenuhi hati dengan mengingat-NYA, merindukan-NYA dan harapan berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Janji Allah kepada orang-orang yang berpuasa adalah mereka akan bertemu dengan-Nya untuk menerima balasan puasanya itu. Dan janji Allah adalah pasti.

***

Di bulan Ramadhan amalan sunnah dihitung sebagai amalan fardhu, dan amalan fardhu diberi ganjaran 70 kali lipat. Puasa fiisabilillah akan dijauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 tahun.
Puasa Ramadhan akan memberi syafaat di yaumil akhir. Terbukanya pintu surga Ar-Rayyan bagi orang-orang yang berpuasa. Juga menghapus dosa-dosa yang lalu.

"Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain," sabda Rasulullah. Siapa yang tak tergiur dengan balasan sebesar itu?

Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib karomallahu wajhah berdiri dan berkata, "Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama pada bulan ini?" "Ya Abul Hasan, amal yang paling utama pada bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah Azza wa Jalla," jawab Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam. (HR Ibnu Khuzaiman, Ibnu Hibban dan Baihaqi).

Jelang Ramadhan dengan mengoptimalkan upaya, memotivasi diri melakukan banyak amalan-amalan selama bulan Ramadhan, yang penuh dengan kebaikan.

Menjelang bulan suci penuh berkah dan rahmat, kita ingin berada dalam keadaan hati yang jernih, ikhlas, lapang dan tenang.
Semoga kita jelang Ramadhan dengan kesiapan fisik yang kuat dan hati yang ikhlas, dan mendapatkan malam Lailatur Qadar, amiin.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin.

Wallahu'alam bisshowab.

Nagoya, Sept 2006 seri27@bintang7.net

Ziarah Kubur sebelum Puasa Ramadhan


Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

Ustaz, ma'af, saya langsung ke inti pertanyaan. Kapankah batasan waktu dan jam atau hari-hari yang baik yang dianjurkan untuk kita berziarah kubur seandainya misal 1 Ramadhan jatuh pada hari Sabtu tgl 23 September 2006?

Ada berbagai pendapat yang saya terima dan sepertinya saya belum puas sebelum Ustaz menjelaskannya berikut jika ada hadits-hadits pendukung tentang hal ini, juga pendapat masing-masing Imam Mazhab.

Billahi sabililhaq

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh,

Jhoni Wisma Wansyah
jwansyah at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sayang sekali ternyata kami tidak menemukan dalil yang menganjurkan waktu yang paling baik untuk berziarah kubur. Apalagi jika dikaitkan dengan kedatangan bulan Ramadhan. Yang ada hanyalah anjuran untuk berziarah kubur, karena mengingatkan kita kepada kematian. Tapi waktunya tidak pernah ditentukan. Jadi boleh kapan saja, tidak harus menjelang masuknya bulan Ramadhan.

Adapun kebiasaan yang sering kita saksikan di tengah masyarakat untuk berziarah kubur menjelang datangnya Ramadhan, kami yakin bahwa mereka melakukannya tanpa punya dalil yang eksplisit dari nabi SAW. Dalil yang mereka gunakan hanyalah dalil umum tentang anjuran berziarah kubur. Sedangkan dalil yang mengkhususkan ziarah kubur menjelang Ramadhan, paling tinggi hanya sekedar ijtihad. Itu pun masih sangat mungkin disanggah.

Beliau SAW tidak pernah menganjurkan secara tegas bahwa bila Ramadhan menjelang, silahkan kalian berziarah ke kuburan-kuburan. Atau kalau ke kuburan jangan lupa pakai pakaian hitam-hitam, dan juga jangan lupa bawa kembang buat ditaburkan. Sama sekali tidak ada nashnya, baik di Al-Quran maupun di Sunnah nabi-Nya.

Dan memang semua fenomena itu terjadi begitu saja, tanpa ada ulama yang memberian arahan dan penjelasan. Padahal masyarakat kita ini terkenal sangat agamis dan punya semangat besar untuk menjalankan agama. Sayangnya, mereka tidak punya akses untuk bertanya kepada para ulama syariah yang ahli di bidangnya.

Yang tersedia hanya para penceramah, da'i, atau ahli pidato yang digelembungkan namanya lewat media massa, sehingga sangat tenar bahkan masuk ke wilayah selebriti, tetapi sayangnya mereka kurang punya perhatian dalam masalah hukum Islam, apalagi sampai kepada kritik sanad hadits-hadits nabawi.

Ini perlu dipikirkan agar jangan sampai kejahilan di tengah umat ini terus-menerus terjadi, bahkan menjadi tradisi. Sudah waktunya bila umat ini punya akses kuat kepada para ulama ahli syariat, untuk meluruskan kembali kehidupan mereka sesuai dengan syariat Islam yang lurus. Jauh dari pola ikut-ikutan tanpa manhaj yang benar.

Namun sekedar mencaci dan mengumpat atau menuduh bahwa mereka itu ahli bid'ah, atau jahiliyah, atau tidak sejalan dengan manhaj ahli sunnah, tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan dalam banyak kasus, malah akan menimbulkan masalah.

Kita berharap proses pencerahan umat untuk mengenal syariah ini tidak terkotori dengan adab yang buruk, atau dengan sikap arogan, yang hanya akan membuat objek dakwah kita semakin menjauh. Yang dibutuhkan adalah pemberian pemahaman secara simpatik, cerdas, dan tetap menghargai serta tidak mempermalukan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.